Keutamaan Sholat Diawal Waktu

Mimbar Jum'at | Saturday, May 19th, 2012
sholat

sholat

Rasulullah SAW bersabda, “Apa pendapat kalian jika di depan pintu salah seorang kalian terdapat sungai lalu ia mandi di dalamnya lima kali tiap hari, apakah masih tersisa kotoran dari padanya ?” para sahabat menjawab, “Tentu tidak akan tersisa sedikitpun kotoran dari padanya “. Beliau berkata, “Demikian pula dengan sholat lima waktu, dengan sholat itu , Allah menghapus dosa-dosa”. HR. Bukhari dan Muslim.

Irama kehidupan Jakarta dan kota-kota besar lainnya, kadang melalaikan kita dari beribadah kepada Allah, termasuk amalan ibadah Sholat. Sholat yang tidak membutuhkan banyak pengorbanan materi, tenaga dan waktu ini justru menjadi amalan ibadah yang paling sering dan susah untuk diamalkan dengan baik, tentunya yang dimaksudkan disini adalah Sholat yang selalu terjaga waktunya, yaitu di awal waktu.

Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah, ‘Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah ?’ , Beliau bersabda, ‘Sholat pada waktunya’, Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi ?’, Beliau bersabda, ‘Berbakti kepada kedua orang tua’, Saya bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi ?’, Beliau bersabda, ‘Berjihad (berjuang) di jalan Allah’. Saya berdiam diri dari Rasulullah. Seandainya saya meminta tambah, niscaya beliau menambahkannya. HR.Bukhari.

Dari hadits ini kita bisa mengetahui bahwa ada beberapa amalan yang disukai Allah dan  amalan Sholat tepat pada waktunya adalah yang paling dicintai Allah.

(lanjut …)



Kewajiban Terhadap Harta

ekonomi,Mimbar Jum'at,Taqwa | Wednesday, April 7th, 2010
harta

harta

Diantara semua agama yang ada di dunia ini, hanya Islamlah satu-satunya agama yang tidak memisahkan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, sehingga ungkapan hikmah yang berbunyi, “ad-dunya mazra ‘atu al-akhirak” (dunia adalah tempat bercocok tanam untuk kepentingan akhirat) sangat populer di tengah-tengah muslim. Salah satu prinsip Islam dalam kehidupan duniawi ialah tentang kewajiban manusia terhadap harta benda.

Harta atau kebendaan yang dimaksud di sini adalah semua jenis benda dan barang untuk bekal hidup manusia, seperti pangan, sandang, papan, perhiasan dan sebagainya. Kewajiban manusia untuk menuntut dan mencari harta itu secara patut, berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan selalu mengharapkan ridha Allah SWT.

Tidak boleh seseorang mencari harta itu dengan menjadikan dirinya sebagai pengemis atau peminta-peminta, kecuali jika ia sudah benar-benar tidak bedaya.

Demikian pula Islam tidak membolehkan seseorang mencari dan mengumpulkan harta dengan penuh tipu daya, menyalahgunakan wewenang dan jabatan, dengan cara yang tidak halal, dan sebagainya.

(lanjut …)



Waladun Shaleh

Akhlaq,Mimbar Jum'at,Parenting,Sosial | Friday, January 29th, 2010
santri cilik belajar komputer

santri cilik belajar komputer

Anak dalam bahasa Arab disebut waladun, suatu kata yang mengandung penghormatan sebagai makhluk Allah yang tengah menempuh perkembangan menjadi abdi Allah yang shaleh.

Anak menurut ajaran Islam adalah amanah Allah yang dititipkan kepada orang tuanya. Amanah tersebut menuntut adanya keharusan orang tua menghadapi dan memperlakukannya dengan sungguh-sungguh, hati-hati, teliti dan cermat. Sebagai amanah anak harus dijaga, dibimbing dan diarahkan selaras dengan apa yang diamanahkan.

Memandang anak dalam kaitan dengan pase perkembangan membawa arti bahwa,

  1. Anak diberikan tempat khusus yang berbeda dunia dan kehidupannya dengan orang dewasa,
  2. Anak memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dari orang dewasa dan para pendidiknya. Oleh sebab itu, Islam memandang anak secara riil dan lebih professional. Artinya kehidupan anak tidak boleh dilepaskan dari dunianya serta berbagai dimensinya.

(lanjut …)



Memihak Rakyat

Mimbar Jum'at,Sosial | Thursday, July 30th, 2009
rakyat kecil

rakyat kecil

Rasulullah Saw mengatakan, pemimpin adalah khadimul qaum (pelayan bagi kaum-nya). Artinya tugas pemimpin itu memberikan pelayanan yang optimal kepada rakyat dengan memelihara segala urusan, kesejahteraan, dan kemaslahatan rakyatnya.

