Negeri Akhirat

Mimbar Jum'at,Taqwa,Tauhid | Thursday, November 27th, 2008

Jurney-to-the-center-of-the-earthNegeri akhirat diawali oleh suatu peristiwa dahsyat yang disebut dengan kiamat. Banyak ayat-ayat Al-Quran yang menggambarkan situasi alam ini saat kiamat terjadi, diantaranya di dalam surat Al-Zalzalah 1-6 yang artinya, “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: – Mengapa bumi (jadi begini) ? – , pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dan kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka“.Meyakini adanya negeri akhirat adalah salah satu dari rukun iman.

Meyakini adanya negeri akhirat dan segala proses yang terjadi didalamnya membuat seseorang mampu mengendalikan kehidupannya di dunia ini. Dengan keyakinannya tersebut pastilah dia akan hati-hati dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini, karena ia yakin bahwa segala perbuatan dan tingkah laku yang dilakukannya di dunia ini kelak pasti akan ada balasannya di sana, sebagaimana lanjutan surat Al-Zalzalah 7-8 di atas, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah sekalipun,  niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapayang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula“. Di negeri akhirat manusia akan menerima semua balasan dari perbuatan yang dilakukannya di dunia dengan seadil-adilnya, sedikitpun tidak dikurangi atau ditambahi.

Sebaliknya orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, maka ia akan berbuat sesuka hatinya, menuruti hawa nafsu dan logikanya. Selama perbuatan yang dilakukannya menurut hawa nafsu dan logikanya menguntungkan bagi dirinya maka, dia akan melakukannya walau sebenarnya perbuatan itu bertentangan dengan tuntunan agama dan kelak akan menyengsarakannya di akhirat.

(lanjut …)



Kepemimpinan yang Menyesali

Khairu Ummah,Sosial,Syariat | Sunday, November 23rd, 2008

topeng firaunJanganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak (HR. Muslim dari Abdurrabman bin Samurah ra)

Keberadaan pemimpin jelas amat dibutuhkan bagi setiap orang dalam berbagai kelompok dan bidang. Dalam sepakbola ada kapten kesebelasan, di perusahaan ada direktur bahkan presiden direktur, dalam shalat berjamaah mesti ada yang namanya imam dan dalam suatu negara ada presiden atau perdana menteri atau ada juga yang menyebutnya dengan raja. Dibutuhkannya pemimpin menunjukkan betapa strategis jabatan kepemimpinan itu.

Jabatan kepemimpinan yang diemban seseorang bisa membawa kebaikan tapi juga bisa membawa keburukan, tidak hanya bagi orang yang dipimpinnya tapi juga bagi dirinya sendiri, bahkan tidak hanya keburukan di dunia ini saja tapi juga bisa sampai ke akhirat nanti. Kepemimpinan yang akan membawa seseorang pada keburukan disebabkan banyak faktor.

1.  Kekejaman Dalam Memimpin

Kepemimpinan yang dijalankan dengan berlaku kejam atau zalim kepada orang yang dipimpin merupakan sesuatu yang membawa malapetaka bagi sang pemimpin dan orang yang dipimpinnya, tidak hanya kejam dari tindakan fisik tapi juga kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkannya sehingga rakyat tidak berdaya dihadapan sang pemimpin meskipun pemimpin itu melakukan kesalahan, karenanya pemimpin yang berlaku kejam kepada rakyat yang dipimpinnya merupakan sejelek-jelek pemimpin.

(lanjut …)



Ideologi

An-Natijah,Sosial,Syariat | Friday, November 21st, 2008

Sukarno PidatoDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Ideologi adalah: “Kumpulan konsep bersistem yang dijadikan azas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup putra pribadi atau masyarakat untuk memperjuangkan hidupnya“.

Liberalisme misalnya, suatu paham kebebasan. Sedangkan komunisme, suatu paham atau cara hidup atas dasar komunitas kebersamaan(sosialistis). Selanjutnya agama berarti perjuangan hidup ini segalanya adalah atas dasar agama Islam.

