
anak yatim afghanistan
Sinyalemen kemunduran umat Islam pada saat ini sangat tepat dan sangat beralasan, karena kondisi umat Islam sampai hari ini belum bisa tampil sebagai umat yang terbaik sebagaimana yang pernah ditampilkan oleh generasi terdahulu sebelum kita.
Padahal kalau kita kembali kepada Al Qur’an bahwa Allah SWT mewariskan kepemimpinan di muka bumi ini hanyalah diserahkan Allah kepada umat Islam dan orang-orang yang shaleh. “Sungguh telah Kami catat sejak dari dalam Taurat, bahwasanya kepemimpinan di muka bumi ini hanya diserahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh“.
Tidak boleh kepemimpinan di muka bumi ini diserahkan kepada orang-orang kafir, karena jika dipimpim oleh orang-orang kafir akan merusak, mengalami kehancuran dan pertumpahan darah dimana-mana.
Namun sayang kepemimpinan yang diwariskan yang semestinya kepada umat Islam itu sampai hari ini belum kita raih justru kita melihat adanya kemunduran umat Islam yang semakin menjadi-jadi dan sangat sulit untuk bangkit. Kalau kita baca dalam sejarah dahulu 7 abad lebih umat Islam pernah tampil untuk memimpin dunia, dimulai abad pertama sampai menjelang pertengahan abad 8 Hijriah.
Masa kejayaan Islam dulu yang mendapat julukan “khoiru ummah”, umat yang terbaik. Di dalam Al qur’an surat Ali Imran ayat 110 menjelaskan tentang umat yang terbaik dengan melakukan amal ma’ruf dan mencegah yang munkar. Kamu dahulu tampil sebagai umat yang terbaik dan generasi yang pertama itu mendapatkan gelar khairu ummah, karena memang mereka di dalam beragama Islam ini ada penyerahan yang total. Apa yang telah diamanahkan oleh Rasulullah SAW kepada mereka tidak ada yang diabaikan.
(lanjut …)

konstruksi
Pertanyaan :
Saya heran dan bingung dikarenakan selama 40 tahun ini pemerintah Indonesia sibuk membangun. Tapi nyatanya rakyat melarat dan miskin. Padahal ideologi pemerintah disebut dengan “ideologi pembangunan”.
Bukankah selama ini kita dijejali “pohtik, no! Pembangunan, yes!” Sehingga saya menjadi orang yang “anti politik”. Bahkan saya jijik ama politik. Apalagi teman-teman kuliah saya dahulu yang “mahasiswa politik” itu kerjanya hanya “bikin ribut”, hanya “bikin rusuh”. Hanya “tukang demo” Ribut dengan dosen! Melawan dekan dan pembantu dekan, memprotes rektor.
Sampai sekarang saya benci politik. dengan sanak saudara saya yang “orang politik” saya bikin jarak. Saya jauh dengan mereka Dengan tetangga yang “orang politik” saya tidak mau bergaul. Pendeknya saya anti politik! Titik! Saya pro pembangunan! Titik!
Tapi sekarang, teman-teman saya yang mahasiswa politik itu jadi anggota DPR Rl Yang lebih menjengkelkan ada yang menjadi menteri Dan jadi menteri di departemen tempat saya bekerja dan berkarir Menjengkelkan sekali. Saya tahu siapa dia. Tukang bikin ribut. Tukang bikin rusuh Tidak lebih dari itu. Kenapa dia jadi mentenri? Sungguh tidak adil! Kenapa dunia jadinya terbalik-balik? Padahal prestasi akademisnya nol. Saya tahu benar itu. Saya lebih pantas jadi menteri dibanding dia. Saya lebih tahu urusan departemen saya ketimbang dia.
Jadi saya tanya, kenapa pembangunan pemerintah gagal ?
(lanjut …)

Gaza, Januari 2009
Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya betapapun peristiwa itu tersebut bagi kita memang sangat pahit dirasakan, apalagi peristiwa tersebut adalah peristiwa yang mengharukan kita, biasanya kita sangat mudah menemukan hikmah yang ada di dalamnya. Dari sini akan kita coba lihat hikmah dibalik serangan israel atas bangsa Palestina.
