Menggapai Ketenangan Hidup
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ” (QS Ibrahim : 7).
Rasulullah saw bersabda : “Orang dermawan, dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan syurga, sedangkan orang bakhil (pelit), jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka. Sungguh Allah SWT lebih mencintai hambanya yang bodoh tapi dermawan, dibandingkan dengan ahli ibadah (pandai) tapi pelit (bakhil) ” (Al Hadits-Riwayat Abu Hurairah).
Rasulullah saw bersabda: “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, Kalian tidak akan tersesat bila kalian berpegang teguh kepadanya yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadits)“. (HR Muslim).
Hidup ini memang seperti pergantian siang dan malam. Siang dengan ciri khasnya terang dan malam dengan ciri khasnya gelap. Bagi orang yang sudah tahu ilmunya, tentu tidak ada masalah dengan pergantian siang dan malam.
Hakikat Kemanusiaan Kita
Pada hakikatnya, Allah menciptakan manusia dalam keadaan suci. Takdir kesucian tersebut bersumber dari dorongan untuk selalu menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Dorongan tersebut tertanam kuat di alam bawah sadar, hingga ia terkadang tidak disadari sepenuhnya oleh manusia.
Allah SWT berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi!’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kia-mat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” [QS. al-A'raf (7): 172].
Setiap manusia memiliki kerinduan untuk kembali kepada Tuhan, memenuhi janjinya dalam ayat persaksian tersebut. Inilah dorongan yang mendasari lahirnya agama, yang oleh Ibnu Maskawayh disebut al-Hikmah al-Khalidah atau ‘Kearifan Abadi’. Dengan demikian, penolakan terhadap dorongan itu merupakah sikap melawan hakikat penciptaan manusia itu sendiri.
Bila Buah Hati tak Kunjung Hadir
Salah satu tujuan pernikahan adalah melahirkan generasi shalih yang akan meneruskan kehidupan Bani Adam di muka bumi secara umum dan mengemban tongkat estafet perjuangan umat dalam menyebarkan Islam kepada alam semesta secara khusus.
Allah SWT berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelummu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (Ar-Rad: 38).
Lahirnya anak-anak bagi suami istri merupakan kebahagiaan yang tidak tergantikan. Dapat segera menimang sang buah hati hasil dari cinta kasih keduanya dalam sebuah ikatan suci setelah pernikahan merupakan harapan yang sangat diimpikan.
Kehadiran anak akan menjadi hiasan indah bagi bangunan rumah tangga, tanpanya hati suami istri terasa hampa, tanpanya kebahagiaan pernikahaan keduanya seakan belum lengkap dan tanpanya rumah keduanya terasa sepi.
Namun ada satu perkara yang sudah dimaklumi bersama bahwa tidak seluruh keinginan manusia dapat terwujud, karena hidup memiliki Pengatur dan Penata, di tangan-Nya-lah segala urusan dipegang, maka terkadang ada suami istri yang susah punya anak, padahal keduanya sudah menikah beberapa tahun, bahkan telah menempuh segala upaya dan cara, namun sang buah hati belum juga lahir.
Iman
Sahabat Rasulullah Umair bin Habib al-Khatmi ra. biasa berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang.” Seseorang bertanya, “Apa saja yang menambah dan mengurangi iman?” Jawabnya, “Bila kita mengingat Allah, berdo’a pada-Nya, dan mengakui kesempurnaan-Nya, hal itulah yang menambahnya. Bila kita tidak peduli, menyia-nyiakan dan melupakan iman, maka hal itulah membuat iman kita berkurang”.
Dan imam Ahlu Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal, saat ditanya tentang apakah iman bertambah dan berkurang. Dia menjawab, “Iman bisa bertambah sampai mencapai bagian tertinggi dari surga ketujuh. Dan iman
juga menurun sampai mencapai bagian terendah dari lorong-lorong tambang di perut bumi.”
Kedua riwayat (masih banyak riwayat yang lain) menginfoimasikan kepada kita bahwa iman adakalanya meningkat (naik), adakalanya melemah (turun). Tidak ada alat teknologi secanggih apapun yang mampu mendeteksi kapan naik dan kapan iman turun. Bahkan sangat sulit bagi manusia untuk dapat memberikan nilai nominal sebuah keimanan. Karena keimanan bukan bersifat materi, tetapi bersifat immateri / hati / abstrak.
