Meminta Maaf

unduk | Akhlaq, Sosial | Thursday, March 18th, 2010
minta maaf

minta maaf

Pernahkah kita meminta maaf kepada anak-anak sendiri? Jika dilakukan jajak pendapat, rasa-rasanya yang menjawab “Ya” hanya sedikit.

Mungkin sebagian besar masyarakat kita malah akan terheran-heran kalau ada yang bertanya demikian kepadanya, karena bagaimana mungkin orang tua meminta maaf kepada anaknya.

Ada satu hal yang menarik perhatian dalam suatu acara akad nikah. Yaitu pada saat seorang ayah memberikan sambutan dan nasehat untuk putrinya, “Saya atas nama ayahmu dan juga atas nama ibumu dengan ini mengikhlashkan dan merestui pemikahan ananda. Sebagai orang tua, kami meminta maaf kepada ananda atas segala kekurangan dan kesalahan yang telah kami perbuat selama mendidik dan mengasuhmu sejak kecil hingga saat menyerahkan tanggungjawab itu kepada suamimu”.

Yang hadir dan menyaksikan peristiwa tersebut tampak terpukau dan terbawa perasaan mendengar ucapan sang ayah kepada putrinya yang saat itu baru saja melangsungkan akad nikah. Sambil mengalirkan air mata sang ayah dan ibu mengantarkan putrinya ke pelaminan.

(lanjut …)



Kaya Untuk Miskin

unduk | Sosial, ekonomi | Saturday, March 13th, 2010
banyak duit

banyak duit

Jika kau ingin menemuiku, carilah aku di tengah-tengah orang miskin,” kata Nabi Muhammad SAW. Dan beliau wafat dengan meninggalkan utang gadai baju besi kepada seorang yahudi.

Wasiat Rasulullah itulah yang membuat Shalahuddin Al Ayyubi memilih miskin hingga akhir hayat. Pada 1193, Sang Penakluk Aqsha (1192), meninggal dunia.

Ketika peti harta warisan Shalahuddin dibuka, isinya nyaris kosong. Bahkan sekadar untuk biaya pemakamannya pun tak cukup. Gaji, bagian ghanimah maupun fa’i yang diterima Jendral Shalahuddin semasa hidupnya, habis dibagikan kepada kaum dhuafa.

Demikianlah, Sholahuddin Al Ayyubi adalah Orang Kaya yang Kaya. Seperti dikatakan Rasulullah: Bukanlah orang kaya itu yang banyak harta-benda, tapi sejatinya orang kaya adalah yang kaya jiwanya (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

(lanjut …)



Masih Bolehkah Kita Tidak Bersyukur Kepada Allah?

unduk | Taqwa, Tauhid | Friday, March 12th, 2010
bersyukur

bersyukur

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang ” (QS. An Nahl: 18)

Ketika kita kecil, di musholla kecil yang mungkin tempat kita pertama belajar mengaji, selalu diajarkan oleh guru kita, betapa nikmat yang diberikan Allah begitu besar. Dari bentuk tubuh kita yang sempurna sampai kemampuan kita untuk bisa belajar. Itu semua adalah karunia Allah yang harus disyukuri.

Bilamana tangan kita berfungsi dengan baik, kaki, mata, hidung, mulut, telinga, semua adalah pemberian Allah yang tidak bisa kita balas dengan apapun. Termasuk kehidupan yang kita jalani adalah kemurahan Allah pada makhluk-Nya.

Ketika kita berada di lingkungan keluarga yang lengkap, diberi istri atau suami yang selalu menenteramkan hati, diberi anak-anak yang menggembirakan, diberi orang tua yang menyayangi kita. Ini semua juga bentuk kasih sayang Allah pada manusia.

(lanjut …)



Melepaskan Diri dari Kehinaan dan Kemiskinan

unduk | Sosial | Friday, March 5th, 2010
anak miskin

anak miskin

Sebagaimana telah sama-sama kita yakini bahwa Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya tanggung jawab sosial kemasyarakatan, di samping penguatan hubungan dengan Allah SWT.

Sebab, pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri, akan tetapi harus saling mengenal, berinteraksi, berhubungan, dan saling menolong antara yang satu dan lainnya.

Karena itu, refleksi dan manifestasi keimanan seseorang terletak pada dua aspek utama, yaitu ketundukan dan kepatuhan pada aturan Allah SWT serta keharmonisan hubungan sosial dengan sesama manusia.

Kedua kekuatan hubungan yang bersifat vertikal dan horizontal inilah yang akan melepaskan manusia dari kehinaan dan kemiskinan.

Allah SWT berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah…” (QS Ali Imran [3]:112).

(lanjut …)



Menggapai Ketenangan Hidup

unduk | Taqwa, Tauhid | Thursday, February 25th, 2010
selalu ingat kepada Allah

selalu ingat kepada Allah

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ” (QS Ibrahim : 7).

Rasulullah saw bersabda : “Orang dermawan, dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan syurga, sedangkan orang bakhil (pelit), jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka. Sungguh Allah SWT lebih mencintai hambanya yang bodoh tapi dermawan, dibandingkan dengan ahli ibadah (pandai) tapi pelit (bakhil) ” (Al Hadits-Riwayat Abu Hurairah).

Rasulullah saw bersabda: “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, Kalian tidak akan tersesat bila kalian berpegang teguh kepadanya yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadits)“. (HR Muslim).