Kita sudah mengetahui sekarang pada peristiwa yang dibicarakan baik di forum-forum, masjid ke masjid dan sebagainya, mereka semua membicarakan penyerangan bangsa Israel kepada saudara-saudara kita yang ada di Palestina Jalur Gaza itu juga pasti memberikan hikmah kepada kita, sehingga yang harus kita cari sekarang adalah tentu bukan hanya sekedar penyelesaian sesaat akan tetapi apa hikmah dibalik peristiwa ini.
Kalau kita menyakini bahwa sesuatu yang terjadi pada alam semesta ini tidak akan mungkin bisa terjadi kalau bukan karena ijin Allah SWT, tidak akan mungkin terjadi kecuali sepengetahuan Allah SWT, artinya apa? kalau kita berpikir secara sekuler kenapa Allah membiarkan begitu banyak korban yang berjatuhan dari anak-anak hingga orang tua bahkan korban itu berada pada pihak yang sebahagian besar adalah kaum muslimin. Kenapa dengan mudah begitu saja tangan-tangan Israel untuk mencabik-cabik wilayah yang mereka sudah sepakati.
Hikmah itu memang kita dapatkan di hari-hari belakangan ini, kalau memang kita cermat untuk melihat peristiwa ini sebagai bagian dari peristiwa yang diijinkan Allah, sebagaimana Allah menjelaskan dalam surat Ali Imran ayat 190 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantiannya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal“.
(lanjut …)

Seorang Khalifah
Kemuliaan itu sudah nampak terlihat ketika Allah SWT memberikan pangkat dan kedudukan yang namanya khalifah, ketika manusianya belum diciptakan dan media buminya belum diciptakan Allah sudah memberikan suatu pangkat dan kedudukan berupa khalifah.
Dalam surat Al baqaroh dan surat At Tiin, kemudian pangkat yang kedua yang diberikan Allah kepada manusia itu setelah diciptakan makhluk dengan “ahsanitagwim” kesempurnaan makhluk dan kesempurnaan ciptaan. Kemudian Allah SWT memilih lagi makhluk-makhluk yang mulia itu berupa pangkat bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.
Eksistensi kehadiran manusia sudah dipertanyakan oleh Malaikat-malaikat mulai sejak Allah SWT mengumandangkan akan menciptakan di atas muka bumi ini seorang khalifah dimana telah digambarkan dalam surat Al baqaroh ayat 30 menjelaskan bahwa Allah mempunyai gagasan besar dan gagasan yang amat mulia kemudian mengundang pertanyaan-pertanyaan para Malaikat tentang gagasan Allah SWT dengan pertanyaannya para Malaikat mempertanyakan eksistensi manusia yang dalam gambaran ayat tersebut: “apakah Engkau akan menciptakan khalifah yang justru membuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah ?”.
Para Malaikat menduga bahwa khalifah ini akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan suatu pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, di mana ada makhluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan Malaikat, maka pasti makhluk itu berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih dan mensucikan Allah SWT.
(lanjut …)
Nilai kebahagiaan yang hakiki
Demi masa sesungguhnya, manusia dalam keadaan rugi, karena dengan berlalunya masa dan waktu semua potensi fisik mengalami kerugian dan kehancuran.
Mata mulai kurang penglihatan, telinga mulai berkurang pendengarannya ini merupakan tanda bahwa kita semua merugi, bukankah itu merupakan fakta bahwa sebaik-baik bekal yang harusnya kita cari di dunia ini adalah berupa bekal taqwa kepada Allah SWT.
Sesungguhnya inti yang kita cari dalam kehidupan ini adalah kebahagiaan bukan harta dan bukan jabatan. Kita ingin bahwa jabatan itu membahagiakan dan kita mengharapkan bahwa harta itu dapat membahagiakan, kita ingin pemilikan terhadap apapun dapat membahagiaan kita, sehingga kita dapat memperoleh kebahagiaan yang hakiki.