Rasulullah telah mengingatkan para pemimpin yang tidak amanah bahwa mereka kelak tidak akan pernah mencium wanginya surga. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuk memelihara dan mengurusi kemaslahatan rakyat lalu dia tidak melingkupi rakyat dengan nasihat kecuali ia tidak akan mencium harumnya surga“. (HR. Bukhari).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw menegaskan, “Tidak seorang hamba pun yang diserahi Allah memelihara dan mengurus (kepentingan) rakyat, lalu meninggal, sementara ia menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan atas dirinya surga.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ad-Darimi).

Bahkan, Rasulullah mendo’akan pemimpin yang menyengsarakan rakyatnya agar Allah menimpakan kesengsaraan yang sama kepada mereka. Do’a Rasulullah Saw, “Ya Allah, siapa saja yang memegang urusan umatku dan bersikap memberatkan atau menyulitkan mereka, maka balaslah dengan perlakuan yang sama. Siapa saja yang memegang urusan umatku lalu bersikap lembut kepada mereka, balaslah dengan perlakuan yang sama” (HR. Muslim).

(lanjut …)



Ukhuwah

Akhlaq,Mimbar Jum'at,Sosial | Monday, July 20th, 2009
menjalin ukhuwah

menjalin ukhuwah

Dalam era globalisasi saat ini, dimana duniaterasa semakin mengecil ibarat hanya sebuah kota kecil (apa yang terjadi di belahan dunia lain dapat dengan mudah dan dalam waktu yang cukup cepat dapat kita akses), ada kecenderungan nilai-nilai ukhuwah islamiyah sebagai perekat persaudaraan semakin memudar.

Bahkan upaya pengembangan persaudaraan muslim, hanya dalam batas kelompok-kelompok kecil saja, yang pada akhirnya terperosok ke dalam lingkup sektarianisme ekslusif yang dapat merugikan masa depan pengembangan ukhuwah islamiyah. Padahal secara makro, ukhuwah, persaudaraan Islam tidak dibatasi oleh sekat-sekat kelompok dan wilayah, negara, melainkan bersifat universal.

Inilah tantangan yang berada di hadapan umat Islam, bagaimana menciptakan dan memberdayakan prinsip ukhuwah islamiyah ini agar membumi untuk mengantisipasi berkembangnya ukhuwah jahiliyah yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Ukhuwah berarti persaudaraan, dari akar kata yang mulanya berarti memperhatikan. Ukhuwah fillah atau persaudaraan sesama muslim adalah suatu model pergaulan antar manusia yang prinsipnya telah digariskan dalam al-Quran dan al-Hadits. Yaitu suatu wujud persaudaraan karena Allah.

(lanjut …)



Keuntungan

ekonomi,Mimbar Jum'at,Sosial | Saturday, June 20th, 2009
uang banyak

uang banyak

Ciri kapitalis itu dua:

Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya.

Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional muslim:

Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.

Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya.

Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

(lanjut …)



Berawal dari Rumah

Akhlaq,Mimbar Jum'at,Sosial | Thursday, June 11th, 2009

rumah

rumah

Kita semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kita pimpin. Mengingat itu, ada pelajaran sangat penting yang diajarkan Rasulullah SAW tentang kepemimpinan, “Sayyidul gaumi khadimuhum” (pimpinan suatu kaum adalah pelayan yang berkhidmat untuk kaumnya).

Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu menjadi tanda bahwa pemimpin tersebut mulia karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya.

Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak harta dan segenap kemampuannya. Dia bekerja lebih keras dan berpikir lebih kuat, lebih lama, dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Demikianla hpemimpin sejati yang dicontohkanNabi. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya.

Hal yang sangat menakjubkan adalah bertahannya pengaruh kepemimpinan Rasulullah hingga saat ini. Kita bisa melihat bahwa tidak ada satu pun kegiatan ritual di dunia ini seperti shalat dalam Islam. Ia wajib dilakukan sebanyak lima kali sehari.

Semuanya diawali dengan bersuci (berwudhu). Kemudian membuat barisan dengan tertib, dan seluruh dunia menggunakan bahasa yang sama serta arah yang terpusat, sehingga tidak pernah ada satu sisi dunia pun yang tidak bersujud. Semuanya bergiliran dan berlangsung terus-menerus, tanpa henti.

(lanjut …)



Hasad

Akhlaq,Mimbar Jum'at | Wednesday, May 27th, 2009

Dosa hasad merupakan dosa yang pertama dilakukan iblis yang enggan tunduk memberi penghormatan kepada Adam as sehingga ia dikutuk Allah SWT. Sedang dosa yang pertama muncul di bumi ialah dosa yang dilakukan Qabil karena hasad kepada saudaranya sendiri yang bernama Habil. Habil dibunuh Qabil yang hasad karena iri akan nikmat yang diperoleh Habil yang qurbannya diterima Allah SWT.

