Mengukur Kebajikan

unduk | Akhlaq, An-Natijah, Ibadah, Taqwa, Tauhid | Thursday, July 2nd, 2009
penggaris

penggaris

Di dalam Al Qur’an (surat Al Baqarah ayat 177) ada ungkapan al Birr, artinya kebajikan. Lafal ayatnya adalah: Laisal birra an tuallu wujuuhakum qibalai masyrikqi wal maghrib (Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan).

Ayat ini turun sehubungan dengan sikap penduduk muslim di Madinah pada waktu itu. Mereka merasa sebagai orang-orang baik, sedangkan yang lain (non muslim) sebagai orang-orang yang tidak baik (sesat). Untuk menyadarkan penduduk Madinah yang telah bersikap salah itu, turunlah ayat ini.

Pengertian dan Sikap Keliru

Khalifah Umar ibnu al Khaththab pernah mengatakan: “Tidaklah dapat mengukur keimanan dan keislaman seseorang karena ia telah melaksanakan shalat, tidak juga karena ia telah berpuasa, tidak juga karena telah membayar zakat hartanya, dan tidak juga karena ia telah menunaikan ibadah haji. Akan tetapi keimanan dan keislaman seseorang harus terlihat pada kehidupannya sehari-hari “.

Adalah pernyataan dan sikap keliru jika seseorang yang telah melaksanakan shalat lalu dikatakan sebagai orang baik. Betapa banyak orang yang telah menjalankan ibadah shalat, baik shalat lima waktu (shalat fardhu) maupun shalat-shalat sunat akan tetapi (ternyata) ia masih suka berbohong, mengucapkan kata-kata kotor, suka menggosip, benci kepada seseorang, mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya (bukan hanya itu), bahkan ia juga terlibat kasus korupsi dan lain-lain.

(lanjut …)

Nazar

unduk | Al-Huda, Syariat | Thursday, June 25th, 2009

Pertanyaan :

Benarkah ustadz bahwa nazar itu hendaklah hal yang berkaitan dengan adanya sebab. Misalnya, karena anakku selamat dari kecelakaan kereta api, maka besok aku akan berpuasa. Benarkah, bahwa ucapan berpuasa yang demikian sudah merupakan nazar? Sehingga besoknya benar-benar wajib puasa, padahal dia tidak berniat untuk bernazar.

Sementara ucapan yang sama, misalnya saya mau berpuasa besok, tapi tidak ada sebabnya tidak dinamakan nazar. Sehingga tidak menyebabkan wajib puasa besok? Artinya tidak berpuasa juga tidak berdosa?

Sementara dalam contoh pertama hanya mengatakan begitu saja. Tapi tidak berniat nazar. Ataukah nazar itu perlu kepada niat? Jadi seseorang harus lengkap menyatakan : “Karena anak saya selamat dari kecelakaan kereta api, maka saya bernazar akan berpuasa besok”.

Jawaban :

Dari sudut kebahasaan, arti nazar adalah “janji untuk berbuat suatu perbuatan”. Baik janji untuk melakukan perbuatan buruk, ataupun janji untuk melakukan perbuatan baik.

Sementara disisi syara’ (syari’at), dimaksudkan dengan nazar adalah janji untuk melakukan suatu perbuatan baik. Serta tidak ada nazar untuk melakukan perbuatan buruk. Karena itu sepakat para ulama bahwa haram hukumnya melakukan nazar untuk melakukan suatu perbuatan buruk Karena nazar untuk melakukan perbuatan buruk itu adalah sesuatu yang haram maka wajibnya untuk tidak menunaikannya.

(lanjut …)

Keuntungan

unduk | Mimbar Jum'at, Sosial, ekonomi | Saturday, June 20th, 2009
uang banyak

uang banyak

Ciri kapitalis itu dua:

Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya.

Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional muslim:

Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.

Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya.

Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

(lanjut …)

Hakikat Neraka

unduk | Khairu Ummah | Sunday, June 14th, 2009
drag me to hell - the movie

drag me to hell - the movie

Secara harfiyah, neraka artinya api, yakni tempat siksaan dan balasan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah swt dan berbuat dosa dalam kehidupannya di dunia. Agar tumbuh ke dalam jiwa perasaan takut kepada neraka, menjadi penting bagi kita semua memahami hakikat neraka yang sesungguhnya, karena memang tidak ada yang bisa membahasakan dahsyatnya penderitaan di neraka, sebagaimana tidak ada yang bisa membahasakan kenikmatan surga.

Paling tidak, ada delapan hal yang harus kita perhatikan untuk memahami hakikat neraka.

1. Panas Yang Tidak Terkira.

Azab dan siksa Allah dalam kehidupan akhirat merupakan sesuatu yang sangat dahsyat dan tidak bisa dibayangkan sedikitpun, begitu juga sebenarnya kenikmatan yang diberikan Allah kepada penghuni surga. Salah satu gambaran yang dikemukakan Rasulullah saw dalam hadits tentang betapa dasyatnya siksa neraka adalah perbandingan panasnya api dunia dengan api di akhirat, beliau bersabda:

Apimu (yang kamu semua menyalakannya di dunia) ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya neraka jahanam, setiap bagian sama suhu panasnya dengan api di dunia ini (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

Karena begitu panasnya api neraka ini, ia berkobar dan mengelupaskan kulit kepala, sesuatu yang amat mengerikan sebagaimana firman-Nya: Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala (QS. Al-Ma’arij [70]: 15-16).