Untuk mengetahui suatu kepastian yang tidak tampak memang sangat sulit. Namun fenomena yang ada pada sesuatu, baik yang konkret maupun yang abstrak, agak mudah untuk diketahuinya. Demikian pula dengan iman. Kita dapat mengetahui lemahnya iman dengan berbagai cara.
Kesaksian Iblis
Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas:
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu”.
Beliau melanjutkan, “itu iblis, laknat Allah bersamanya”.
Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya: ” Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik”.
Pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin”, Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa”.
“Siapa yang memaksamu? ”
“Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin”.
Implikasi Iman
Iman kepada Allah SWT memberikan pengaruh besar pada tingkah laku seseorang. la bagaikan perisai yang menyelimuti hati dari setiap dorongan hawa nafsu.
Orang yang benar-benar beriman merasa bahwa Allah SWT selalu mengawasi dan selalu ada di setiap langkahnya hingga dia akan malu jika hendak berbuat maksiat.
Iman seperti ini bukanlah iman dalam pengertian sederhana, yaitu hanya sekadar tahu bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Tapi, sebuah keyakinan yang didasari penghayatan bahwa Tuhan benar-benar ada dan mengawasinya setiap saat.
Sebagai gambaran, misalnya, seorang pencuri tak akan pernah menghiraukan ancaman petugas walau terus memburu dan mengawasi gerak-geriknya. Bahkan, ia akan terus mencari celah kesempatan melancarkan aksinya.
Tapi, bila timbul rasa sadar karena merasa diawasi Allah SWT, kemungkinan besar perbuatan tercela itu akan ditinggalkannya. Sebab, dia yakin tak ada celah sedikit pun untuk melepaskan diri dari pengawasan-Nya.
Mengukur Kebajikan
Di dalam Al Qur’an (surat Al Baqarah ayat 177) ada ungkapan al Birr, artinya kebajikan. Lafal ayatnya adalah: Laisal birra an tuallu wujuuhakum qibalai masyrikqi wal maghrib (Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan).
Ayat ini turun sehubungan dengan sikap penduduk muslim di Madinah pada waktu itu. Mereka merasa sebagai orang-orang baik, sedangkan yang lain (non muslim) sebagai orang-orang yang tidak baik (sesat). Untuk menyadarkan penduduk Madinah yang telah bersikap salah itu, turunlah ayat ini.
Pengertian dan Sikap Keliru
Khalifah Umar ibnu al Khaththab pernah mengatakan: “Tidaklah dapat mengukur keimanan dan keislaman seseorang karena ia telah melaksanakan shalat, tidak juga karena ia telah berpuasa, tidak juga karena telah membayar zakat hartanya, dan tidak juga karena ia telah menunaikan ibadah haji. Akan tetapi keimanan dan keislaman seseorang harus terlihat pada kehidupannya sehari-hari “.
Adalah pernyataan dan sikap keliru jika seseorang yang telah melaksanakan shalat lalu dikatakan sebagai orang baik. Betapa banyak orang yang telah menjalankan ibadah shalat, baik shalat lima waktu (shalat fardhu) maupun shalat-shalat sunat akan tetapi (ternyata) ia masih suka berbohong, mengucapkan kata-kata kotor, suka menggosip, benci kepada seseorang, mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya (bukan hanya itu), bahkan ia juga terlibat kasus korupsi dan lain-lain.
Cinta Hakiki
Cinta memang sebuah kata yang unik. Manusia tenggelam dalam kesesatan dan kedurjanaan gara-gara cinta. Manusia tidak kuat menanggung hidup ini dan akhirnya rela menghabisi nyawa sendiri gara-gara cinta.
Manusia rela menohok kawan, menjilat atasan menginjak yang lemah gara-gara cinta. Pasangan muda-mudi melarikan diri dari orang tua dan durhaka kepadanya, gara-gara cinta. Kata cinta mewakili sebuah perasaan yang menakjubkan.
