Hewan Qurban

Al-Huda,Syariat | Friday, November 12th, 2010
hewan qurban

hewan qurban

Hewan qurban adalah kambing, unta dan lembu yang disembelih pada hari Idul Adha sebagai bentuk taqarrub kepada Allah.

Sebuah ayat yang menjadi pertanda disyari’atkannya ibadah Qurban adalah firman Allah sbb: “Maka dirikanlah shalat demi Rabbmu, dan berqurbanlah (an-Nahr).” (QS. Al-Kautsar: 2).

Di antara tafsiran ayat ini adalah “Berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (Yaumun Nahr)“. Tafsiran ini diriwayatkan dari AIi bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas ulama).

Penyembelihan qurban ketika hari raya Idul Adha disebut dengan al-Udhhiyah, sesuai dengan waktu pelaksanaan ibadah tersebut. Sehingga makna al-Udhdhiyah menurut istilah syar’i adalah hewan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, dilaksanakan pada hari An-Nahr (Idul Adha) dengan syarat-syarat tertentu.

(lanjut …)



Perkawinan dengan Saudara Angkat dan Sesusuan

Al-Huda,Syariat | Thursday, May 6th, 2010
saudara

saudara

Pertanyaan:

Saya bersaudara kandung empat orang. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Saya anak tertua berumur 28 tahun. sementar adik kecil, laki-laki berumur 21 tahun.

Disamping kami empat saudara kandung, ayah ibu kami mempunyai seorang anak angkat perempuan yang umurnya dua minggu lebih tua dari umur adik saya yang palihg kecil. Adik angkat itu adalah seorang perempuan.

Adik angkat tersebut sebenarnya adalah anak bibi saya, yaitu anak dari adik ibu saya sendiri. Ibunya meninggal dunia ketika adik angkat saya (yang juga saudara sepupu saya itu) masih berumur tujuh bulan. Yaitu ketika adik tersebut masih menyusu.

Karena itu, dimasa kecil adik angkat saya itu pernah disusukan oleh ibu saya. Tapi tidak lama, yaitu sekitar 10 hari, karena ternyata adik tidak cocok dengan susu ibu, sehingga jatuh sakit, dan kemudian semenjak itu adik disusukan dengan susu formula dan juga susu sapi.

(lanjut …)



Nazar

Al-Huda,Syariat | Thursday, June 25th, 2009

Pertanyaan :

Benarkah ustadz bahwa nazar itu hendaklah hal yang berkaitan dengan adanya sebab. Misalnya, karena anakku selamat dari kecelakaan kereta api, maka besok aku akan berpuasa. Benarkah, bahwa ucapan berpuasa yang demikian sudah merupakan nazar? Sehingga besoknya benar-benar wajib puasa, padahal dia tidak berniat untuk bernazar.

Sementara ucapan yang sama, misalnya saya mau berpuasa besok, tapi tidak ada sebabnya tidak dinamakan nazar. Sehingga tidak menyebabkan wajib puasa besok? Artinya tidak berpuasa juga tidak berdosa?

Sementara dalam contoh pertama hanya mengatakan begitu saja. Tapi tidak berniat nazar. Ataukah nazar itu perlu kepada niat? Jadi seseorang harus lengkap menyatakan : “Karena anak saya selamat dari kecelakaan kereta api, maka saya bernazar akan berpuasa besok”.

Jawaban :

Dari sudut kebahasaan, arti nazar adalah “janji untuk berbuat suatu perbuatan”. Baik janji untuk melakukan perbuatan buruk, ataupun janji untuk melakukan perbuatan baik.

Sementara disisi syara’ (syari’at), dimaksudkan dengan nazar adalah janji untuk melakukan suatu perbuatan baik. Serta tidak ada nazar untuk melakukan perbuatan buruk. Karena itu sepakat para ulama bahwa haram hukumnya melakukan nazar untuk melakukan suatu perbuatan buruk Karena nazar untuk melakukan perbuatan buruk itu adalah sesuatu yang haram maka wajibnya untuk tidak menunaikannya.

(lanjut …)



Kehidupan Rumah Tangga dimasa Menopause

Al-Huda | Sunday, June 7th, 2009

menopause

menopause


Pertanyaan :

Saya tujuh saudara, semuanya perempuan Saya adalah anak keempat, dan sekarang berumur 44 tahun dengan empat orang anak, yang tertua berumur 21 tahun, dan yang terkecil 12 tahun.