(lanjut …)

Berawal dari Rumah

unduk | Akhlaq, Mimbar Jum'at, Sosial | Thursday, June 11th, 2009
rumah

rumah

Kita semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kita pimpin. Mengingat itu, ada pelajaran sangat penting yang diajarkan Rasulullah SAW tentang kepemimpinan, “Sayyidul gaumi khadimuhum” (pimpinan suatu kaum adalah pelayan yang berkhidmat untuk kaumnya).

Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu menjadi tanda bahwa pemimpin tersebut mulia karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya.

Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak harta dan segenap kemampuannya. Dia bekerja lebih keras dan berpikir lebih kuat, lebih lama, dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Demikianla hpemimpin sejati yang dicontohkanNabi. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya.

Hal yang sangat menakjubkan adalah bertahannya pengaruh kepemimpinan Rasulullah hingga saat ini. Kita bisa melihat bahwa tidak ada satu pun kegiatan ritual di dunia ini seperti shalat dalam Islam. Ia wajib dilakukan sebanyak lima kali sehari.

Semuanya diawali dengan bersuci (berwudhu). Kemudian membuat barisan dengan tertib, dan seluruh dunia menggunakan bahasa yang sama serta arah yang terpusat, sehingga tidak pernah ada satu sisi dunia pun yang tidak bersujud. Semuanya bergiliran dan berlangsung terus-menerus, tanpa henti.

(lanjut …)

Kehidupan Rumah Tangga dimasa Menopause

unduk | Al-Huda | Sunday, June 7th, 2009

menopause

menopause


Pertanyaan :

Saya tujuh saudara, semuanya perempuan Saya adalah anak keempat, dan sekarang berumur 44 tahun dengan empat orang anak, yang tertua berumur 21 tahun, dan yang terkecil 12 tahun.

Kakak tertua saya berumur 50 tahun, keadaan rumah tangganya tiga tahun ter-akhir ini agak terganggu. Padahal dimasa sebelumnya rumah tangga mereka oke-oke saja Bahkan termasuk rumah tangga yang bahagia. Namun semenjak kakak mengalami menopausa ketika berumur 45 tahun, mulai terjadi kisruh kecil di dalam rumah tangga mereka.

Kakak merasakan bahwa suaminya berubah, yaitu berkurang kasih sayang dan perhatian kepada keluarga, khususnya kepada istri. Suami kakak dua tahun lebih tua dafi kakak, dan keadaannya sepertinya sangat sehat, bahkan menunjukkan aura dan dan tenaga yang masih sangat prima.

Hal inilah yang tampaknya menjadi sumber masalah, karena menurut kakak, dianya semenjak menjalani masa menopausa sudah kurang begitu bergairah dalam urusan seksuil, sementara suaminya masih sangat prima, Hal itu menyebabkan kakak agak kepayahan dan stres, akhir-akhir ini sen’ng sakit Ditambah lagi adanya kecurigaan kakak bahwa suaminya ada main dengan perempuan yang lebih muda, dan dikhawatirkan jangan-jangan suaminya diam-diam telah kawin rahasia.

(lanjut …)

Hasad

unduk | Akhlaq, Mimbar Jum'at | Wednesday, May 27th, 2009

Dosa hasad merupakan dosa yang pertama dilakukan iblis yang enggan tunduk memberi penghormatan kepada Adam as sehingga ia dikutuk Allah SWT. Sedang dosa yang pertama muncul di bumi ialah dosa yang dilakukan Qabil karena hasad kepada saudaranya sendiri yang bernama Habil. Habil dibunuh Qabil yang hasad karena iri akan nikmat yang diperoleh Habil yang qurbannya diterima Allah SWT.

Di dalam Al-Quran dikisahkan:

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurutyangsebenarnya, ketika keduanya memper-sembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
la berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”
Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya.
Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? ” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal

(QS. Al-Maidah[5]: 27-31).

Oleh karena itu, dalam QS. Al-Falaq [113] ayat 5 Allah S WT menginformasikan kepada kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad.

(lanjut …)

Salah Urus

unduk | An-Natijah, Sosial, Taqwa, ekonomi | Thursday, May 21st, 2009
grafik emisi global

grafik emisi global

Sering kita dengar komentar, pendapat atau pernyataan: “Tahun ini tahun bencana. Tahun ini tahun sarat dengan peristiwa mengerikan dan lain-lain. Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu ?”

Padahal, berbagai komentar seperti itu (sebenarnya) sudah biasa kita dengar. Sepuluh tahun silam, lima tahun lalu, bahkan baru setahun yang lalu mungkin (boleh jadi) kejadiannya baru beberapa saat yang lalu. Komentar semacam itu, pendapat seperti itu, reaksi senada juga sering kita dengar. Kerapkali kita baca, bahkan hampir setiap hari dapat kita simak, baik lewar media cetak dan elektronik atau langsung mampir di telinga kita.

