sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Hasad

unduk | Akhlaq, Mimbar Jum'at | Wednesday, May 27th, 2009

Dosa hasad merupakan dosa yang pertama dilakukan iblis yang enggan tunduk memberi penghormatan kepada Adam as sehingga ia dikutuk Allah SWT. Sedang dosa yang pertama muncul di bumi ialah dosa yang dilakukan Qabil karena hasad kepada saudaranya sendiri yang bernama Habil. Habil dibunuh Qabil yang hasad karena iri akan nikmat yang diperoleh Habil yang qurbannya diterima Allah SWT.

Di dalam Al-Quran dikisahkan:

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurutyangsebenarnya, ketika keduanya memper-sembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
la berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”
Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya.
Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? ” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal

(QS. Al-Maidah[5]: 27-31).

Oleh karena itu, dalam QS. Al-Falaq [113] ayat 5 Allah S WT menginformasikan kepada kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Salah Urus

unduk | An-Natijah, Sosial, Taqwa, ekonomi | Thursday, May 21st, 2009
grafik emisi global

grafik emisi global

Sering kita dengar komentar, pendapat atau pernyataan: “Tahun ini tahun bencana. Tahun ini tahun sarat dengan peristiwa mengerikan dan lain-lain. Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu ?”

Padahal, berbagai komentar seperti itu (sebenarnya) sudah biasa kita dengar. Sepuluh tahun silam, lima tahun lalu, bahkan baru setahun yang lalu mungkin (boleh jadi) kejadiannya baru beberapa saat yang lalu. Komentar semacam itu, pendapat seperti itu, reaksi senada juga sering kita dengar. Kerapkali kita baca, bahkan hampir setiap hari dapat kita simak, baik lewar media cetak dan elektronik atau langsung mampir di telinga kita.

Bahkan bukan hanya berita tetapi berbagai bencana dan malapetaka yang terjadi itu seringkali kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Ironisnya bencana itu (kadang-kadang) tidak hanya menimpa orang-orang yang jahat, tetapi juga menimpa orang-orang baik (QS. Al-Anfaal:25).

Sebab-sebah Musibah

Sebenarnya, suatu musibah tidak akan terja di dunia ini,kecuali jika Allah SWT telah menetapkannya (QS. At-Taubah: 51). Alam ini telah direncanakan dan ditetapkan oleh Allah SWT bagus, tertib, teratur dan seimbang dengan aturan-aturan (hukum alam) yang telah diturunkan-Nya.

Ketidak-seimbangan pada alam menyebabkan terjadinya berbagai gejala tidak baik pada alam yang kita tempati ini. Penyebab ketidak-seimbangnya alam ini adalah manusia. Kepadanya (manusia) Allah SWT telah memberikan kedudukan mulia, yaitu sebagai khalifah (wakil) Allah SWT di bumi. Oleh karena itu manusia dipercaya mengelola, mengatur atau menata alam ini untuk keselamatan dan kebahagiaannya juga.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Menyegerakan Bersedekah

unduk | Ibadah, Sosial, ekonomi | Tuesday, May 19th, 2009
sedekah pake dolar

sedekah pake dolar

Jika mati seorang anak Adam maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang mendoakannya“. (HR Muslim)

Dari hadis di atas, banyak hikmah yang bisa dipetik tentang bekal untuk mati dan agar pahala kita terus mengalir meskipun telah meninggal dunia. Satu di antaranya adalah sedekah atau amal jariyah dalam arti luas.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya pahala orang Mukmin yang menyusul amalnya setelah dia meninggal dunia adalah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak-anak saleh yang dia tinggalkan, atau mushaf (Al-Quran) yang dia wariskan, atau masjid yang dia bangun, atau rumah yang dia bangun untuk para ibnu sabil, atau selokan yang dia alirkan untuk kepentingan umum, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya pada waktu sehat dalam hidupnya, akan menyusul amalnya sesudah matinya“. (HR Ibnu Majah)

Merujuk pesan Rasul tersebut, banyak hal yang bisa disedekahkan, seperti, mewariskan mushaf Al-Quran, membangun masjid, membangun rumah yatim piatu/tempat singgah untuk ibnu sabil, membangun fasilitas umum yang diperlukan, dan sedekah berupa harta yang dikeluarkan pada waktu sehat.