Cinta merupakan sumber kebahagiaan, cinta merupakan sumber pengorbanan, cintasumberkehancuran, cinta sumber kemuliaan, cinta siunber keselamatan, dan seterusnya, dan cinta adalah anugerah dari Yang Maha Agung, yaitu Yang menjadi sumber cinta dan segala kecintaan. Maka harus hati-hati dengan cinta. Manakah cinta yang mampu membangkitkan semangat mencapai kemuliaan hidup? Cinta yang manakah yang hakiki?
Manusia mencintai sesuatu karena berbagai sebab. Manusia cinta pada bunga, karena bunga itu indah warnanya menyejukkan hati siapa yang memandangnya Keindahan dan semerbaknya harum bunga menarik simpati manusia untuk menyukai dan mencintainya. Demikian juga manusia mencintai harta benda, karena harta adalah sarana untuk mempertahankan hidup dan mencapai kebahagiaan.
Kalau manusia dapat mencintai keindahan bunga, harta benda, anak-anak, wanita yang cantik, namun mengapa manusia tidak dapat mencintai yang menciptakan itu semua?
Usaha dan Doa
Di dalam kehidupan umat, doa adalah tumpuan hidup sehari-hari, maka tidak sedikit yang menjadikan doa itu sebagai gantungan dalam hidupnya. Hal ini dapat kita lihat dan kita rasakan di saat seseorang atau sekelompok orang akan memulai suatu usaha atau pekerjaan, hati mereka secara spontanitas langsung berbisik, semoga Tuhan memberikan kemudahan serta keberhasilan sebagaimana yang mereka harapkan.
Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan peranan do’a dalam kehidupan manusia di dunia ini. Hal ini diakui oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Doa itu adalah mukhul (penggerak) ibadah (kegiatan hidup setiap manusia)“.
Berdasarkan petunjuk di atas, maka doa dapat kita simpulkan ke dalam dua kerangka, Pertama, mengikuti sunnah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan kerangka kedua adalah doa itu suatu cita-cita hidup bagi yang berdoa.
Dalam upaya pembentukan pribadi yang kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai peristiwa yang sulit, dan rintangan-rintangan yang sukar diatasi, maka doa dan iman merupakan benteng yang kokoh dan kuat untuk mengatasinya.
Dengan demikian pribadi seseorang tidak mudah menjadi ambruk, akan tetapi dapat bergerak secara sadar dan tetap berpijak pada kaidah-kaidah kebenaran dan nilai-nilai moral. Demikian janji Allah kepada orang-orang yang selalu mengkikuti petunjuk-petunjuk-Nya dan bersabar (QS. Al-Maidah [5]: 69, QS. Ali Imran [3]: 120, QS. Al-Ahqaf [46]: 13).
Tiga Serangkai
Di antara kosa kata yang sangat penting dalam agama Islam ialah tiga serangkai Iman, Islam dan Ihsan. Pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti, bahwa Islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempuma tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan menjadi mustahil tanpa iman, dan iman tidak mungkin tanpa inisial Islam.
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa agama terdiri dari tiga serangkai unsur: islam, iman dan ihsan. Di dalam ketiga unsur itu teselip makna kejenjangan yaitu orang mulai dengan islam, berkembang ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan.
Islam
Didapat gambaran dalam surah Al Hujuraat ayat 14, ketika orang-orang Arab Badui mengakui “telah beriman”, tetapi Nabi diperintahkan Allah SWT untuk mengatakan kepada mereka, bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru berislam, sebab iman belum masuk ke dalam hati mereka.
Jadi, iman lebih mendalam ketimbang Islam, sebab dalam konteks ayat itu, orang Arab Badui barulah tunduk kepada Nabi secara lahiriah, dan itulah makna kebahasaan “Islam”, yaitu “tunduk” atau “menyerah”. Kata al-Islam (umumnya) lebih dipahami sebagai nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Padahal, kata Islam sebetulnya banyak diketemukan dalam Kitab Suci, mengandung pengertian sikap pada sesuatu yaitu kepasrahan atau penyerahdirian kepada Tuhan. Sikap itulah yang disebutkan sebagai sikap keagamaan yang benar dan diterima Tuhan.
Next Page »