Coba kita perhatikan seseorang yang begitu bersemangat untuk menumpuk kekayaan, sebenarnya berawal dari filosofi bahwa untuk menolong orang lain terlebih dahulu menolong diri sendiri, untuk memberi kepada orang lain, maka kita harus memiliki dahulu.
Filosofi inilah yang mengawali semangat kita untuk memiliki harta, filosofi inilah yang membuat kita semangat untuk mencari jabatan dan kedudukan.
(lanjut …)
Tidak terasa kita telah memasuki musim haji, Kita mengetahui gairah umat Islam Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji terhitung sangat luar biasa, karena mulai tahun ini yang masuk daftar tunggu ibadah haji bukan hanya untuk ONH biasa akan tetapi ONH Plus pun sudah ada daftar tunggunya.
Ini menggambarkan betapa gairah umat Islam untuk menjalankan ibadah haji patut kita syukuri. Jatah tahun ini jamaah Indonesia kurang lebih 210.000 orang, itu yang resmi lewat Departemen Agama. Artinya kalau 210.000 jamaah Indonesia berangkat setiap tahun dan seluruhnya mendapatkan haji mabrur lalu kemudian mampu mewujudkan kemabrurannya dalam hidup dan kehidupannya kembalinya ke tanah air, maka dari tahun ke tahun orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan semakin banyak dan jika itu tercapai, maka apa yang dijanjikan oleh Allah, bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat dari langit dan barokah dari bumi akan segera kita rasakan.
Allah SWT berjanji “jika penduduk suatu negeri itu benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka Aku turunkan barokah dari langit dan akan aku tumbuhkan barokah dari bumi, akan tetapi jika bangsa itu mendustakan maka yang akan datang adalah azab yang akan Aku datangkan penduduk pada negeri itu“.
Oleh karena itu kita do’akan mudah-mudahan saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan haji tahun ini dan tahun yang akan datang benar-benar mendapatkan haji mabrur dan diberikan kemauan dan kemampuan untuk mewujudkan kemabruran setelah dia kembali ke tanah air.
(lanjut …)
Manusia diberikan 2 jalan ada yang buruk dan ada yang baik, Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Asy Syams ayat 7-10 yang arfinya “demi jiwa demi diri serta penyempurnaan penciptaannya, lalu Allah itu mengilhamkan jalan ke dalam jiwa itu berbuat kefasikan berbuat kejahatan serta berbuat ketaqwaan, sungguh beruntunglah orang yang selalu mensucikan bathinnya, mensucikan hatinya, mensucikan jiwanya dan sungguh merugilah mereka yang selalu mengotorinya“.
Dari firman Allah tersebut kita mengetahui dalam tubuh ini ada satu unsur yang disebut dengan jiwa atau nafs. Dalam wadah yang disebut jiwa atau nafs itu Allah SWT memberikan 2 (dua) jalan, yaitu jalan untuk berbuat baik ataupun jalan untuk tldak berbuat baik, Apakah jalan untuk melakukan perbuatan positif ataupun untuk perbuatan yang negatif, yang menguntungkan atau merugikan, bergantung kepada manusianya.
Dalam ayat lain Allah berfirman bahwa jika kalian beriman silakan, jika kafir silakan, terbuka jalannya. Mau diapakan wadah ini tergantung pada kita. Bukankah Allah SWT telah memberikan 2 (dua) wadah fujurohaa atau taqwahaa, jalan untuk berbuat kejahatan dan jalan untuk berbuat kebaikan.
Setelah itu Allah mengingatkan kepada kita, qod aflaha man dzakkaha waqadkhaba man dassaha, beruntung orang seandainya wadah itu diisi oleh akhlakul karimah, diisi dengan sifat-sifat yang terpuji. Amat rugilah mereka jika wadah itu dipenuhi dan diisi oleh sifat-sifat kejahatan dan kemudaratan, apakah yang datangnya dari hawa nafsu, syetan, iblis maupun sifat-sifat hewaniah.
(lanjut …)
Doa dan ampunan
Diantara doa yang kita panjatkan kepada Allah yang terdapat dalam Al Qur’an adalah : “Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa adzaabannar“. Ya Robb kami berilah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat serta dijauhkan dari api neraka. Para mufasir klasik maupun kontemporer mencoba dan merinci apa saja hasanah fiddunnya dan apa pula hasanah fil akhirah yang terangkum dalam kalimat doa tersebut.