Kakak tertua saya berumur 50 tahun, keadaan rumah tangganya tiga tahun terakhir ini agak terganggu. Padahal dimasa sebelumnya rumah tangga mereka oke-oke saja Bahkan termasuk rumah tangga yang bahagia. Namun semenjak kakak mengalami menopausa ketika berumur 45 tahun, mulai terjadi kisruh kecil di dalam rumah tangga mereka.

Kakak merasakan bahwa suaminya berubah, yaitu berkurang kasih sayang dan perhatian kepada keluarga, khususnya kepada istri. Suami kakak dua tahun lebih tua dafi kakak, dan keadaannya sepertinya sangat sehat, bahkan menunjukkan aura dan dan tenaga yang masih sangat prima.

Hal inilah yang tampaknya menjadi sumber masalah, karena menurut kakak, dianya semenjak menjalani masa menopausa sudah kurang begitu bergairah dalam urusan seksuil, sementara suaminya masih sangat prima, Hal itu menyebabkan kakak agak kepayahan dan stres, akhir-akhir ini sen’ng sakit Ditambah lagi adanya kecurigaan kakak bahwa suaminya ada main dengan perempuan yang lebih muda, dan dikhawatirkan jangan-jangan suaminya diam-diam telah kawin rahasia.

(lanjut …)



Status Perkawinan Mualaf

Al-Huda,Sosial,Syariat | Tuesday, April 28th, 2009
mualaf

mualaf

Pertanyaan :

Alhamdulillah, seorang pejabat senior dikantor kami (berumur 46 tahun) mendapat hidayah Allah SWT dengan menjadi pemeluk agama Islam. Hal itu benar-benar merupakan suatu kejutan dan berita luar biasa bagi kami.

Karena tidak ada orang yang secara spesial menggarapnya untuk tahu dan tertarik kepada agama Islam Karena kami sendiri adalah pemeluk-pemeluk agama Islam biasa, dengan pengetahuan agama dan kealiman agama yang rata-rata sangat kurang, dan rasanya suasana dakwah di kantor kami adalah biasa-biasa saja sehingga tidak ada diantara kami yang melakukan tugas dakwah mengajak dan menyeru non muslim kedalam agama Islam.

Masuknya beliau ke agama Islam, tampaknya lebih banyak dari usahanya sendiri dalam mempelajari agama Islam yang dibandingkan dengan agama yang dia anut, dan juga tampaknya juga dengan beberapa agama lainnya. Yang akhirnya membawa beliau mengucapkan dua kalimat sahadat.

Yang menjadi pembicaraan diantara kami atas kejadian tersebut ada beberapa hal. Yaitu pertama mengenai status perkawinannya bagaimana? Karena yang masuk agama Islam hanya beliau sendiri saja sementara isteri dan anak-anaknya tetap dalam agama mereka yang bukan agama Islam.

Orang tuanya sendiri yang tinggal serumah dengari beliau tampaknya marah dan tidak merestui. Begitu pula anak-anaknya (ada 4 orang) tampaknya tidak mau mengikuti jejak ayahnya. Isterinya hanya diam saja. Tidak memberikan respon apapun. Tapi, tampaknya hubungan suami isteri mereka masih berjalan sebagaimana biasa sebelum beliau memeluk agama Islam.

(lanjut …)



Haidh, Nifas dan Istihadhah

Al-Huda | Thursday, April 9th, 2009
pembalut wanita

pembalut wanita

Pertanyaan :

Ustadz, saya pernah dengar dalam suatu majelis takim seorang ustadz berkata bahwa agama Islam ini adalah agama yang hak. Karena itu tidak boleh segan dan malu mempertanyakan persoalan apa saja sepanjang pertanyaan itu benar dan hak Berdasarkan itu ustadz saya ingin bertanya masalah haidh, nifas dan istihadhah.

Isteri saya haidhnya tidak teratur. Baik waktu haidhnya maupun lamanya haidh. Kadang kala isteri saya haidhya berjalan setiap bulan. Kadangkala sampai 4 bulan tidak dapat haidh. Menjadi pertanyaan bagi saya apakah kami suami isteri boleh melakukan hubungan suami, isteri selama isteri saya itu tidak haidh, ataukah pada waktu yang kami perkirakan seharusnya dia mendapat haidh, tapi kenyataannya tidak mendapat haidh, hubungan suami isteri tidak boleh dilakukan.

