Status Perkawinan Mualaf

Al-Huda,Sosial,Syariat | Tuesday, April 28th, 2009
mualaf

mualaf

Pertanyaan :

Alhamdulillah, seorang pejabat senior dikantor kami (berumur 46 tahun) mendapat hidayah Allah SWT dengan menjadi pemeluk agama Islam. Hal itu benar-benar merupakan suatu kejutan dan berita luar biasa bagi kami.

Karena tidak ada orang yang secara spesial menggarapnya untuk tahu dan tertarik kepada agama Islam Karena kami sendiri adalah pemeluk-pemeluk agama Islam biasa, dengan pengetahuan agama dan kealiman agama yang rata-rata sangat kurang, dan rasanya suasana dakwah di kantor kami adalah biasa-biasa saja sehingga tidak ada diantara kami yang melakukan tugas dakwah mengajak dan menyeru non muslim kedalam agama Islam.

Masuknya beliau ke agama Islam, tampaknya lebih banyak dari usahanya sendiri dalam mempelajari agama Islam yang dibandingkan dengan agama yang dia anut, dan juga tampaknya juga dengan beberapa agama lainnya. Yang akhirnya membawa beliau mengucapkan dua kalimat sahadat.

Yang menjadi pembicaraan diantara kami atas kejadian tersebut ada beberapa hal. Yaitu pertama mengenai status perkawinannya bagaimana? Karena yang masuk agama Islam hanya beliau sendiri saja sementara isteri dan anak-anaknya tetap dalam agama mereka yang bukan agama Islam.

Orang tuanya sendiri yang tinggal serumah dengari beliau tampaknya marah dan tidak merestui. Begitu pula anak-anaknya (ada 4 orang) tampaknya tidak mau mengikuti jejak ayahnya. Isterinya hanya diam saja. Tidak memberikan respon apapun. Tapi, tampaknya hubungan suami isteri mereka masih berjalan sebagaimana biasa sebelum beliau memeluk agama Islam.

(lanjut …)



Kemunduran Umat Islam

Indah Mulya,Taqwa | Saturday, April 25th, 2009
anak yatim afghanistan

anak yatim afghanistan

Sinyalemen kemunduran umat Islam pada saat ini sangat tepat dan sangat beralasan, karena kondisi umat Islam sampai hari ini belum bisa tampil sebagai umat yang terbaik sebagaimana yang pernah ditampilkan oleh generasi terdahulu sebelum kita.

Padahal kalau kita kembali kepada Al Qur’an bahwa Allah SWT mewariskan kepemimpinan di muka bumi ini hanyalah diserahkan Allah kepada umat Islam dan orang-orang yang shaleh. “Sungguh telah Kami catat sejak dari dalam Taurat, bahwasanya kepemimpinan di muka bumi ini hanya diserahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh“.

Tidak boleh kepemimpinan di muka bumi ini diserahkan kepada orang-orang kafir, karena jika dipimpim oleh orang-orang kafir akan merusak, mengalami kehancuran dan pertumpahan darah dimana-mana.

Namun sayang kepemimpinan yang diwariskan yang semestinya kepada umat Islam itu sampai hari ini belum kita raih justru kita melihat adanya kemunduran umat Islam yang semakin menjadi-jadi dan sangat sulit untuk bangkit. Kalau kita baca dalam sejarah dahulu 7 abad lebih umat Islam pernah tampil untuk memimpin dunia, dimulai abad pertama sampai menjelang pertengahan abad 8 Hijriah.

Masa kejayaan Islam dulu yang mendapat julukan “khoiru ummah”, umat yang terbaik. Di dalam Al qur’an surat Ali Imran ayat 110 menjelaskan tentang umat yang terbaik dengan melakukan amal ma’ruf dan mencegah yang munkar. Kamu dahulu tampil sebagai umat yang terbaik dan generasi yang pertama itu mendapatkan gelar khairu ummah, karena memang mereka di dalam beragama Islam ini ada penyerahan yang total. Apa yang telah diamanahkan oleh Rasulullah SAW kepada mereka tidak ada yang diabaikan.

(lanjut …)



Bergerak Dinamis

Akhlaq,Sosial | Wednesday, April 22nd, 2009
tari api

tari api

Kehidupan manusia ditandai dengan detak jantungnya. Kehidupan akan dinyatakan berakhir ketika seluruh mesin tubuh, detak jantung, dan otak berhenti bekerja. Status kehidupan pun berakhir karena telah divonis dengan kematian.

Seperti itulah Allah SWT menciptakan gerakan sebagai tanda kehidupan, dan diam adalah tanda kematian. “Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri“. (QS Al kahfi [18]: 18).