Bahkan bukan hanya berita tetapi berbagai bencana dan malapetaka yang terjadi itu seringkali kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Ironisnya bencana itu (kadang-kadang) tidak hanya menimpa orang-orang yang jahat, tetapi juga menimpa orang-orang baik (QS. Al-Anfaal:25).

Sebab-sebah Musibah

Sebenarnya, suatu musibah tidak akan terja di dunia ini,kecuali jika Allah SWT telah menetapkannya (QS. At-Taubah: 51). Alam ini telah direncanakan dan ditetapkan oleh Allah SWT bagus, tertib, teratur dan seimbang dengan aturan-aturan (hukum alam) yang telah diturunkan-Nya.

Ketidak-seimbangan pada alam menyebabkan terjadinya berbagai gejala tidak baik pada alam yang kita tempati ini. Penyebab ketidak-seimbangnya alam ini adalah manusia. Kepadanya (manusia) Allah SWT telah memberikan kedudukan mulia, yaitu sebagai khalifah (wakil) Allah SWT di bumi. Oleh karena itu manusia dipercaya mengelola, mengatur atau menata alam ini untuk keselamatan dan kebahagiaannya juga.

(lanjut …)

Menyegerakan Bersedekah

unduk | Ibadah, Sosial, ekonomi | Tuesday, May 19th, 2009
sedekah pake dolar

sedekah pake dolar

Jika mati seorang anak Adam maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang mendoakannya“. (HR Muslim)

Dari hadis di atas, banyak hikmah yang bisa dipetik tentang bekal untuk mati dan agar pahala kita terus mengalir meskipun telah meninggal dunia. Satu di antaranya adalah sedekah atau amal jariyah dalam arti luas.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya pahala orang Mukmin yang menyusul amalnya setelah dia meninggal dunia adalah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak-anak saleh yang dia tinggalkan, atau mushaf (Al-Quran) yang dia wariskan, atau masjid yang dia bangun, atau rumah yang dia bangun untuk para ibnu sabil, atau selokan yang dia alirkan untuk kepentingan umum, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya pada waktu sehat dalam hidupnya, akan menyusul amalnya sesudah matinya“. (HR Ibnu Majah)

Merujuk pesan Rasul tersebut, banyak hal yang bisa disedekahkan, seperti, mewariskan mushaf Al-Quran, membangun masjid, membangun rumah yatim piatu/tempat singgah untuk ibnu sabil, membangun fasilitas umum yang diperlukan, dan sedekah berupa harta yang dikeluarkan pada waktu sehat.

Di sini ada yang sangat perlu kita garis bawahi, yakni pentingnya mengeluarkan sedekah pada waktu sehat. Banyak orang yang berniat sedekah, tapi menunda hingga umur beranjak tua. Ada juga yang berniat sedekah, namun jika sudah mendekati ajalnya. Bahkan, ada yang berniat sedekah kalau dia sudah mati.

(lanjut …)

Hadiah

unduk | Mimbar Jum'at, Sosial | Sunday, May 17th, 2009
hadiah

hadiah

Seperti makna pepatah, bagaimanapun hati-hatinya kita menaruh piring di raknya, pastilah akan bersentuhan dengan piring yang lain. Seperti itulah kira-kira gambaran yang selalu terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, pastilah selalu saja ada kata-kata atau tingkah laku kita yang membuat orang lain tersinggung, kendati kita sudah berhati-hati untuk menjaga tutur kata dan tingkah laku.

Rasa tersinggung yang muncul, akibat kesalahan yang tidak disengaja itu jika tidak segera disikapi dengan baik, maka dia akan membesar, dan bisa-bisa menimbulkan rasa kecewa dan benci. Dan situasi yang demikian, akan dimanfaatkan dengan baik oleh setan untuk merusak tali persaudaraan dan kekerabatan. Sehingga, sesama mukmin akan saling balas marah, bahkan, dalam situasi tertentu, kebencian bisa terbawa-bawa sampai ke anak cucu. Rasulullah saw. bersabda, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan bencipun demikian” (HR. Bukhari).

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, sering terjadi dalam kehidupan kita. Misalnya yang berselisih paham adalah orang tuanya, tetapi si anak pun terkadang suka ikut-ikutan. Bahkan, ada pula orang tua yang memperingatkan anaknya untuk tidak berbaikan dengan orang tertentu karena orang tersebut telah menyakiti perasaannya. Sebaliknya jika yang berselisih adalah anak-anaknya, sering pula para orang tua turut ikut-ikutan.

Jika amarah diibaratkan dengan api, dan untuk memadamkannya haruslah disiram dengan air, maka perumpamaan yang tepat untuk adalah menjalin silaturrahim. Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang ditengah diselimuti kemarahan dan kebencian sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang, kebencian bisa luluh hanya dengan perhatian dan sapaan yang tulus.

(lanjut …)

Pulsa Bisa GRATIS dan Bikin KAYA!

Next Page »