Karakter Yahudi
Hari-hari umat Islam Palestina mengalami nasib yang tragis. Dijajah, dibantai dan ditindas oleh orang-orang Yahudi. Padahal Yahudi telah mendapatkan 90% tanah Palestina, sebelumnya hanya memiliki 5%. Dengan cara menyerang, kemudian menduduki dan menjajah Palestina. Untuk itu marilah kita pahami karakter khas mereka. Sehingga kita tidak mudah melupakan kejahatan-kejahatan Yahudi sepanjang sejarahnya.
Sejarah Yahudi Madinah
Menurut sejarah orang-orang Yahudi adalah keturunan Israil. Dalam tafsir Ibnu Katsir, Al Qurthubi dan Jalalain, Isra’il adalah nabi Ya’qub. Jadi bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub. Menurut catatan KH. Munawar Khalil, kira-kira tahun 1800 SM, nabi Ya’qub pindah dari Kan’an (Palestina) bersama anak cucunya ke Mesir. Yaitu setelah Nabi Yusuf as, puteranya menjabat sebagai raja Mesir. Kemudian nabi Ya’qub wafat pada tahun 1689 SM, disusul Nabi Yusuf pada tahun 1635 SM.
Meskipun demikian bani Israil tetap tinggal di Mesir hingga 300 tahun iamanya. Setelah itu mereka hidup dibawah kekuasaan Fir’aun. Mereka ditindas, dibunuh dan diintimidasi. Akhirnya berkat pertolongan Nabi Musa mereka berhasil keluar dari Mesir dan kembali ke Palestina.
Allah swt berfirman: “Dan (Ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan” (QS Al Baqarah [2]: 49-50).
Sesuai Fitrah-Nya
Hidup harus kita jalani, oleh karena itu tantangan hidup ini mestinya sampai akhir hayat. Tujuan hidup adalah ukhrawi, kita kekal disana. Dunia ini pun kita lalui hanya sementara, namun walau sementara banyak tantangannya, baik internal maupun ekstemal. Dua hal itulah yang menjadi kajian di era modern ini.
Tantangan Internal
Sisi internal adalah diri kita sendiri. Di ciptakan hidup sebagai manusia fungsi khalifah di bumi. Di dalam diri kita ada unsur-unsur raga, jiwa, akal, pikiran, hati dan ruh. Kesemua unsur itu hakikatnya eksistensi kita upaya mengabdi (na’budu) dan meminta tolong (nasta’in) kepada Allah SWT untuk menjalankan kehidupan ini Firman Allah SWT “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)
Menjalankan hidup hakikatnya sederhana. Tugas kita hanya dua hal prinsipil, yaitu mengabdi dan meminta tolong. Apabila tugas itu kita jalankan, dipastikan kitapun akan mendapat hasil dua hal prinsipil pula yakni harkat dan martabat.
Harkat adalah status kita. Hidup kaya, miskin juga adalah harkat sesuai tingkatan posisi ekonomi kita dalam masyarakat. Sedangkan martabat adalah juga status, terhormat atau tidak terhormat dalam kemasyarakatan. Suatu derajat atau nilai dari posisi kita berupa pemberian dari Allah SWT didunia ini.
Jangan Menyerah kepada Israel
Dengan sangat serius, dari lubuk hati yang paling dalam saya sampaikan, jangan menyerah kepada israel, betapapun sakit dan beratnya realita yang ada!
Jangan pernah ada pikiran untuk berdamai dan mengakui eksistensi Israel sampai kapanpun. Hamas tidaklah salah. Hamas benar. Justru Hamas berada di jalan yang hak dan mengoreksi kesalahan almarhum Yasser Arafat (semoga Allah SWT mengampuninya dan memberikan tempat yang mulia disisi-Nya. Amin, ya rabbalalamin).
Jangan pakai rasio terhadap realita. Pedomanilah firman-firman Allah SWT berikut ini:
- “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah, apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana“. (Surat 4/An Nisaa’, ayat 104).
- “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang me-nyebabkan kamu disentuh apt neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan” (Surat 11/Huud, ayat 113).
- “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaran kamu dan tetaptah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (Surat 3/Ali Imran, ayat 200).
- “Hai orang-orang yang beriman, taatilah kepada Allah dan taatilah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka. Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang diatas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahata) amal-amalmu. Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta-minta hartamu“. (Surat 47/Muhammad, ayat 33-35).
- “Jangantah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman“. (Surat 3/Ali Imran, ayat 39)
Pengaturan Allah
Al-Quran mengatakan bahwa umat Islam merupakan ummatan wasathan, yaitu umat pertengahan. Supaya mereka menjadi saksi atas manusia, dan supaya Rasul menjadi saksi atas mereka. (QS. Al-Baqarah[2]: 143).
