Pertanyaan :
Di internet saya baca suatu pembahasan tentang Dzulkarnain yang isinya meragukan kebenaran apa yang dikisahkan di dalam Al Qur’an tentang seorang raja yang berkuasa di barat dan di timur, dengan suatu kerajaan yang luas sekali, tapi memerintah dengan adil dan sangat taat kepada Allah SWT.
Apa lagi, kalau dimaksudkan dengan Dzulkarnain itu adalah Alexander Yang Agung dari Macedonia, karena catatan riwayat hidupnya tidak menunjukkan dia sebagai raja yang adil. Apalagi, sebagai seorang yang taat kepada Allah SWT, sehingga ada yang menyebut dirinya adalah “waliyullah”.
Begitu juga halnya kalau yang disebutkan dengan Dzulkarnain tersebut adalah seorang raja dari Persia yang bernama Cyrus Yang Agung, karena rekam jejak dari raja-raja penakluk selalu menunjukkan bahwa mereka adalah raja-raja yang sangat berkuasa dan sering melakukan kekejaman.
Sehingga dengan demikian kesimpulannya bahwa adanya seorang raja pendeta yang wilayah negaranya terbentang dari barat ke timur, yang memerintah dengan keadilan di atas jalan yang benar, hanyalah suatu isapan jempol. Suatu cerita hayalan yang tidak pernah ada.
(lanjut …)
Rokok, sebuah kata yang tidak asing ditelinga kita. Sebuah komoditi yang paling laris dan paling gampang diundang menjadi sponsor pada event-event olahraga dan pertunjukan besar lainnya. Dan diseantero penjuru negeri ini hampir tidak ada satu pun warung atau pusat perbelanjaan yang tidak menjualnya.
Rokok, telah menjelma menjadi kebutuhan pokok. Bahkan ada pendapat ‘keblinger’ di sekitar kita, bahwa lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Sebagian orang lebih rela mendahulukan membeli rokok daripada memenuhi kebutuhan utamanya.
Pada kenyataannya, rokok banyak menimbulkan masalah serius yang dapat ditelaah dari berbagai aspek apa pun. Kasus nyata yang sering kita dengar, misalnya, seorang kepala rumah tangga selalu mengeluh bahwa penghasilannya selalu tidak mencukupi kebutuhan keluarganya setiap bulan Dengan gajinya yang kecil, ia merasa selalu kekurangan.
Padahal, jika ditinjau lebih cermat lagi, sang kepala rumah tangga tersebut adalah seorang perokok. Setiap hari ia menghabiskan setidaknya satu bungkus rokok yang harganya sama dengan satu porsi makanan di warung nasi. Lantas, apakah ada gunanya dia mengeluh seperti itu? Sadarkah ia pada apa yang telah dilakukannya?
(lanjut …)
Pertanyaan :
Sebagai orang politik yang berumur 73 tahun saya melihat ide penulisan “presiden yang diimpikan” adalah suatu gagasan yang bagus sekali:” brilyan”. Karena dengan gagasan tersebut merupakan langkah nyata dalam melakukan desakralisasi lembaga presiden.
Saya melihat salah satu sebab bangsa ini terpuruk dan tidak pernah dewasa adalah karena sakralisasi lembaga kepresidenan yang berlebih-lebihan. Lembaga kepresidenan tentu saja haruslah menjadi lembaga yang agung dan terhormat. tapi janganlah hal itu menjadikan presidennya, “orangnya” yang begitu sakral dan begitu menakutkan. Sehingga tak terjangkau oleh pemikiran.
Kalau kita melihat sejarahnya, kiranya hal ini bermula pada tahun 1960-an ketika bangsa ini begitu kagum dan begitu tergantung dengan Bung Karno, sehingga pada waktu itu kesannya hanya Bung Karno saja yang layak jadi presiden. Bahkan, saking kultusnya kepada Bung Karno sampai-sampai MPRS mengangkatnya sebagai “presiden seumur hidup” dan hal itu diamini oleh seluruh bangsa. Kemudian MPRS mengangkatnya lagi sebagai “pemimpin besar revolusi”, dan hal itu diamini juga oleh seluruh bangsa.