Dinegara kita saat ini, ideologi ekonomi yang dianut adalah kapitalis liberalisme. Sedangkan di bidang politik menganut idedogi demokrasi. Sistem ekonomi dan politik tersebut bukanlah kultur ataupun budaya kita. Akan tetapi diadopsi dari barat, yang belum tentu cocok dengan kultur bangsa kita, dan kenyataannya dengan menganut sistem dkonomi dan pditik tersebut diatas, bangsa kita mengalami keterpurukan yang berkepanjangan, kita temukan kemiskinan dan kemelaratan hidup dimana-mana.

Sistem ekonomi kapitalis liberalisme dan politikdemokratisasi tersebut, tidaklah dapat mensejahterakan rakyat bangsa ini. Apalagi sistem hukum positif kita masih produk barat, maka lengkaplah sudah, bahwa bangsa dan negara ini belum menemukan jati dirinya sendiri. Akibat dari itu semua, kitabangsa lndonesia pun sulit membangun peradabannya.

(lanjut …)



Menghindari Penyakit Hati

Akhlaq,Indah Mulya | Monday, November 17th, 2008

Puisi hatiManusia diberikan 2 jalan ada yang buruk dan ada yang baik, Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Asy Syams ayat 7-10 yang arfinya “demi jiwa demi diri serta penyempurnaan penciptaannya, lalu Allah itu mengilhamkan jalan ke dalam jiwa itu berbuat kefasikan berbuat kejahatan serta berbuat ketaqwaan, sungguh beruntunglah orang yang selalu mensucikan bathinnya, mensucikan hatinya, mensucikan jiwanya dan sungguh merugilah mereka yang selalu mengotorinya“.

Dari firman Allah tersebut kita mengetahui dalam tubuh ini ada satu unsur yang disebut dengan jiwa atau nafs. Dalam wadah yang disebut jiwa atau nafs itu Allah SWT memberikan 2 (dua) jalan, yaitu jalan untuk berbuat baik ataupun jalan untuk tldak berbuat baik, Apakah jalan untuk melakukan perbuatan positif ataupun untuk perbuatan yang negatif, yang menguntungkan atau merugikan, bergantung kepada manusianya.

Dalam ayat lain Allah berfirman bahwa jika kalian beriman silakan, jika kafir silakan, terbuka jalannya. Mau diapakan wadah ini tergantung pada kita. Bukankah Allah SWT telah memberikan 2 (dua) wadah fujurohaa atau taqwahaa, jalan untuk berbuat kejahatan dan jalan untuk berbuat kebaikan.

Setelah itu Allah mengingatkan kepada kita, qod aflaha man dzakkaha waqadkhaba man dassaha, beruntung orang seandainya wadah itu diisi oleh akhlakul karimah, diisi dengan sifat-sifat yang terpuji. Amat rugilah mereka jika wadah itu dipenuhi dan diisi oleh sifat-sifat kejahatan dan kemudaratan, apakah yang datangnya dari hawa nafsu, syetan, iblis maupun sifat-sifat hewaniah.

(lanjut …)



Marah

Akhlaq,An-Natijah | Saturday, November 15th, 2008

Anak marahGhadab (marah) bisa berarti keras, kasar, atau padat. Ghadab dapat diartikan sikap seseorang yang sedang marah, karena tidak senang terhadap perilaku atau perbuatan orang lain. Amarah kerap membuat seseorang bertindak kasar, jahat, bahkan sadis. Kata maaf nyaris tak berlaku pada orang yang ghadib (pemarah) yang bergejolak adalah nafsu ingin melampiaskan dendam kebencian.

Sikap marah ini sering kita saksikan dalam realita kehidupan saat ini. Dua kelompok mahasiswa dari dua universitas yang bertetangga (di Salemba, Jakarta) saling menyerang dengan batu, bambu bahkan dengan bom molotov. Demikiankah komunitas yang dianggap intelek menyelesaikan persoalan? Lalu orang terpana, ketika seorang kernet bis kota menemukan bungkusan yang berisi potongan-potongan tubuh manusia (mutilasi), mengapa penjahat tak cukup dengan membunuhnya (padahal membunuh saja pun sudah cukup sadis) ? Saat itu masih segar dalam ingatan masyarakat kasus mutilasi berantai oleh Riyan. Bagaimana seseorang dapat melakukan perbuatan sekeji itu dengan tangarmya? Tetapi demikianlah yang sudah terjadi. Kasus sedemikian itu bukan satu tetapi sudah berbilang jumlahnya dan dilakukan dengan modus serta alasan yang berbeda-beda.