Di sini ada yang sangat perlu kita garis bawahi, yakni pentingnya mengeluarkan sedekah pada waktu sehat. Banyak orang yang berniat sedekah, tapi menunda hingga umur beranjak tua. Ada juga yang berniat sedekah, namun jika sudah mendekati ajalnya. Bahkan, ada yang berniat sedekah kalau dia sudah mati.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Hadiah

unduk | Mimbar Jum'at, Sosial | Sunday, May 17th, 2009
hadiah

hadiah

Seperti makna pepatah, bagaimanapun hati-hatinya kita menaruh piring di raknya, pastilah akan bersentuhan dengan piring yang lain. Seperti itulah kira-kira gambaran yang selalu terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, pastilah selalu saja ada kata-kata atau tingkah laku kita yang membuat orang lain tersinggung, kendati kita sudah berhati-hati untuk menjaga tutur kata dan tingkah laku.

Rasa tersinggung yang muncul, akibat kesalahan yang tidak disengaja itu jika tidak segera disikapi dengan baik, maka dia akan membesar, dan bisa-bisa menimbulkan rasa kecewa dan benci. Dan situasi yang demikian, akan dimanfaatkan dengan baik oleh setan untuk merusak tali persaudaraan dan kekerabatan. Sehingga, sesama mukmin akan saling balas marah, bahkan, dalam situasi tertentu, kebencian bisa terbawa-bawa sampai ke anak cucu. Rasulullah saw. bersabda, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan bencipun demikian” (HR. Bukhari).

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, sering terjadi dalam kehidupan kita. Misalnya yang berselisih paham adalah orang tuanya, tetapi si anak pun terkadang suka ikut-ikutan. Bahkan, ada pula orang tua yang memperingatkan anaknya untuk tidak berbaikan dengan orang tertentu karena orang tersebut telah menyakiti perasaannya. Sebaliknya jika yang berselisih adalah anak-anaknya, sering pula para orang tua turut ikut-ikutan.

Jika amarah diibaratkan dengan api, dan untuk memadamkannya haruslah disiram dengan air, maka perumpamaan yang tepat untuk adalah menjalin silaturrahim. Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang ditengah diselimuti kemarahan dan kebencian sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang, kebencian bisa luluh hanya dengan perhatian dan sapaan yang tulus.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Jerat Hutang

unduk | Mimbar Jum'at, Sosial, ekonomi | Thursday, May 14th, 2009
tragedi kartu kredit

tragedi kartu kredit

Hidup di zaman sekarang ini, nyaris setiap orang tidak terlepas dari hutang. Memang istilah “ngutang”, sekarang ini sudah tidak lagi populer, yang populer adalah istilah kredit atau menyicil, tapi itu juga sama saja dengan mengutang.

Boleh dibilang hampir setiap barang dapat dibeli dengan sistem kredit. Beli rumah, beli perabotan rumah, beli kendaraan, apalagi sekarang ini ada kartu yang bentuknya seperti KTP yang dikenal dengan nama kartu kredit, para pemilik kartu ini ketika berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan cukup dengan menggesekkannya, lalu tanda tangan, maka barang belanjaan sudah dapat dibawa pulang. Kita sudah sangat dimanja dengan kemudahan untuk berhutang.

Tidak tertutup kemungkinan seorang mukmin dapat terjebak dalam jerat-jerat hutang. Ketika berhadapan dengan masalah keuangan, memilih untuk berhutang menurut sebagian orang adalah solusi alternatif. Kendati demikian seorang mukmin harus mengetahui dan menyadarai bahwa berhutang mempunya efek mudharat (bahaya) yang luar biasa. Diantaranya adalah:

1. Dapat menjatuhkan harga diri

Harga diri seorang mukmin begjtu tinggi. Tak seorang pun yang mampu merendahkannya. Karena mukmin punya keterikatan dengan Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung.

Namun, kemuliaan itu kadang memudar manakala ada cacat dalam diri seorang mukmin. Diantara cacat itu adalah ketidak-berdayaan membayar hutang. Saat itu juga, terselip dalam diri seorang mukmin itu perasaan rendah dan hina. Bayang-bayang ketidak-mampuan itu menjadikan dirinya tak lagi berdaya di hadapan orang lain. Terutama dihadapan orang yang memberi hutang. la tak lagi mampu menangkis amarah, celaan, bahkan gugatan hukum sekali pun.
(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Orientasi Ibadah

unduk | Akhlaq, Ibadah, Taqwa | Tuesday, May 12th, 2009
orientasi

orientasi

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa tujuan diutusnya Rasulullah SAW kepada manusia hanyalah untuk memperbaiki akhlak. Demi tujuan inilah, Rasulullah SAW memperjuangkan Islam dengan berseru kepada manusia untuk berbuat yang baik (ma’ruf) dan melarang perbuatan keji (mungkar).