Firman Allah SWT ini menyatakan tanda-tanda kehidupan penghuni gua Kahfi adalah dengan gerakannya ke kanan dan ke kiri. Sedangkan orang yang mati, tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Allah SWT menawarkan dua pilihan terhadap manusia dengan ciri yang berbeda antara keduanya.

Pertama, bergerak. Pergerakan menjadi suatu yang mutlak bagi manusia untuk bisa menjadi orang yang sukses, baik di dunia maupun akhirat. Tanpa bergerak mustahil manusia bisa menggapainya.

Kedua, diam. Berdiam diri merupakan suatu tanda kegagalan yang dapat berakibat penyesalan dan kerugian manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Betapa sering kita lihat orang yang gagal adalah karena banyak diamnya. Cenderung malas berusaha dan tidak bekerja keras menjadi ciri dari orang yang diam.

Sebagaimana air menggenang yang tidak mengalir, adalah air yang kotor dan jentik-jentik pun berkembang biak. Allah SWT memberikan sifat pergerakan air sungai yang ada di dalam surga dengan sebutan mengalir yang tiada berubah rasa dan baunya, seperti termaktub dalam firman-Nya.

(lanjut …)



Usaha dan Doa

Ibadah,Mimbar Jum'at,Taqwa,Tauhid | Sunday, April 19th, 2009
berdoa di tempat kerja

berdoa di tempat kerja

Di dalam kehidupan umat, doa adalah tumpuan hidup sehari-hari, maka tidak sedikit yang menjadikan doa itu sebagai gantungan dalam hidupnya. Hal ini dapat kita lihat dan kita rasakan di saat seseorang atau sekelompok orang akan memulai suatu usaha atau pekerjaan, hati mereka secara spontanitas langsung berbisik, semoga Tuhan memberikan kemudahan serta keberhasilan sebagaimana yang mereka harapkan.

Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan peranan do’a dalam kehidupan manusia di dunia ini. Hal ini diakui oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Doa itu adalah mukhul (penggerak) ibadah (kegiatan hidup setiap manusia)“.

Berdasarkan petunjuk di atas, maka doa dapat kita simpulkan ke dalam dua kerangka, Pertama, mengikuti sunnah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan kerangka kedua adalah doa itu suatu cita-cita hidup bagi yang berdoa.

Dalam upaya pembentukan pribadi yang kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai peristiwa yang sulit, dan rintangan-rintangan yang sukar diatasi, maka doa dan iman merupakan benteng yang kokoh dan kuat untuk mengatasinya.

Dengan demikian pribadi seseorang tidak mudah menjadi ambruk, akan tetapi dapat bergerak secara sadar dan tetap berpijak pada kaidah-kaidah kebenaran dan nilai-nilai moral. Demikian janji Allah kepada orang-orang yang selalu mengkikuti petunjuk-petunjuk-Nya dan bersabar (QS. Al-Maidah [5]: 69, QS. Ali Imran [3]: 120, QS. Al-Ahqaf [46]: 13).

(lanjut …)



Maha Menjamin Rezeki

An-Natijah,ekonomi,Sosial,Taqwa | Thursday, April 16th, 2009
pasar pagi

pasar pagi

Menurut sebuah riwayat, suatu hari Nabi Sulaiman AS ingin mengetahui bagaimana Allah SWT memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya di dunia ini. Sehingga untuk membuktikannya ia bertanya kepada seekor semut, seberapa banyak Allah SWT memberikan rezeki kepada semut dalam satu tahun. Semut menjawab bahwa ia memperoleh rezeki sebesar sekepalan tangan sang Nabi.

Mengetahui hanya sebesar itu tezeki yang diperoleh semut tersebut, rasanya sangat mudah bagi Nabi Sulaiman AS untuk memberikannya. Sehingga kemudian Nabi Sulaiman AS membuat kesepakatan dengan semut untuk mau masuk ke dalam botol yang telah diisi dengan makanan sekepalan tangan Nabi Sulaiman AS, dan semut setuju.

Maka botol pun ditutup rapat. Setahun kemudian Nabi Sulaiman AS datang kembali kepada semut, ketika ia membuka botol tersebut ternyata didapatmya semut hanya memakan sebagian saja dari makanan tersebut Nabi Sulaiman AS heran dan kemudian bertanya kenapa makanan tersebut tidak dihabiskan. Bukankah semut telah mengatakan, kalau rezekinya dalam satu tahun dapat diperoleh sebesar kepalan tangannya?

Mendengar pertanyaan itu semut menjawab dengan tenang: “Wahai Nabi yang mulia, memanglah benar apa yang hamba katakan,bahwa hamba mampu memperoleh rezeki dalam satu tahun sebesar kepalan tangan yang mulia, namun itu terjadi pada saat hamba tidak berada di dalam botol ini. Dan pada saat itu hamba sangat yakin Allah akan memberikan hamba rezeki dan Dia tidak akan melupakanku walau sadetik pun, sehingga aku yakin Allah akan menjamin rezekiku. Tetapi kini, hamba yang lemah ini terkurung dalam botolmu, apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan lupa memberiku makanan kembali setelah satu tahun? Apakah kau berani menjamin hidup dan rezekiku di tanganmu ?”

