sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Masih Bolehkah Kita Tidak Bersyukur Kepada Allah?

unduk | Taqwa, Tauhid | Friday, March 12th, 2010
bersyukur

bersyukur

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang ” (QS. An Nahl: 18)

Ketika kita kecil, di musholla kecil yang mungkin tempat kita pertama belajar mengaji, selalu diajarkan oleh guru kita, betapa nikmat yang diberikan Allah begitu besar. Dari bentuk tubuh kita yang sempurna sampai kemampuan kita untuk bisa belajar. Itu semua adalah karunia Allah yang harus disyukuri.

Bilamana tangan kita berfungsi dengan baik, kaki, mata, hidung, mulut, telinga, semua adalah pemberian Allah yang tidak bisa kita balas dengan apapun. Termasuk kehidupan yang kita jalani adalah kemurahan Allah pada makhluk-Nya.

Ketika kita berada di lingkungan keluarga yang lengkap, diberi istri atau suami yang selalu menenteramkan hati, diberi anak-anak yang menggembirakan, diberi orang tua yang menyayangi kita. Ini semua juga bentuk kasih sayang Allah pada manusia.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Menggapai Ketenangan Hidup

unduk | Taqwa, Tauhid | Thursday, February 25th, 2010
selalu ingat kepada Allah

selalu ingat kepada Allah

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ” (QS Ibrahim : 7).

Rasulullah saw bersabda : “Orang dermawan, dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan syurga, sedangkan orang bakhil (pelit), jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka. Sungguh Allah SWT lebih mencintai hambanya yang bodoh tapi dermawan, dibandingkan dengan ahli ibadah (pandai) tapi pelit (bakhil) ” (Al Hadits-Riwayat Abu Hurairah).

Rasulullah saw bersabda: “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, Kalian tidak akan tersesat bila kalian berpegang teguh kepadanya yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadits)“. (HR Muslim).

Hidup ini memang seperti pergantian siang dan malam. Siang dengan ciri khasnya terang dan malam dengan ciri khasnya gelap. Bagi orang yang sudah tahu ilmunya, tentu tidak ada masalah dengan pergantian siang dan malam.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Kekuatan Sabar

unduk | Akhlaq, Taqwa | Wednesday, January 6th, 2010
sabar ikhlas menanti

sabar ikhlas menanti

Secara etimologis, sabar berarti menahan, seperti kata, “Qutila fulanun shobr”, artinya, “si Fulan terbunuh dalam keadaan ditahan”. Oleh karenanya, seseorang yang menahan diri terhadap sesuatu dikatakan orang yang sabar.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45).

Menurut Ibnu Jarir, redaksi ayat itu memang memperingatkan Bani
Israel
, namun yang dimaksud bukan mereka semata. Ayat ini mencakup mereka dan orang-orang selain mereka.

Ibnul-Mubarak berkata dengan sanadnya dari Said bin Jubeir, “Sabar ialah pengakuan hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya, mengharapkan ridha Allah semata dan pahala-Nya. Kadang-kadang seseorang bertahan dengan gigih dengan menguatkan diri, dan tidak terlihat dari dia kecuali kesabaran.”

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Hakikat Kemanusiaan Kita

unduk | Taqwa, Tauhid | Tuesday, November 17th, 2009
merenung sendiri

merenung sendiri

Pada hakikatnya, Allah menciptakan manusia dalam keadaan suci. Takdir kesucian tersebut bersumber dari dorongan untuk selalu menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Dorongan tersebut tertanam kuat di alam bawah sadar, hingga ia terkadang tidak disadari sepenuhnya oleh manusia.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi!’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kia-mat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” [QS. al-A'raf (7): 172].

Setiap manusia memiliki kerinduan untuk kembali kepada Tuhan, memenuhi janjinya dalam ayat persaksian tersebut. Inilah dorongan yang mendasari lahirnya agama, yang oleh Ibnu Maskawayh disebut al-Hikmah al-Khalidah atau ‘Kearifan Abadi’. Dengan demikian, penolakan terhadap dorongan itu merupakah sikap melawan hakikat penciptaan manusia itu sendiri.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Bila Buah Hati tak Kunjung Hadir

unduk | Akhlaq, Taqwa, Tauhid | Monday, November 2nd, 2009
bayi lucu

bayi lucu

Salah satu tujuan pernikahan adalah melahirkan generasi shalih yang akan meneruskan kehidupan Bani Adam di muka bumi secara umum dan mengemban tongkat estafet perjuangan umat dalam menyebarkan Islam kepada alam semesta secara khusus.