Sehagai umat pertengahan mereka melihat segala sesuatu di alam ini sesuai dengan patutnya atau menurut hukum yang lazim. Gejala-gejala alam seperti siang-ma!am, gerhana, halilintar, petir, topan dan badai diatur oleh Penciptanya berdasarkan hukum-hukum tidak berubah yang disebut sunnatullah.
Semuanya berjalan mengikuti ketentuan-ketentuan pasti yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengaturan hidupnya. Al-Quran menegaskan, “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui” (QS. Yunus [ 10]: 5).
Dalam surat yang lain, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS. Yasiin [36]: 40).
Sifat Manusia Bisa Lebih Hina dari Mahluk Lain
Seorang Khalifah
Kemuliaan itu sudah nampak terlihat ketika Allah SWT memberikan pangkat dan kedudukan yang namanya khalifah, ketika manusianya belum diciptakan dan media buminya belum diciptakan Allah sudah memberikan suatu pangkat dan kedudukan berupa khalifah.
Dalam surat Al baqaroh dan surat At Tiin, kemudian pangkat yang kedua yang diberikan Allah kepada manusia itu setelah diciptakan makhluk dengan “ahsanitagwim” kesempurnaan makhluk dan kesempurnaan ciptaan. Kemudian Allah SWT memilih lagi makhluk-makhluk yang mulia itu berupa pangkat bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.
Eksistensi kehadiran manusia sudah dipertanyakan oleh Malaikat-malaikat mulai sejak Allah SWT mengumandangkan akan menciptakan di atas muka bumi ini seorang khalifah dimana telah digambarkan dalam surat Al baqaroh ayat 30 menjelaskan bahwa Allah mempunyai gagasan besar dan gagasan yang amat mulia kemudian mengundang pertanyaan-pertanyaan para Malaikat tentang gagasan Allah SWT dengan pertanyaannya para Malaikat mempertanyakan eksistensi manusia yang dalam gambaran ayat tersebut: “apakah Engkau akan menciptakan khalifah yang justru membuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah ?”.
Para Malaikat menduga bahwa khalifah ini akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan suatu pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, di mana ada makhluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan Malaikat, maka pasti makhluk itu berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih dan mensucikan Allah SWT.
Poin Permintaan
Dalam ajaran Islam kita mengenal doa. Kita berdoa memohon kepada Allah SWT tentang ampunan, tentang hidayah, tentang kebertuhan-Nya dan lain sebagainya. Tujuan doa selamat di dunia dan masuk syurga diakhirat kelak.
Selain doa atau permohonan kalimat lain secara ideologis kita mengenal kata permintaan. Dalam Al Qur’an (Surat Al Fatihah) kita menyatakan mengabdi dan meminta pertolongan kepada Allah SWT (iyyaka na ‘bud wa ‘iyya-fanastain).
Di dalam shalat misalnya, tentang doa kita memohon kepada-Nya agar diberi jalan yang lurus bukan jalan yang dimurkai dan bukan jalan yang sesat. Pada akhir shalat kita juga memohon atau berlindung dari azab neraka, siksaan kubur, fitnah hidup, fitnah mati dan fitnah dajjal.
Tentang permintaan dalam shalat, niatnya atau secara ideologis kita meminta kepada Allah SWT tentang 8 (delapan) hal kebutuhan kita. Sekali lagi permintaan ini adalah sudut pandang ideologis sebagai berikut:
1. Rabbighfirliy, permintaan: ya Allah, ampuni aku.
Kita meminta ampun karena kita tak luput dari dosa Nabi Adam AS, nenek moyang kita telah bersalah melanggar aturan-Nya. Nabi Adam AS bersalah, kita sebagai keturunan-Nya juga sering bersalah. Bersalah melanggar aturan yang kecil, juga kesalahan pelanggaran aturan agama sekala besar. Kesalahan yang disadari atau tidak kita sadari, maka kita pun meminta tolong agar diampuni atas segala kesalahan tersebut.
Ternyata Mengemis Itu Haram
Setiap manusia tentu membutuhkan rizki berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Untuk itu, manusia harus mencari nafkah dengan berbagai usaha yang halal, Bagi seorang muslim, mencari rizki secara halal merupakan salah satu prinsip hidup yang sangat mendasar.
Kita tentu menghendaki dalam upaya mencari rizki, banyak yang bisa kita peroleh, mudah mendapatkannya dan halal status hukumnya. Namun seandainya sedikit yang kita dapat dan susah pula mendapatkannya selama status hukumnya halal jauh lebih baik daripada mudah mendapatkannya, banyak perolehannya namun status hukumnya tidak halal.