(lanjut …)



empati

Akhlaq,Mau'izah Hasanah,Refleksi,Sosial | Monday, April 13th, 2009

contrengMemasuki minggu tenang pasca berakhirnya masa kampanye, melakukan perjalanan di sepanjang jalan rasanya amatlah nyaman. poster-poster caleg yang kalau dirasakan amat minim estetika grafisnya dan juga pilihan kata yang disajikan bersamanya, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai sampah visual daripada sebuah poster yang menyampaikan sebuah pesan. Dan poster-poster itu sungguh telah menyiksa tanpa ampun sensor penglihatan kita, yang sebenarnya sudah sangat lelah saat di jalanan, karena sensor penglihatan kita bekerja sangat-sangat aktif mengolah ribuan informasi agar kita bisa selamat dalam perjalanan.

Terasa nyaman memang, setelah poster-poster dan spanduk-spanduk kampanye itu hilang dari pandangan. Pandangan jadi terasa lebih lapang dan bersih. Justru karena telah terasa lapang itulah, saya malah jadi ingat kepada kisah Abu Nawas yang pernah saya baca. Tersebutlah seseorang, dalam kisah itu, yang meminta nasehat kepada Abu Nawas. Orang itu mengeluh kepada beliau soal rumahnya yang menurutnya begitu sumpek dan sempit.

Bahkan orang gila pun mungkin akan menyangka sinting kepada Abu Nawas, karena nasehatnya kepada orang yang berkeluh kesah itu. Abu Nawas meminta orang tersebut untuk membeli kambing dan memintanya untuk mengajak serta kambing itu tinggal serumah dengan yang bersangkutan. Awalnya orang itu nurut saja. Akan tetapi pada hari ketiga, orang itu mulai memprotes saran ‘gila’ dari Abu Nawas.

(lanjut …)



Tiga Serangkai

An-Natijah,Taqwa,Tauhid | Friday, April 10th, 2009
tiga serangkai islam iman ihsan

tiga serangkai

Di antara kosa kata yang sangat penting dalam agama Islam ialah tiga serangkai Iman, Islam dan Ihsan. Pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti, bahwa Islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempuma tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan menjadi mustahil tanpa iman, dan iman tidak mungkin tanpa inisial Islam.
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa agama terdiri dari tiga serangkai unsur: islam, iman dan ihsan. Di dalam ketiga unsur itu teselip makna kejenjangan yaitu orang mulai dengan islam, berkembang ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan.

Islam

Didapat gambaran dalam surah Al Hujuraat ayat 14, ketika orang-orang Arab Badui mengakui “telah beriman”, tetapi Nabi diperintahkan Allah SWT untuk mengatakan kepada mereka, bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru berislam, sebab iman belum masuk ke dalam hati mereka.

Jadi, iman lebih mendalam ketimbang Islam, sebab dalam konteks ayat itu, orang Arab Badui barulah tunduk kepada Nabi secara lahiriah, dan itulah makna kebahasaan “Islam”, yaitu “tunduk” atau “menyerah”. Kata al-Islam (umumnya) lebih dipahami sebagai nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Padahal, kata Islam sebetulnya banyak diketemukan dalam Kitab Suci, mengandung pengertian sikap pada sesuatu yaitu kepasrahan atau penyerahdirian kepada Tuhan. Sikap itulah yang disebutkan sebagai sikap keagamaan yang benar dan diterima Tuhan.

(lanjut …)



Haidh, Nifas dan Istihadhah

Al-Huda | Thursday, April 9th, 2009
pembalut wanita

pembalut wanita

Pertanyaan :

Ustadz, saya pernah dengar dalam suatu majelis takim seorang ustadz berkata bahwa agama Islam ini adalah agama yang hak. Karena itu tidak boleh segan dan malu mempertanyakan persoalan apa saja sepanjang pertanyaan itu benar dan hak Berdasarkan itu ustadz saya ingin bertanya masalah haidh, nifas dan istihadhah.

Isteri saya haidhnya tidak teratur. Baik waktu haidhnya maupun lamanya haidh. Kadang kala isteri saya haidhya berjalan setiap bulan. Kadangkala sampai 4 bulan tidak dapat haidh. Menjadi pertanyaan bagi saya apakah kami suami isteri boleh melakukan hubungan suami, isteri selama isteri saya itu tidak haidh, ataukah pada waktu yang kami perkirakan seharusnya dia mendapat haidh, tapi kenyataannya tidak mendapat haidh, hubungan suami isteri tidak boleh dilakukan.