Allah SWT berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelummu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (Ar-Rad: 38).

Lahirnya anak-anak bagi suami istri merupakan kebahagiaan yang tidak tergantikan. Dapat segera menimang sang buah hati hasil dari cinta kasih keduanya dalam sebuah ikatan suci setelah pernikahan merupakan harapan yang sangat diimpikan.

Kehadiran anak akan menjadi hiasan indah bagi bangunan rumah tangga, tanpanya hati suami istri terasa hampa, tanpanya kebahagiaan pernikahaan keduanya seakan belum lengkap dan tanpanya rumah keduanya terasa sepi.

Namun ada satu perkara yang sudah dimaklumi bersama bahwa tidak seluruh keinginan manusia dapat terwujud, karena hidup memiliki Pengatur dan Penata, di tangan-Nya-lah segala urusan dipegang, maka terkadang ada suami istri yang susah punya anak, padahal keduanya sudah menikah beberapa tahun, bahkan telah menempuh segala upaya dan cara, namun sang buah hati belum juga lahir.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Menuju Pintu Ampunan Allah

unduk | Ibadah, Taqwa | Thursday, October 15th, 2009
pintu taubat

pintu taubat

Pada hakikatnya, setiap orang beriman mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Allah SWT. Dia berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 186).

Kedekatan seorang Mukmin dengan Allah, mendatangkan manfaat sangat besar. Tidak ada doanya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampuni, tidak ada kesulitannya yang tidak dimudahkan. Bahkan, gerak ibadahnya terasa nikmat karena didasarkan pada rasa cinta kepada Zat Yang Maha agung.

Karena itu, setiap Mukmin hendaknya menjaga kedekatan dengan-Nya. Memang istiqamah di jalur ini berat. Bahkan, bagi sebagian orang teramat berat. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Minhaj Al ‘Abidin mengingatkan, menjaga kedekatan dengan Allah tidaklah mudah. Godaan setan dan gejolak hawa nafsu akan terus menghadang.

Begitu pandai setan menggoda, hingga banyak muncul lelucon bahwa dosa kecil adalah biasa, sedangkan dosa besar dapat dihapus di hari tua dengan giat ibadah.

Dalam sebuah riwayat Ibnu Mas’ud mengatakan, “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, ia seperti duduk di bawah gunung. la khawatir kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.” (HR Bukhari).

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Jangan Bersedih

unduk | Akhlaq, Taqwa | Thursday, October 8th, 2009

korban gempa padang

korban gempa padang

Musibah demi musibah datang silih berganti menerpa negeri ini. Jumlah kerugian sudah tidak terhitung lagi. Ada kerugian materi dan fisik. Ada pula kerugian psikologis. Apa rahasia di balik semua ini? Apakah ini ujian, laknat, ataukah hanya cara kerja alam mematuhi amanat Tuhan?

Alam dan semua yang terjadi di dalamnya merupakan rentetan kalimat-kalimat walau tidak tersusun dari huruf-huruf, dan tidak pula terangkai dari kata-kata. Di dalamnya sarat dengan isyarat dan penuh dengan ibrah (pelajaran).

Setiap mata diharapkan dapat membaca ayat-ayat alam dan menelaah kalimat-kalimat yang beredar di jagat raya. Pun demikian dengan telinga, diharapkan terbuka untuk mendengarkan suara-suara yang menggema di dalamnya.

Masalah penciptaan, hidup dan mati, Allah rumuskan dengan tujuan yang jelas. Allah menegaskan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron [3]: 190-191)

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Kita Tidak Hidup Sendiri

unduk | Sosial, Taqwa | Wednesday, October 7th, 2009
terminal the movie

terminal the movie

Ketika bangunan menjulang baru berdiri. Pesta digelar memeluk decak kekaguman. Tetapi, adakah mereka bertanya, di manakah wahai para kuli bangunan ? Padahal, di antara para kuli itu mungkin ada yang terjatuh dari lantai tujuh, mati tanpa asuransi, meninggalkan istri dan anaknya cemas menanti.

Ketika seseorang mangkat. Para pengiring jenazah didera haru. Dan setelah prosesi doa sambutan usai, tolan dan para kerabat itu akhirnya pulangjuga ke rumahnya. Tetapi, adakah yang teringat siapakah gerangan para tukang gali kuburan?