Shalat, zakat, puasa, dan haji hanyalah ritual ibadah wajib, namun sesungguhnya merupakan sarana menuju perbaikan akhlak sesuai misi Rasulullah SAW di atas. Maka, sungguh naif seorang Muslim yang sudah melaksanakan ibadah, tapi perilakunya masih jauh dari nilai-nilai islami.

Berbohong menjadi kebiasaannya. Bahkan, korupsi masih dianggap hal yang sepele. Keislamannya terlihat di dalam masjid. Di luar masjid, setelah melaksanakan shalat, nilai-nilai Islam itu mulai di tinggalkan.

Di sinilah masalahnya. Jika seorang Muslim tidak mempunyai orientasi yang jelas dari semua ibadah yang dilakukan, ia tidak akan pemah merasakan manisnya ibadah itu sendiri. Ia masih menganggap ibadah sebagai formalitas ritual semata. Kalau dikerjakan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan, ia mendapat dosa.

Allah SWT berfirman, “Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Nadziran

unduk | Akhlaq, An-Natijah, Sosial | Sunday, May 10th, 2009
ulama pakistan

ulama pakistan

Seorang muslim yang baik dan benar hidupnya akan jauh dari kesia-siaan. Hidup dan kehidupan seorang muslim adalah dalam rangka ibadah mengabdi kepada Allah SWT, pencipta alam semesta.

Selain itu seorang muslim pun dituntut dalam rangka mengemban suatu misi, Salah satu misinya adalah: Memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai dari kebenaran, berada dalam kemaksiatan (kedurhakaan) kepada Allah SWT, dan rasul-Nya.

Tugas (misi) ini sebagaimana termaktub di dalam firman-Nya: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi lampu yang menerangi “. (Al Ahzab: 45-46).

Dalam keseharian, kita selalu hidup bersama orang lain. Ada yang dengan ikatan hubungan darah, ada yang sebagai tetangga, ada lagi yang sebagai teman usaha, teman dalam beronganisasi, beribadah dan lain-lain.

Sebagai sesama hamba Allah SWT dan umat Nabi SAW, maka kita dituntut (diwajibkan) untuk melaksanakan misi hidup, yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, diantaranya Nadziran, memberi peringatan secara ikhlas (karena Allah) kepada orang-orang yang sedang lalai dari penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Setiap kali kita melihat seseorang melakukan kemungkaran, maka kita wajb menghentikannya dengan kekuatan (tangan), jika tidak bisa, maka kita wajib menghentikannya dengan kata-kata (nasihat), dan jika tidak bisa, kita masih dituntut menghentikannya dengan hati (doa), meskipun itu bentuk usaha (kadar iman) terlemah.



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Aroma Dosa

unduk | Akhlaq, An-Natijah, Taqwa | Friday, May 8th, 2009
aroma kurang sedap

aroma kurang sedap

Mohammad bin Wahsy, pernah berkata dalam muhasabahnya (perenungannya): “Seandainya dosa itu mempunyai aroma, tentu semua orang tidak akan senang duduk bersama saya“.

Bayangkan kalau dosa itu mempunyai aroma, maka semua orang tidak akan bisa hidup tenang, karena masih mencium bau busuknya. Apalagi efek sampingnya terhadap anggota tubuh kita, misalnya, ketika kita memakan hasil korupsi, lalu perut kita tiba-tiba buncit. Atau ketika kita selingkuh atau berzina lalu hidung kita menjadi belang, ketika mata kita suka melihat aurat wanita lalu mata kita tiba-tiba buta. Tentu semua orang tidak akan melakukan perbuatan dosa.

Tepatlah ucapan Imam Ghazali: “Dosa itu bagaikan debu yang menempel di kaca. Maka pandai-pandailah membersihkan kaca itu “. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya ” (QS. Asy-Syams: 9-10).