Secara umum para mufasir mengatakan ada 5 (lima) hal yang harus diraih untuk menciptakan hasanah fiddunyaa dan 2 hal untuk mendapatkan hasanah fil akhirah.
- Kafafurrizqi atau kecukupan rizqi.
Maksudnya adalah bahwa setelah mendapatkan hasanah kebaikan, kebahagiaan dan kesuksesan kehidupan di dunia adalah cukupnya rizqi, baik itu rizqi secara individu, keluarga ataupun masyarakat di mana kita tinggal.
- Amaanul hayyah, merasa aman dalam menjalani kehidupan ini.
Aman dari rasa takut, aman dari ancaman baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar diri.
- Ustrotus sholehah, memiliki keluarga yang sholeh dan sholehah
Suami yang sholeh, istri yang sholehah, anak-anak dan cucu yang sholeh dan sholehah.
- Afdholuu anilghoir, kita unggul dibandingkan dengan orang.
- Shehattulbadan, secara jasmani kita sehat.
(lanjut …)
Simbol kebangkitan Islam
Ada seorang insiyur Arsitek yang senior dan sering mendapat proyek raksasa antara lain adalah jembatan Selat Sunda yang menghubungkan pulau Sumatera dengan pulau Jawa. Ternyata beliau adalah bukan seorang arsitek biasa tetapi beliau telah mengkaji Al qur’an yang begitu lama waktunya.
Dalam perjalanan untuk mengkaji Al qur’an beliau temukan ayat-ayat yang meyakinkan pribadi beliau bahwa era 700 tahun ke depan adalah era kebangkitan Islam. Dan yang lebih mengkejutkan beliau meyakini bahwa kebangkitan Islam dan umat Islam sedunia 700 tahun ke depan akan dimulai take of nya dari Negara Indonesia, ternyata salah satu ayat yang beliau maksud sebagai ayat kebangkitan Islam dan umat Islam di Indonesia adalah ayat pertama dari surat Isra.
Kemudian kita bertanya kenapa kebangkitan Islam itu dari Indonesia, kemudian arsitek itu menjawab karena bangsa Indonesia itu negara yang paling banyak mempunyai jumlah masjid dibandingkan dengan seluruh negara di muka bumi ini. Katakanlah saja bahwa di Mataram dan pulau Lombok saja terkenal dengan negeri 1000 masjid, kadang-kadang dalam satu RT terdapat sebanyak dua masjid di pinggiran Mataram ada dua masjid yang terpaksa harus bergantian untuk melaksanakan sholat di masjid itu karena saking banyaknya jamaah. Semua masjid di bangun secara permanen dengan menara yang menjulang tinggi dan kubah yang sangat spesifik.
(lanjut …)
Diantara mu’jizat Al-Quran
Al-Quran merupakan f irman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.
Konsep-konsep yang dibawa al-Quran selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk mengajak manusia berdialog dengan penafsiran sekaligus memberikan solusi terhadap problema tersebut di manapun mereka berada.
Pada kenyataannya, Al-Quran benar-benar telah mengepung level kecil klasik kesusastraan jahiliyah untuk memperkenalkan pemikiran keagamaan dan konsep-konsep monoteistiknya ke dalam Bahasa Arab. Ia juga menciptakan design dahsyat dalam Bahasa Arab dengan mengubah instrument-instrument teknis pengungkapannya.
Pada satu sisi, ia menggantikan syair metrik dengan bentuk ritmenya sendiri yang tak tertirukan, dan pada sisi lain memperkenalkan konsep-konsep dan tema-tema baru yang mengarah kepada arus besar monoteisme.
Luas dan keberagaman tema Al-Quran merupakan hal yang sangat unik. la menembus sudut pandang paling kabur dalam pikiran manusia, menembus dengan kekuatan nyata jiwa orang beriman bahkan orang yang tanpa iman sekalipun untuk merasakan sesuatu dalam gerak-gerik jiwanya.
(lanjut …)