Sampai-sampai pada waktu demonstrasi tahun 1966, pada mulanya tidak ditujukan untuk melawan Bung Karno, hanyalah sekadar tuntutan “pembubaran PKI“. Sebenarnya kalau Bung Karno waktu itu membubarkan PKI, boleh dipastikan demonstrasi berhenti. Hal itu terlihat bahwa boleh dikatakan demonstrasi otomatis berhenti semenjak PKI dibubarkan pada 11 Maret 1966.
(lanjut …)
Sungguh sangat menyentuh khutbah yang disampaikan Rasulullah Saw pada saat wukuf di padang Arafah dalam pelaksanaan haji wada (haji perpisahan), dan pesan yang disampaikan pun sangat kuat maknanya. Lebih kurang sekitar seratus ribu dua puluh empat atau empat puluh empat ribu orang berkumpul mengitari Rasulullah saat itu.
Rasulullah membuka khutbahnya dengan ucapan, “Wahai umat manusia, dengarkanlah apa yang akan aku katakan ini! Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“.
Apa yang kita atau anda rasakan seadainya turut berada di sana saat itu, dan anda meresapi secara mendalam kalimat yang disampaikan Rasulullah tersebut, dengan penuh yakin pastilah anda akan terdiam, dan badan anda pun akan gemetar.
Kalimat “Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“, seakan mengisyaratkan bahwa tidak lama lagi Beliau akan segera berpisah dengan umatnya. Semuanya menjadi hening, yang berhaji pada saat itu terdiam, khusyu’ mendengarkan khutbah Rasulullah Saw selanjutnya.
“Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda (sebagian) kalian (atas sebagian kalian) adalah haram, sebagaimana haramnya hari (kalian berada) di sini, di bulan (kalian berada) di sini, di negeri kalian (tanah haram) ini“.
(lanjut …)

Pertanyaan :
Pemilu 2009 sudah begitu dekat. Tinggal beberapa bulan lagi. Partai begitu banyak. Partai mana yang akan dipilih? Dan apakah pemilu dan partai-partai itu bisa membuat rakyat makmur? Kalau tidak bisa membuat rakyat makmur, apa gunanya pemilu dan partai-partai itu?
Jawaban :
Negara Republik Indonesia jni didirikan untuk kemakmuran rakyat dan untuk memakmurkan rakyat. Jadi negara Rl ini untuk rakyat. Bukan rakyat untuk negara! Tapi semenjak rezim orde baru yang dilakukan sebaliknya, yaitu rakyat untuk negara. Rakyat diminta terus menerus berkorban, yang artinya tidak lain rakyat diminta untuk terus menerus menderita.
Pemilu 2009 harus menegakkan kembali prinsip dasar pendirian negara Republik Indonesia ini, yaitu negara untuk rakyat.
Sebenarnya kalau negara mau. Kalau pemerirrtah mau, mewujudkan kemak-muran rakyat itu tidak sulit. Tidak sukar.
Pertama, pemerintah menjamin tidak ada rakyat yang ketaparan dan tidak ada rakyatyang tidakbisa berobat ke puskesmas kalau sakit. Caranya?.
(lanjut …)
Berapakah batas ideal jumlah penduduk sebuah kota? Tiga puluh lima tahun lalu, EF Schumacher menjawab,”Setengah juta orang.” Inilah, bagi dia, angka.yang memenuhi idealnya tentang “kecil itu indah”.
Bagaimana kalau penduduk kota lebih dari itu? Baginya, takkan ada manfaat tambahan lagi. Schumacher menyebut kota-kota besar seperti London, Tokyo, atau New York berpenduduk jutaan orang dan jumlah besar itu tak menambah nilai apapun selain menimbulkan masalah yang amat besar dan kemerasotan.