Kita bertambah yakin apabila hati kita bersih, Hati yang bersih akan memunculkan kedamaian, ketentraman, dan kesejukan. ltulah hati yang telah memperoleh percikan surga. Kalau situasi dan kondisi semacam itu telah terwujud dalam kehidupan sehari-hari, alangkah indahnya hidup.

Suasana kedamaian dan kasih sayang begitu terasa dalam kehidupan. Kehidupan keluarga (rumah tangga) penuh dengan nila-nilai kerukunan, di kantor (tempat kerja) pun telah tercipta suasana keharmonisan (kondusif), saling tegur sapa berlangsung sedemikian akrab, dengan tutur kata yang santun, sepanjang masa serasa berada di sebuah negara Baldatun toyyibatun warrabbun ghafur (Negara indah yang penuh dengan nilai-nilai keampunan dari Allah yang Maha Pengatur).
(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Mukhlish

unduk | Akhlaq, An-Natijah, Taqwa | Friday, May 8th, 2009
Al-Quran dan tasbih

Al-Quran dan tasbih

Mukhlish adalah kata yang terambil dari bahasa Arab, artinya tulus hati, jujur, (AW. Munawwir, Kamus al Munawwir, hl 360). Dalam bahasa lndonesia Mukhlish dapat pula dimaknai orang yang ikhlas (orang yang tulus hatinya dan jujur). Orang yang ikhlas pun diartikan lebih luas dengan orang yang mengharap keridhaan Allah SWT, beriman kepada-Nya dan selalu berbuat kebaikan karena Allah SWT.

Ciri-ciri Orang Ikhlas

Untuk mengetahui apakah kita termasuk orang yang ikhlas dapat dikenal melalui ciri-cirinya. Dalam Al-Qur’an telah disebutkan berbagai ciri orang ikhlas itu, antara lain:

Bersikap hati-hati karena Allah

Bersikap hati-hati karena Allah SWT, bukan berarti tidak dinamis, malas, apatis, lamban bekerja, setengah hati dalam berusaha atau menyesal menunggu takdir Tuhan. Tetapi hati-hati, di sini mengandung arti berusaha dengan giat, bekerja sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik sesuai keridhaan Allah SWT.

Hati-hati, takut melakukan kesalahan bukan karena adanya pengawasan manusia semata tetapi juga merasakan kehadiran Allah SWT. Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang. yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka ” (QS. Al Mukminun : 57).

Beriman Kepada Kitab Allah

Orang yang ikhlas akan berpegang teguh kepada ayat-ayat Allah. Sekarang ada kecenderungan, bahwa Al Qur’an hanya ditelaah dan dibaca oleh para ustadz, guru dan kyai. Sebagian umat Islam bila belum bisa baca Al Qur’an merasa sedih dan mereka terus belajar. Tetapi tidak jarang ada yangt idak merasa apa-apa bila belum bisa baca Al-Qur’an padahal sudah dewasa.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Berbuah Taqwa

unduk | Akhlaq, An-Natijah, Ibadah, Taqwa | Tuesday, May 5th, 2009
berbuah lebat

berbuah lebat

Taqwa adalah predikat orang beriman yg paling tinggi. Kearah inilah seluruh peribadatan ditujukan. Allah SWT sangat mencintai dan memuliakan orang-orang yang bertaqwa, dan akan menghadiahi mereka dengan balasan syurga di akhirat kelak.

Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga yang penuh kenikmatan ” (QS. Ath Thuur: 17).

Karena begitu mulia dan tingginya kedudukan taqwa ini, maka untuk mencapainya diperlukan kerja keras serta usaha yang sungguh-sungguh dan terus menerus sepanjang hayat.

Untuk menggapai status taqwa ini, Allah SWT telah menunjukkan jalan atau tuntunan dengan melaksanakan ibadah mahdhah, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lainnya, yaitu ibadah langsung dengan Allah SWT (hablun minallah), yaitu bertujuan untuk melatih atau mendidik yang bersih dan ikhlas, maka akhlak seseorang akan baik dan akan membuahkan amal-amal yang baik pula. Sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW:

Ketahuilah bahwasanya dalam jasad (manusia) ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka akan baiklah semua jasad manusia. Akan tetapi apabila segumpal daging itu rusak, maka akan rusaklah seluruh jasad manusia. Ketahuilah (oleh kalian), bahwa segumpal daging itu adalah qalbu ” (HR Muslim).

(lanjut …)






Next Page »