Yang lebih tragis lagi adalah bila seseorang mencari nafkah dengan susah payah, sedikit mendapatkannya, status hukumnya juga tidak halal, bahkan resikonya sangat berat, inilah sekarang yang banyak terjadi. Kita dapati di masyarakat kita ada orang yang mencuri sandal atau sepatu di masjid, mencopet di bus kota dan sebagainya. Korban penganiayaan dari masyarakat sudah banyak yang berjatuhan akibat pencurian semacam itu.
Dalam satu hadits, Rasulullah saw menyebutkan tentang kecintaan Allah swt kepada orang yang mencari rizki secara halal meskipun ia bersusah payah dalam mendapatkannya, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambaNya lelah dalam mencari yang halal” (HR. Ad Dailami).
Dunia
Pada suatu hari Rasulullah Saw sedang tidur-tiduran di rumahnya melepas lelah. Beliau berbaring di atas tempat tidurnya yang terbuat dari pelepah, pohon kurma yang dianyam. Tiba-tiba seorang sahabat beliau yang bernama Ibnu Mas’ud datang berkunjung. Setelah mengucapkan salam dan Rasulullah menjawab salamnya, Ibnu Mas’ud pun masuk menemui Rasulullah.
Oleh karena saat kedatangan Ibnu Mas’ud tersebutRasulullah Saw tidak mengenakan baju, maka Ibnu Mas’ud sempat melihat guratan merah dibadan Rasulullah karena berbaring di atas ranjang yang terbuat dari pelepah kurma.
Melihat kondisi Rasulullah yang demikian itu, Ibnu Mas’ud tak mampu menahan kesedihannya, air matanya pun mengalir deras membasahi pipi. Tidak tahu apa yang terlintas saat itu dipikiran Ibnu Mas’ud, boleh jadi dia tidak tega melihat seorang utusan Allah, yang dimuliakan Allah, mencintai dan dicintai oleh banyak pengikutnya, seorang pemimpin, seorang panglima di medan perang, yang boleh dibilang sama bahkan ‘lebih besar’ dari raja-raja atau penguasa-penguasa yang pemah ditaklukkan beliau, tetapi tempat tidurnya saja tidak menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang ‘besar’, sampai-sampai meninggalkan bekas dibadannya. Mungkin perasaan itu yang membuat Ibnu Mas’ud sangat sedih.
Boikot produk Israel
Seruan untuk boikot produk Israel telah menggema ke seantero dunia. Berikut gambar seruan boikot produk israel yang sempat beredar di internet.

Selengkapnya daftar produk yang ditengarai ikut mensukseskan agresi israel ke palestina akhir-akhir ini dapat dilihat di http://www.inminds.co.uk/boycott-israel.html.
Pandangan Islam Terhadap Alam
Pertanyaan :
Bagaimanakah sebenarnya pandangan Islam terhadap alam? Apakah alam ini merupakan suatu misteri dan kadangkala menakutkan, sebagaimana yang sering saya dengar di khutbah jum’at, dimana dikatakan bahwa takutlah pada azab Allah SWT, dengan menyebutkan banjir, badai, tsunami, gempa, tanah longsor dan berbagai macam bentuk bencana sebagai azab Allah SWT ?
Khutbah-khutbah demikian menurut saya menghasilkan suatu posisi “takut kepada alam”, atau “menyerah” kepada alam.
Pada sisi lain, bila kita simak laporan pemberitaan di TV, juga di koran, akarr nyatalah bahwa apa yang disebut bencana alam itu boleh dikatakan terjadi tiap hari diseluruh penjuru dunia. Kalau tidak terjadi bencana alam di Indonesia, terjadi di Rusia, atau terjadi di Belanda, atau terjadi di Afrika, atau terjadi di Australia. Atau terjadi di tempat lainnya.
Boleh dikatakan di atas bumi ini setiap hari terjadi bencana alam itu. Kesimpulahnya apa? Maafkan saya, berarti Allah SWT setiap hari menurunkan azabnya. kepada manusia. benarkah begitu?. Kalau benar demikian, maafkan saya, alangkah pemarahnyaAllah SWT, setiap hari, setiap saat Allah SWT dalam keadaan murka, setiap hari, setiap saat Allah SWT menurunkan azabnya.
Mohon maaf ustadz, pikiran saya jadi terguncang memikirkannya. Disisi lain sering pula saya dengar bahwa Allah SWT itu “Maha Rahman”, “Maha Rahim, Allah SWT itu “Maha pengasih”, “Maha Penyayang”.
Next Page »