Adapun mengenai lamanya, istri saya pernah haidh hanya 5 hari. Pernah pula 12 hari. Pernah pula 15 han. Juga pernah sampai 17 hari Nah yang 12 hari, 15 hari dan 17 hari itu apakah hal tersebut masih haidh, atau sudah tergolong istihadhah (darah penyakit). Kalau istihadhah benarkah kami boleh melakukan hubungan suami isteri?

Mengenai nifas juga demikian ustadz. Pada waktu anak saya yang pertama, is-teri lama nifasnya 35 hari. Pada waktu anak kedua, hanya 15 hari. Tapi pada waktu anak ketiga lamanya sampai 63 hari Saya dengar, katanya nifas itu lamanya 40 hari Apakah 40 hari harus dipegang ustadz? Artmya, kalau nifasnya hanya 35 hari, maka kami tetap tidak boleh berhubungan sampai 40 hari. Begitu juga ketika nifasnya hanya 15 hari, apakah kami tetap tidak boleh berhubungan selama 40 hari? Dan bagaimana ketika nifasnya sampai 63 hari. Apakah sesudah 40 hari kami sudah boleh berhubungan, ataukah menunggu sampai sesudah 63 hari itu.

(lanjut …)



Pembangunan yang Tidak Membangun

Al-Huda,ekonomi,Indah Mulya,Khairu Ummah,Sosial | Monday, April 6th, 2009
konstruksi

konstruksi

Pertanyaan :

Saya heran dan bingung dikarenakan selama 40 tahun ini pemerintah Indonesia sibuk membangun. Tapi nyatanya rakyat melarat dan miskin. Padahal ideologi pemerintah disebut dengan “ideologi pembangunan”.

Bukankah selama ini kita dijejali “pohtik, no! Pembangunan, yes!” Sehingga saya menjadi orang yang “anti politik”. Bahkan saya jijik ama politik. Apalagi teman-teman kuliah saya dahulu yang “mahasiswa politik” itu kerjanya hanya “bikin ribut”, hanya “bikin rusuh”. Hanya “tukang demo” Ribut dengan dosen! Melawan dekan dan pembantu dekan, memprotes rektor.

Sampai sekarang saya benci politik. dengan sanak saudara saya yang “orang politik” saya bikin jarak. Saya jauh dengan mereka Dengan tetangga yang “orang politik” saya tidak mau bergaul. Pendeknya saya anti politik! Titik! Saya pro pembangunan! Titik!

Tapi sekarang, teman-teman saya yang mahasiswa politik itu jadi anggota DPR Rl Yang lebih menjengkelkan ada yang menjadi menteri Dan jadi menteri di departemen tempat saya bekerja dan berkarir Menjengkelkan sekali. Saya tahu siapa dia. Tukang bikin ribut. Tukang bikin rusuh Tidak lebih dari itu. Kenapa dia jadi mentenri? Sungguh tidak adil! Kenapa dunia jadinya terbalik-balik? Padahal prestasi akademisnya nol. Saya tahu benar itu. Saya lebih pantas jadi menteri dibanding dia. Saya lebih tahu urusan departemen saya ketimbang dia.

Jadi saya tanya, kenapa pembangunan pemerintah gagal ?

(lanjut …)



Memelihara Persaudaraan dan Kekerabatan

Akhlaq,Al-Huda,Sosial | Saturday, March 21st, 2009
foto keluarga jadul

foto keluarga jadul

Pertanyaan :

Dahulu, seingat saya ayah dan ibu mempunyai hubungan yang sangat baik dengan saudara-saudara sepupunya. Juga dengan sanak famili. Begitu juga dengan orang-orang sekampung.

Almarhum Ayah dan ibu berpindah ke Jakarta semenjak tahun 1955. Kemudian adik-adik ayah dan beberapa saudara sepupunya pindah pula ke Jakarta. Hubungan antara ayah dengan adik-adiknya, juga dengan saudara sepupunya begitu baiknya. Mereka dengan tidak dibuat-buat satu sama lain saling mencintai dan saling menyayangi. Begitu juga dengan orang-orang sekampungnya.

Seingat saya ada saudara sepupu ayah yang nakal, suka mencuri dan mencari keributan dan tinggal dirumah kami. Saya sampai sebal dibuatnya. Tetapi ayah dan ibu menghadapinya dengan sabar. Padahal kalau menurut saya orang seperti itu diusir saja dari rumah. Karena selalu membikin keributan dan keonaran.