Belum lagi kemarahan yang dilakukan massa, gara-gara kandidat yang diusungnya kalah ‘tipis/tebal’ dalam suatu pemilihan kepala daerah misalnya. Akhirnya fitnah, makian dan menghinadinakan orang lain atau kelompok tertentu menjadi sesuatu yang dianggap layak dan sah dilakukan. Kemudian dengan seragam kemarahan itu bergerak maju berhadapan dengan aparat, bentrokanpun tak terhindarkan, pagar yang kokoh (masih baru) dirubuhkan sedemikian rupa, bahkan api pun berkobar dan membakar, syaitan pun sumringah, bertepuk ria.

(lanjut …)



Tebarkan Salam

Akhlaq,Ibadah,Mimbar Jum'at,Sosial | Tuesday, November 11th, 2008

SalamSetiap orang menginginkan kenyamanan dan kedamaian penuh rasa kasih sayang dan keramahan di rumah, menginginkan lingkungan tempat tinggalnya dan tempat bekerjanya dapat memberikan rasa nyaman dan damai kepada dirinya.

Rasulullah Saw pernah memberikan sebuah tips kepada kita untuk memenuhi keinginan kita akan rasa nyaman dan damai penuh kasih sayang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Beliau berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian sehingga kalian saling mengasihi dan mencintai, apakah kalian mau aku tunjukkan kepada sebuah amalan yang apabila kalian amalkan, kalian akan saling mengasihi dan mencintai?, terbarkanlah salam diantara kamu“. (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah Saw di atas menginformasikan kepada kita bahwa untuk masuk surga syaratnya haruslah beriman, dan itu merupakan hal yang pasti dan wajib, karena bagaimana mungkin seseorang akan masuk surga kalau dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir di mana di sana ada surga dan neraka.

Namun Rasulullah Saw melanjutkan bahwa salah satu indikator seorang yang beriman adalah ia gemar mengasihi dan mencintai, bahkan terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya sekalipun. Lantas Rasulullah Saw menawarkan tips yang mudah dan simpel namun pengaruhnya luar biasa untuk menciptakan suasana saling mengasihi dan mencintai, apakah itu?, gemarlah menebar salam diantara sesama.

(lanjut …)



Selamat Atas Disahkannya UU Pornografi

Mau'izah Hasanah,Sosial | Saturday, November 8th, 2008

UU Anti PornografiDan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makhruf dan mencegah kepada yang mungkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. ” (QS.Ali Imran: 104)

Dalam Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan : Maksud ayat ini hendaklah ada segolongan umat yang siap memegang peranan ini, meskipun itu merupakan kewajiban setiap individu umat sesuai dengan kapasitasnya, sebagaimana ditegaskan dalam kitab shahih Muslim, dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka hendaklah merubah dengan lisannya dan jika tidak mampu maka hendaklah ia merubah dengan hatinya dan yang demikian itu merupakan selemah-lemahnya iman. “(H.R. Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah bin al Yaman, bahwa Nabi saw pernah bersabda : “Demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, atau Allah akan menyegerakan penurunan adzab untuk kalian dari sisi-Nya, lalu kalian berdo’a memohon kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan untuk kalian.” (H.R. At Tirmidzi dan Ibnu Majah. AtTirmidzi berkata : Hadits ini Hasan).

(lanjut …)



Keimanan yang Benar Pangkal Kebahagiaan Dunia Akhirat

Indah Mulya,Taqwa,Tauhid | Friday, November 7th, 2008

Doa dan ampunan

Diantara doa yang kita panjatkan kepada Allah yang terdapat dalam Al Qur’an adalah : “Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaabannar“. Ya Robb kami berilah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat serta dijauhkan dari api neraka. Para mufasir klasik maupun kontemporer mencoba dan merinci apa saja hasanah fiddunnya dan apa pula hasanah fil akhirah yang terangkum dalam kalimat doa tersebut.