Adapun mengenai lamanya, istri saya pernah haidh hanya 5 hari. Pernah pula 12 hari. Pernah pula 15 han. Juga pernah sampai 17 hari Nah yang 12 hari, 15 hari dan 17 hari itu apakah hal tersebut masih haidh, atau sudah tergolong istihadhah (darah penyakit). Kalau istihadhah benarkah kami boleh melakukan hubungan suami isteri?

Mengenai nifas juga demikian ustadz. Pada waktu anak saya yang pertama, is-teri lama nifasnya 35 hari. Pada waktu anak kedua, hanya 15 hari. Tapi pada waktu anak ketiga lamanya sampai 63 hari Saya dengar, katanya nifas itu lamanya 40 hari Apakah 40 hari harus dipegang ustadz? Artmya, kalau nifasnya hanya 35 hari, maka kami tetap tidak boleh berhubungan sampai 40 hari. Begitu juga ketika nifasnya hanya 15 hari, apakah kami tetap tidak boleh berhubungan selama 40 hari? Dan bagaimana ketika nifasnya sampai 63 hari. Apakah sesudah 40 hari kami sudah boleh berhubungan, ataukah menunggu sampai sesudah 63 hari itu.

(lanjut …)



Pembangunan yang Tidak Membangun

Al-Huda,ekonomi,Indah Mulya,Khairu Ummah,Sosial | Monday, April 6th, 2009
konstruksi

konstruksi

Pertanyaan :

Saya heran dan bingung dikarenakan selama 40 tahun ini pemerintah Indonesia sibuk membangun. Tapi nyatanya rakyat melarat dan miskin. Padahal ideologi pemerintah disebut dengan “ideologi pembangunan”.

Bukankah selama ini kita dijejali “pohtik, no! Pembangunan, yes!” Sehingga saya menjadi orang yang “anti politik”. Bahkan saya jijik ama politik. Apalagi teman-teman kuliah saya dahulu yang “mahasiswa politik” itu kerjanya hanya “bikin ribut”, hanya “bikin rusuh”. Hanya “tukang demo” Ribut dengan dosen! Melawan dekan dan pembantu dekan, memprotes rektor.

Sampai sekarang saya benci politik. dengan sanak saudara saya yang “orang politik” saya bikin jarak. Saya jauh dengan mereka Dengan tetangga yang “orang politik” saya tidak mau bergaul. Pendeknya saya anti politik! Titik! Saya pro pembangunan! Titik!

Tapi sekarang, teman-teman saya yang mahasiswa politik itu jadi anggota DPR Rl Yang lebih menjengkelkan ada yang menjadi menteri Dan jadi menteri di departemen tempat saya bekerja dan berkarir Menjengkelkan sekali. Saya tahu siapa dia. Tukang bikin ribut. Tukang bikin rusuh Tidak lebih dari itu. Kenapa dia jadi mentenri? Sungguh tidak adil! Kenapa dunia jadinya terbalik-balik? Padahal prestasi akademisnya nol. Saya tahu benar itu. Saya lebih pantas jadi menteri dibanding dia. Saya lebih tahu urusan departemen saya ketimbang dia.

Jadi saya tanya, kenapa pembangunan pemerintah gagal ?

(lanjut …)



Akhlaq Mencari Rezeki

Akhlaq,ekonomi,Sosial | Saturday, April 4th, 2009
jualan mangga

jualan mangga

Allah SWT telah menjamin rezeki untuk setiap makhluk-Nya. Tiada suatu binatang melatapun yang tidak mendapat jaminan rezeki dari-Nya (QS. Huud [11]: 6). Manusia pun telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT asal ia mau berusaha, karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mau merubahnya sendiri.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran dan hadits Nabi Saw yang selalu mendorong agar manusia memiliki semangat dalam mencari karunia (rezeki) Allah SWT itu. Alah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al-A’raf [7]: 10).

Pada suatu ketika Rasulullah Saw sedang duduk-duduk dengan para sahabat, tiba-tiba tampaklah di sana seseorang yang masih muda yang amat kuat dan tubuhnya kekar. Pagi-pagi ia telah berangkat bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat berkata, “Kasihan sekali pemuda ini, andaikata usianya yang masih muda dan tenaga yang masih kuat itu dia pergunakan untuk berjuang fi sabilillah, alangkahbaiknya“.

Mendengar ucapan sahabat itu, Rasulullah lantas berkata, “Janganlah kamu berkata seperti itu, sebab orang itu kalau keluarnya tadi dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jikalau ia bekerja untuk dirinya sendiri agar ia tidak sampai meminta-meminta pada orang lain, itu pun dijalan Allah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megah, maka itulah fi sabilisysyaithan atau karena kamu mengikut jalan syaitan.” (HR. Thabrani).

(lanjut …)