Tahukah Anda, jauh sebelum teori “kecil itu indah” dari Schumacher lahir, jakarta pun dirancang untuk setengah juta orang. Demikian baiknya rancangan kota ini sampai sebuah kota pelabuhan di Swedia, Goteborg, merasa layak untuk menjiplaknya.
Belasan juta orang memenuhi Jakarta di siang hari kini, Maka hilanglah keindahan. Sementara, Goteborg tetap seperti sedia kala. Walau merupakan kota industri yang maju, antara lain menjadi pusat pembuatan mobil terkemuka Volvo dan alat komunikasi Ericsson, kota ini tetap berpenduduk setengah juta.
(lanjut …)
Ditengah-tengah perjalanan kehidupan perpolitikan yang berlangsung di negeri kita yang tak luput dari keributan, pertikaian dan sengketa, kata bersatu dan hidup bersama secara rukun dan damai sepertinya baru bisa kita wujudkan di dalam angan-angan kita saja. Sehingga kata persatuan dan kebersamaan adalah barang langka dan mahal untuk saat-saat ini di tengah-tengah masyarakat kita.
Dalam bidang politik misalnya, kita dapat saksikan bagaimana sistem dan etika berpolitik bangsa Amerika Serikat dalam pemilihan Presiden beberapa waktu lalu. Kebanyakan kita, baik yang mencalonkan diri menjadi kepala desa, bupati, walikota, dan gubernur, maupun yang tidak mencalonkan diri hanya sebagai anggota biasa di sebuah partai, memujinya, dan berharap hal serupa dapat terjadi di negeri ini, saling menghargai, sportif, siap menang dan siap kalah.
Namun, pada dasarnya untuk mewujudkan hal yang serupa itu tidak cukup hanya dengan memuji, membicarakan dan mendiskusikannya, melainkan yang terpenting adalah adanya keinginan kuat untuk mengamalkan etika-etika berpolitik tersebut di lapangan.
Bila kita lihat ritual pelaksanaan ibadah haji, yang saat ini ribuan masyarakat muslim Indonesia telah berangkat ke tanah suci untuk menunaikannya, betapa persatuan, persamaan dan kebersamaan begitu kontras terlihat, yang berhaji disadarkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa, semuanya menyatu dan sama dalam balutan kain putih, yang tidak berhaji pun harus mampu mengambil palajaran dan hikmah dari ritual ibadah haji, ternyata ketika semua mengenakan kain putih, tidak ada lagi status yang membedakan, tidak ada lagi pangkat dan jabatan, melainkan kita harus bersatu secara bersama-sama saling menyokong dan membantu untuk menuntaskan pelaksanaan ritual ibadah haji. Karena sewaktu-waktu ada saja musibah yang akan menimpa kita, maka saat itu rasa kebersamaan dan sepenanggunganlah yang dapat menyelamatkan kita.
(lanjut …)
Tidak terasa kita telah memasuki musim haji, Kita mengetahui gairah umat Islam Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji terhitung sangat luar biasa, karena mulai tahun ini yang masuk daftar tunggu ibadah haji bukan hanya untuk ONH biasa akan tetapi ONH Plus pun sudah ada daftar tunggunya.
Ini menggambarkan betapa gairah umat Islam untuk menjalankan ibadah haji patut kita syukuri. Jatah tahun ini jamaah Indonesia kurang lebih 210.000 orang, itu yang resmi lewat Departemen Agama. Artinya kalau 210.000 jamaah Indonesia berangkat setiap tahun dan seluruhnya mendapatkan haji mabrur lalu kemudian mampu mewujudkan kemabrurannya dalam hidup dan kehidupannya kembalinya ke tanah air, maka dari tahun ke tahun orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan semakin banyak dan jika itu tercapai, maka apa yang dijanjikan oleh Allah, bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat dari langit dan barokah dari bumi akan segera kita rasakan.