Maka sadarlah bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun kenikmatan tanpa jasa orang lain yang bahkan tidak pernah kita kenal. Dialah ‘orang -orang lemah’ yang telah berjasa menapaki jalan panjang untuk menghantarkan sepiring nasi di atas meja hidangan.

Sungguh kita sering melupakan jasa mereka. Kita lupa, siapa gerangan paraji, dukun beranak atau bidan yang membantu pesalinan ketika kita lahir. Kita pun sudah lupa siapa nama guru SD kelas satu. Padahal dialah manusia pertama yang mengajarkan huruf dan angka.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan diberi rejeki dan pertolongan karena jasa kelompok orang-orang yang miskin.” (HR Abu Dawud)

Pada hati yang hancur ada kekuatan yang memberikan cahaya bagi orang yang mau memperhatikannya. Sehingga, Allah berfirman bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang menyadari bahwa pada harta mereka ada hak orang yang meminta maupun yang tidak meminta (QS Adz Dzaariyaat [51]: 20)

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Iman

unduk | Taqwa, Tauhid | Thursday, October 1st, 2009
mengingat Allah

mengingat Allah

Sahabat Rasulullah Umair bin Habib al-Khatmi ra. biasa berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang.” Seseorang bertanya, “Apa saja yang menambah dan mengurangi iman?” Jawabnya, “Bila kita mengingat Allah, berdo’a pada-Nya, dan mengakui kesempurnaan-Nya, hal itulah yang menambahnya. Bila kita tidak peduli, menyia-nyiakan dan melupakan iman, maka hal itulah membuat iman kita berkurang”.

Dan imam Ahlu Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal, saat ditanya tentang apakah iman bertambah dan berkurang. Dia menjawab, “Iman bisa bertambah sampai mencapai bagian tertinggi dari surga ketujuh. Dan iman

juga menurun sampai mencapai bagian terendah dari lorong-lorong tambang di perut bumi.”

Kedua riwayat (masih banyak riwayat yang lain) menginfoimasikan kepada kita bahwa iman adakalanya meningkat (naik), adakalanya melemah (turun). Tidak ada alat teknologi secanggih apapun yang mampu mendeteksi kapan naik dan kapan iman turun. Bahkan sangat sulit bagi manusia untuk dapat memberikan nilai nominal sebuah keimanan. Karena keimanan bukan bersifat materi, tetapi bersifat immateri / hati / abstrak.

Untuk mengetahui suatu kepastian yang tidak tampak memang sangat sulit. Namun fenomena yang ada pada sesuatu, baik yang konkret maupun yang abstrak, agak mudah untuk diketahuinya. Demikian pula dengan iman. Kita dapat mengetahui lemahnya iman dengan berbagai cara.

(lanjut …)



sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Menjaga Ketaqwaan

unduk | Ibadah, Taqwa | Tuesday, September 29th, 2009
gadis kecil

gadis kecil

Ramadhan yang agung baru saja berlalu dengan membawa kenangan manis. Kaum Muslimin yang menjalankan ibadah shaum dengan penuh keimanan berharap memperoleh ketakwaan sebagai hasil dari ibadah individual dan sosial selama satu bulan penuh, (QS. Al-baqarah: 183).

Kini, umat Islam telah memasuki Syawal. Secara bahasa, Syawwal berasal dari suku kata syala, ya syulu, syawwal artinya meningkat. Orang yang puasanya memperoleh hasil yang sempurna sehingga mendapat predikat takwa terlihat saat memasuki Syawal. Ibadahnya kepada Allah tetap konsisten atau dalam bahasa agama disebut istiqamah. Serta hubungannya terhadap makhluk lain (ibadah sosial) tetap terjaga dengan baik.

Adapun orang yang puasanya hanya memperoleh lapar dan haus saja adalah mereka yang ibadahnya menurun. Kekhawatiran baginda Rasululah SAW akan penurunan kualitas ibadah umatnya terbukti pada saat ini. Contoh sederhana, saat memasuki Syawal, masjid kembali sepi, Al-Quran kembali diparkir di rak buku, sajadah tetap rapi terlipat di almari.

Ketakwaan pada bulan Ramadhan tahun ini semestinya , tetap dijaga dengan baik. Sangat disayangkan jika cahaya, hidayah, dan ampunan Allah yang sudah diraih umat Islam dengan susah payah. melalui pengorbanan berupa kesabaran yang besar, kemudian luntur begitu saja.

(lanjut …)






Next Page »