Secara umum para mufasir mengatakan ada 5 (lima) hal yang harus diraih untuk menciptakan hasanah fiddunyaa dan 2 hal untuk mendapatkan hasanah fil akhirah.

  1. Kafafurrizqi atau kecukupan rizqi.
    Maksudnya adalah bahwa setelah mendapatkan hasanah kebaikan, kebahagiaan dan kesuksesan kehidupan di dunia adalah cukupnya rizqi, baik itu rizqi secara individu, keluarga ataupun masyarakat di mana kita tinggal.
  2. Amaanul hayyah, merasa aman dalam menjalani kehidupan ini.
    Aman dari rasa takut, aman dari ancaman baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar diri.
  3. Ustrotus sholehah, memiliki keluarga yang sholeh dan sholehah
    Suami yang sholeh, istri yang sholehah, anak-anak dan cucu yang sholeh dan sholehah.
  4. Afdholuu anilghoir, kita unggul dibandingkan dengan orang.
  5. Shehattulbadan, secara jasmani kita sehat.

(lanjut …)



Semangat Merdeka!

Al-Huda,Kisah,Sosial | Thursday, November 6th, 2008

MerdekaMerdeka itu bukan hanya masalah bangsa dan negara“, demikian dituturkan almarhum Mr. Moh Roem dalam satu kesempatan memperingati hari proklamasi kemerdekaan di gedung “Majalah Kiblat” Jl KH.Agus Salim – Jakarta Pusat.

Merdeka itu adalah semangat hidup setiap warga bangsa!“.
Setiap kita haruslah mempunyai semangat merdeka, karena kalau tidak demikian, sekalipun bangsa dan negara sudah merdeka, bukan mustahil, orang per orang belum merdeka“.

Pada tahun 1970-an, ketika orde baru sedang kuat-kuatnya, pernyataan Mr. Moh. Roem itu dianggap merupakan salah satu kritik pedas dan keras terhadap kebijakan politik pemerintah masa itu.

Menurut Mr. Moh. Roem hilangnya “semangat merdeka” itu adalah sesuatu yang berbahaya. Dalam jangka pendek, mungkin pemerintah boleh berpuas diri terjadi “stabilitas politik“, tapi dalam jangka panjang kehilangan semangat merdeka itu membuat bangsa akan menjadi bangsa yang penakut, menjadi bangsa yang kerdil dan bahaya lainnya menurut Moh. Roem bangsa itu suatu hari nanti akan terancam menjadi bangsa yang anarkis.

Setelah 30 tahun peringatan Mr. Moh Roem di tahun 1975 itu berlalu, rasanya apa yang dikhawatirkannya itu ternyata benar-benar terjadi. Bangsa ini menjadi bangsa yang penakut, dan sekaligus menjadi bangsa yang anarkis.



Tafakur

Ibadah,Mimbar Jum'at | Sunday, November 2nd, 2008

TafakurSemakin berkembangnya berbagai aspek kehidupan dunia, baik ekonomi, politik, sosial budaya, bahkan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kita semakin terbelenggu bermain-bermain dibawah hawa nafsu dan lupa menghitung-menghitung diri dalam ketaatan atas nikmat-nikmat yang diwujudkan Allah ke dalam hati kita.

Kesemua itu diakibatkan oleh semakin pekatnya hati karena kesibukan kita berupaya meraih keinginan diri, tujuan tertentu yang berlebihan serta kurang istiqamahnya dalam beraktifitas diberbagai aspek kehidupan sehingga cenderung niengabaikan dan kurang yakin dengan kekuatan, keagungan dan kebesaran Allah SWT dalam diri kita.

Dalam hal ini ada satu ibadah yang sangat penting yang sering kita lupakan atau sering kita lakukan tetapi hasilnya seringkali diabaikan dan tidak kita benihkan sebagai suatu kesadaran dalam hati dan fikiran untuk kemudian kita tumbuhkan menj adi pendewasaan kerohanian kita. Bahkan terkadang seringkali kita merasa tidak yakin dan sangat berat untuk mengamalkan dan melaksanakan hasil tersebut sebagai usaha peningkatan kesadaran dan pensucian jiwa, yaitu ibadah bertafakur.

(lanjut …)