Allah SWT berjanji “jika penduduk suatu negeri itu benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka Aku turunkan barokah dari langit dan akan aku tumbuhkan barokah dari bumi, akan tetapi jika bangsa itu mendustakan maka yang akan datang adalah azab yang akan Aku datangkan penduduk pada negeri itu“.
Oleh karena itu kita do’akan mudah-mudahan saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan haji tahun ini dan tahun yang akan datang benar-benar mendapatkan haji mabrur dan diberikan kemauan dan kemampuan untuk mewujudkan kemabruran setelah dia kembali ke tanah air.
(lanjut …)
Pertanyaan :
Sebagai orang yang pernah kuliah di Yogyakarta saya tertarik dengan rubrik investasi burjo di buletin Al Huda. Saya jadi nostalgia dengan masa kuliah di Yogya, dimana dengan teman-teman sering menghabiskan waktu berjam-jam, ya belajar, ya ngerumpi di warung “bubur kacang ijo” (burjo). Seingat saya begitu “kacang ijo”, bukan”kacang hijo” seperti ditulis di buletin Al Huda. Begitulah dialeknya menurut lidah orang Yogya.
Disinilah saya melihat kekhasan buletin dakwah Al Huda, dibandingkan dengan buletin dakwah yang lainnya, karena ada keinginan untuk melakukan penetrasi dalam masalah ekonomi. Bukan saja daiam tataran kebijakan yang dalam bahasa buletin Al Huda disebut “politik ekonomi”, tapi juga dalam tataran ekonomi mikro sehari-hari dengan mengemukakan masalah-masalah ekonomi (khususnya masalah ekonomi syari’ah), termasuk dalam soal investasi. Dahulu kalau saya tidak satah ditengah maraknya VCO (virgin coconot oil) buletin Al Huda juga berinisiatif dalam produksi dan pemasaran VCO itu.
Bagi saya warung burjo itu khas, selain murah meriah, juga buka 24 jam. Sehingga kalau lagi iseng, apalagi dalam keadaan lapar (agak lapar) sekalipun pk 3 pagi bisa mengganjal perut dan bisa hutang lagi (wah kalau diingat sekarang, saya terima kasih sekali sama warung burjo itu, yang sering sangat membantu di saat wesel belum datang).
Kalau tidak salah, pada umumnya burjo dikelola oleh orang-orang dari Kuningan (Jawa Barat). Mereka adalah pedagang-pedagang yang tekun dan pekerja keras, seperti orang-orang Tegal di Jakarta yang terkenal dengan “warteg”-nya (warung Tegal)-nya.
(lanjut …)
Sebanyak 12 negara sudah menyatakan menolak impor makanan dan minuman dari Cina karena dikhawatirkan mengandung melamine, bahan beracun, yang dapat menimbulkan kematian bagi siapapun yang mengkonsumsinya. Di Cina, sebanyak22 perusahaan terdeteksi dipastikan telah memproduksi produk beracun itu. Efeknya, sebanyak 54.000 balita di Cina menderita radang ginjal yang serius,13.000 di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit dan 4 bayi dilaporkan meninggal dunia (KCM, Kompas Cyber Media, oktober 2008).
Di Indonesia, Pemerintah, dalam hal ini Badan Pusat Pengawasan Obat dan Makanan (BP.POM) meskipun agak terlambat mulai melakukan operasi kepada sejumlah pusat perbelanjaan besar, di toko-toko retail di beberapa kota besar, dan mulai menarik produk-produk beracun tersebut.
Dari 12 daftar produsen makanan beracun dari Cina yang masuk ke Indonesia, empat di antaranya sudah lama nyaman mengedarkan produk mautnya tersebut selama bertahun-tahun.
Tingkatkan Pengawasan
Kasus tersebut bukanlah yang pertama kali dari sekian banyak produk makanan dan minuman bermasalah di negeri ini. Dan hal tersebut bukan pula yang pertama kali dilakukan oleh mereka yang berprofesi sebagai produsen dan pedagang.
(lanjut …)