Tapi ayah dan ibu menghadapinya dengan lemah lembut dan memberi penyadaran kepadanya dengan sabar, sehingga akhirnya saudara sepupu ayati itu tumbuh menjadi seorang ustadz yang cukup terpandang di jakarta ini. Kalau mengingat kelakuan masa mudanya waktu tinggal dirumah kami, rasanya mustahil dia akan jadi orang baik. Apalagi sampai menjadi ustadz.

Dimasa saya tua sekarang (sudah 7 tahun pensiun) saya amati kehidupan anak-anak dan para keponakan jauh sekali berbeda. Mereka saling tidak peduli. Kadang-kadang seperti tidak saling kenal. Dengan enteng saja meremehkan dan meleceh saudaranya. Jangankan dengan orang-orang sekampung dan para tetangga, dengan sa’udara sepupu saja mereka jauh. Dan ada pula dengan saudara kandung bertengkar. saling tidak bertegur sapa dan tidak bermaaf-maafan dikala iedul fitri.

(lanjut …)



Kufu dan Mahar

Al-Huda,Sosial,Syariat | Saturday, March 7th, 2009
pernikahan

pernikahan

Pertanyaan :

Dalam perkawinan, kenapakah di dalam Islam ada ketentuan (konsep) tentang kufu dan mahar?

Bukankah Islam menganut paham kesejajaran antar manuaia dengan tidak membedakan kebangsawanan, kekayaan, atau warna kulit? Bukankah menurut Islam manusia itu dibedakan hanya dari tingkatan takwanya ?

Sedangkan dalam konsep kufu terkandung pengertian ketidak sejajaran (ketidak sederajatan) antara dua manusia yang sebenarnya setara Islam jelas tidak diskriminatif, apa lagi rasialis, konsep kufu itu justru mengesankan Islam mentolerir sikap diskriminatif dan ada kalanya menjadi rasialis, seperti pada berbagai kejadian dimana wanita Arab tidak boleh dikawini oleh laki-laki non Arab

Juga tentang mahar (mas kawin), kenapakah harus ada mahar? Rasanya, dalam perkawinan perempuan menjual dirinya, padahal bukankah yang diperlukan dalam perkawinan itu adalah cinta dan kasih sayang ? Apalah artinya mahar yang banyak, sesuai dengan kemauan orang tua perempuan, kalau dengan demikian laki-laki merasa telah membeli isterinya ?

Dua hal tersebut, yaitu tentang konsep kufu dan mahar itu mangganggu nalar dan pikiran rasional kami, karena menurut hemat kami kedua hal itu tidak relevan dalam suatu perkawinan dan suatu rumah tangga yang saling mencintai dan saling sayang menyayangi.

(lanjut …)



Kekurangan Ilmu

Al-Huda,ekonomi,Sosial | Thursday, February 26th, 2009
Albert Einstein

Albert Einstein

Pertanyaan :

Mengikuti kritik yang gencar sekali di buletin Al Huda tentang kehidupan ekonomi, membuat saya termenung dan juga bingung Kesan saya sepertinya pemerintah begitu tidak tahunya, atau kalau boleh saya katakan, bila saya ikuti buletin Al Huda apa adanya, maka bisa dikatakan bahwa pemerintah kekurangan ilmu, pemerintah kita begitu bodohnya!

Padahal disisi lain sama kita ketahui bahwa ekonomi Indonesia disusun dan dirancang oleh para ekonom jempolan. Ekonom terbaik Indonesia. Ekonom paling jempolan yang Indonesia miliki. Prof. DR. Wijoyonitisastro dan Prof. DR. Emil Salim yang merancang politik ekonomi Indonesia dan yang merancang pembangunan jangka panjang lima puluh tahun, yang kemudian merincinya lagi dalam pembangunan 2 X 25 tahun.

Setelah itu merincinya lagi dalam pembangunan lima tahun yang dikenal sebagai “Repelita” (rencana pembangunan lima tahun). Terakhir disusun aplikasinya secara tahunan, yang terurai satu per satu di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara(APBN).

Kemudian Prof. Wijoyo dan Prof. Emil Salim dibantu oleh puluhan profesor lainnya dan ratusan doktor. Semuanya adalah ekonom terbaik dan paling jempolan Indonesia pada masanya. Begitu pula di Bappenas sekarang diisi oleh puluhan doktor dan profesor yang sebagian diantaranya lulus dengan cumlaude dan memiliki prestasi ilmiah yang tinggi.

(lanjut …)







Next Page »