Hidup ini memang seperti pergantian siang dan malam. Siang dengan ciri khasnya terang dan malam dengan ciri khasnya gelap. Bagi orang yang sudah tahu ilmunya, tentu tidak ada masalah dengan pergantian siang dan malam.

(lanjut …)



Harta

unduk | Akhlaq, Sosial, ekonomi | Tuesday, February 23rd, 2010
harta

harta

Sewaktu Rasulullah baru saja berhijrah ke Yatsrib (Madinah), setelah melak-sanakan sholat Jum’at berjamaah, beliau menyampaikan pidato di hadapan jamaah kaum muslimin, dalam pidatonya antara lain beliau mengatakan:

Maka barang siapa yang dapat memelihara mukanya (menyelamatkan dirinya) dari (siksa) api. nereka, meskipun hanya dengan sebutir buah korma, maka hendaklah ia lakukan. Dan barang siapa yang tidak mendapatkan (buah korma), maka hendaklah dengan kata-kata yang baik“.

Perkataan beliau tersebut mengandung pesan bahwa kebajikan itu adalah sebagai upaya memelihara diri dari siksa api nereka. Tidak dipermasalahkan berapa banyaknya dan tidak pula dipersoalkan apakah dalam bentuk materi ataukah bukan.

(lanjut …)



Efektifkan Dakwah Ditengah Kemajuan Zaman

unduk | Sosial, Uncategorized | Wednesday, February 17th, 2010
dai sejuta umat

dai sejuta umat

Dakwah menjadi langkah penting dalam penyebaran ajaran Islam. Ini terkait dengan bagaimana umat Islam mampu memahami ajarannya dan melaksanakannya dalam laku kehidupan sehari-hari. Meski jalan dakwah memang tak semudah yang dibayangkan.

Jalan dakwah mesti ditempuh dengan cara-cara yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Lalu apa sebenarnya dakwah itu dan bagaimana pula dakwah itu harus dilakukan.

mengenai hal ihwal dakwah: Dakwah merupakan proses untuk mengubah kehidupan manusia atau masyarakat dari yang tidak Islami ke kehidupan yang Islami. Bagi yang belum Islam diajak menjadi Muslim dan bagi mereka yang telah Islam diajak untuk menyempumakan kelslamannya.

Dalam praktiknya, dakwah itu mestinya dilakukan tak sebatas penyampaian yang dilakukan dari mulut ke telinga. Namun, harusnya dakwah itu dari hati ke hati.

(lanjut …)



Memilih Esok di Hari Ini

unduk | Akhlaq, Sosial | Sunday, February 14th, 2010
memilih esok

memilih esok

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok….” (QS. Al-Hasyr: 18)

Bersyukurlah orang-orang yang beriman. Hidupnya begitu mudah, tenang, dan membahagiakan. Kesulitan-kesulitan hidup, tak lebih hanya kerikil-kerikil ujian yang sesekali mengguncang jalan.

Kadang terasa kecil, dan tak jarang lumayan besar. Besar kecil guncangan sangat berbanding lurus dari bagaimana teknik kesiapan diri menghadapi jalan hidup.

Di antara teknik kesiapan itu adalah kemampuan kita menata hari esok. Hidup perlu perencanaan. Kitalah yang menyiapkan, apa warna hari esok. Kelak, Allah-lah yang menentukan, apa warna yang cocok buat kita.

(lanjut …)



Menegakkan Hukum dan Keadilan menurut Syariat Allah SWT

unduk | Uncategorized | Wednesday, February 10th, 2010
keadilan

keadilan

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Hal itu ditegaskan dalam al-Qur’an; “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? ” (QS. Al-Maidah, 5:50) .

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman; “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dariperbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (an-Nahl; 90)

Dalam ayat lain ditegaskan agar keadilan tetap ditegakkan dengan melawan segala kecenderungan menyimpang yang disebabkan oleh kebencian atau sebab-sebab lainnya.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebendanmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidakadil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekatkepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (al-Maidah 5:8)

(lanjut …)



Waladun Shaleh

unduk | Akhlaq, Mimbar Jum'at, Parenting, Sosial | Friday, January 29th, 2010
santri cilik belajar komputer

santri cilik belajar komputer

Anak dalam bahasa Arab disebut waladun, suatu kata yang mengandung penghormatan sebagai makhluk Allah yang tengah menempuh perkembangan menjadi abdi Allah yang shaleh.

Anak menurut ajaran Islam adalah amanah Allah yang dititipkan kepada orang tuanya. Amanah tersebut menuntut adanya keharusan orang tua menghadapi dan memperlakukannya dengan sungguh-sungguh, hati-hati, teliti dan cermat. Sebagai amanah anak harus dijaga, dibimbing dan diarahkan selaras dengan apa yang diamanahkan.

Memandang anak dalam kaitan dengan pase perkembangan membawa arti bahwa,

  1. Anak diberikan tempat khusus yang berbeda dunia dan kehidupannya dengan orang dewasa,
  2. Anak memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dari orang dewasa dan para pendidiknya. Oleh sebab itu, Islam memandang anak secara riil dan lebih professional. Artinya kehidupan anak tidak boleh dilepaskan dari dunianya serta berbagai dimensinya.

(lanjut …)






Next Page »