Di dalam Al-Quran dikisahkan:

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurutyangsebenarnya, ketika keduanya memper-sembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
la berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”
Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”.
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya.
Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? ” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal

(QS. Al-Maidah[5]: 27-31).

Oleh karena itu, dalam QS. Al-Falaq [113] ayat 5 Allah S WT menginformasikan kepada kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan orang yang hasad apabila ia hasad.

(lanjut …)



Hadiah

Mimbar Jum'at,Sosial | Sunday, May 17th, 2009
hadiah

hadiah

Seperti makna pepatah, bagaimanapun hati-hatinya kita menaruh piring di raknya, pastilah akan bersentuhan dengan piring yang lain. Seperti itulah kira-kira gambaran yang selalu terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, pastilah selalu saja ada kata-kata atau tingkah laku kita yang membuat orang lain tersinggung, kendati kita sudah berhati-hati untuk menjaga tutur kata dan tingkah laku.

Rasa tersinggung yang muncul, akibat kesalahan yang tidak disengaja itu jika tidak segera disikapi dengan baik, maka dia akan membesar, dan bisa-bisa menimbulkan rasa kecewa dan benci. Dan situasi yang demikian, akan dimanfaatkan dengan baik oleh setan untuk merusak tali persaudaraan dan kekerabatan. Sehingga, sesama mukmin akan saling balas marah, bahkan, dalam situasi tertentu, kebencian bisa terbawa-bawa sampai ke anak cucu. Rasulullah saw. bersabda, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan bencipun demikian” (HR. Bukhari).

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, sering terjadi dalam kehidupan kita. Misalnya yang berselisih paham adalah orang tuanya, tetapi si anak pun terkadang suka ikut-ikutan. Bahkan, ada pula orang tua yang memperingatkan anaknya untuk tidak berbaikan dengan orang tertentu karena orang tersebut telah menyakiti perasaannya. Sebaliknya jika yang berselisih adalah anak-anaknya, sering pula para orang tua turut ikut-ikutan.

Jika amarah diibaratkan dengan api, dan untuk memadamkannya haruslah disiram dengan air, maka perumpamaan yang tepat untuk adalah menjalin silaturrahim. Sekeras apa pun sebuah kebencian, boleh jadi rapuh dengan beberapa celah kasih sayang dan sentuhan persaudaraan. Orang yang ditengah diselimuti kemarahan dan kebencian sebenarnya sangat membutuhkan perhatian. Tidak jarang, kebencian bisa luluh hanya dengan perhatian dan sapaan yang tulus.

(lanjut …)



Jerat Hutang

ekonomi,Mimbar Jum'at,Sosial | Thursday, May 14th, 2009
tragedi kartu kredit

tragedi kartu kredit

Hidup di zaman sekarang ini, nyaris setiap orang tidak terlepas dari hutang. Memang istilah “ngutang”, sekarang ini sudah tidak lagi populer, yang populer adalah istilah kredit atau menyicil, tapi itu juga sama saja dengan mengutang.

Boleh dibilang hampir setiap barang dapat dibeli dengan sistem kredit. Beli rumah, beli perabotan rumah, beli kendaraan, apalagi sekarang ini ada kartu yang bentuknya seperti KTP yang dikenal dengan nama kartu kredit, para pemilik kartu ini ketika berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan cukup dengan menggesekkannya, lalu tanda tangan, maka barang belanjaan sudah dapat dibawa pulang. Kita sudah sangat dimanja dengan kemudahan untuk berhutang.

Tidak tertutup kemungkinan seorang mukmin dapat terjebak dalam jerat-jerat hutang. Ketika berhadapan dengan masalah keuangan, memilih untuk berhutang menurut sebagian orang adalah solusi alternatif. Kendati demikian seorang mukmin harus mengetahui dan menyadarai bahwa berhutang mempunya efek mudharat (bahaya) yang luar biasa. Diantaranya adalah:

1. Dapat menjatuhkan harga diri

Harga diri seorang mukmin begjtu tinggi. Tak seorang pun yang mampu merendahkannya. Karena mukmin punya keterikatan dengan Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung.

Namun, kemuliaan itu kadang memudar manakala ada cacat dalam diri seorang mukmin. Diantara cacat itu adalah ketidak-berdayaan membayar hutang. Saat itu juga, terselip dalam diri seorang mukmin itu perasaan rendah dan hina. Bayang-bayang ketidak-mampuan itu menjadikan dirinya tak lagi berdaya di hadapan orang lain. Terutama dihadapan orang yang memberi hutang. la tak lagi mampu menangkis amarah, celaan, bahkan gugatan hukum sekali pun.
(lanjut …)







Next Page »