Iman

Taqwa,Tauhid | Thursday, October 1st, 2009
mengingat Allah

mengingat Allah

Sahabat Rasulullah Umair bin Habib al-Khatmi ra. biasa berkata, “Iman itu bertambah dan berkurang.” Seseorang bertanya, “Apa saja yang menambah dan mengurangi iman?” Jawabnya, “Bila kita mengingat Allah, berdo’a pada-Nya, dan mengakui kesempurnaan-Nya, hal itulah yang menambahnya. Bila kita tidak peduli, menyia-nyiakan dan melupakan iman, maka hal itulah membuat iman kita berkurang”.

Dan imam Ahlu Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal, saat ditanya tentang apakah iman bertambah dan berkurang. Dia menjawab, “Iman bisa bertambah sampai mencapai bagian tertinggi dari surga ketujuh. Dan iman

juga menurun sampai mencapai bagian terendah dari lorong-lorong tambang di perut bumi.”

Kedua riwayat (masih banyak riwayat yang lain) menginfoimasikan kepada kita bahwa iman adakalanya meningkat (naik), adakalanya melemah (turun). Tidak ada alat teknologi secanggih apapun yang mampu mendeteksi kapan naik dan kapan iman turun. Bahkan sangat sulit bagi manusia untuk dapat memberikan nilai nominal sebuah keimanan. Karena keimanan bukan bersifat materi, tetapi bersifat immateri / hati / abstrak.

Untuk mengetahui suatu kepastian yang tidak tampak memang sangat sulit. Namun fenomena yang ada pada sesuatu, baik yang konkret maupun yang abstrak, agak mudah untuk diketahuinya. Demikian pula dengan iman. Kita dapat mengetahui lemahnya iman dengan berbagai cara.

Cara pertama, fenomena lemahnya iman dapat diketahui dengan gemarnya seseorang melakukan perbuatan durhaka dan dosa. Perbuatan durhaka dan dosa bagi orang yang kuat imannya merupakan pukulan berat baginya jika terlanjur dilakukan.

Namun, apabila ini tidak segera diatasi, lambat laun pukulan itu akan sirna. Bahkan pada gilirannya akan muncul rasa nyaman dan bangga dengan perbuatan itu. Berbuat durhaka dan dosa ataupun tidak, terasa sama. Kalau sudah demikian, maka akan muncul sebuah kebiasaan baru, tiada hari tanpa durhaka dan dosa.

Cara kedua, dapat dilihat dari ketekunan beribadah. Seorang yang memiliki iman yang mantap sudah tentu sehari-harinya akan terpenuhi dengan ibadah. Sehingga seolah-olah dirinya telah memiliki prinsip: “Diamnya, berpikir. Ucapannya berzikir. Langkahnya tak pernah mangkir dari Dzat Yang Maha kabir”.

Sebaliknya, orang yang lemah iman terasa berat untuk menjalankan ibadah kepada Allah Swt. Seolah-olah mata telah buta. Telinga telah tuli. Mulut terkunci dan hatinya telah terhalang dari kebenaran, kejujuran, keadilan, dan kekhusyu’an.

Cara ketiga, dengan adanya rasa sempit di dada, perangai dan tabiat yang berubah. Dada yang terasa menyesak, adalah akibat kesempitan hati. Perangai dan tabiat yang terbelenggu akan merasakan beban berat yang menghimpit. Emosional dan pemarah. Cepat menjadi nervous dan gelisah hanya karena masalah yang remeh. Semua itu merupakan fenomena bagi yang lemah imannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (HR. At-Turmudzi, Ahmad dan Ad-Darimi).

Keempat, jarang atau tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Suatu fenomena yang terjadi bagi yang terkena erosi keimanan, manakala kalam Ilahi yang suci dikumandangkan, ternyata tidak menyentuh di dalam dirinya. Al-Qur’an yang dimiliki hanya sebagai pemandangan dan perhiasan. Kaset-kaset para qari hanya sebagai pajangan. Ukurlah kembali keimanan kita dengan al-Qur’an, kalamullah.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal …“. (QS. Al-Anfaal[8]:2).

Kelima, lalai kepada Allah dalam berdzikir dan berdo’a. Berdzikir seakan suatu pekerjaan yang berat. Jika mengangkat tangan untuk berdo’a, maka secepat itu pula menelungkupkan tangan untuk menyudahinya. Padahal do’ a merupakan otak dari ibadah kita kepada Sang Maha Pencipta.

Keenam, diantara fenomena lemah iman adalah gila hormat, gila kedudukan, dan suka publikasi serta tidak peduli dengan nasib sesama orang-orang yang beriman. Apakah mereka sedang susah, terkena musibah, diganggu, disakiti, atau diperangi. Yang penting baginya, dirinya bahagia. Terserahlah orang lain, itu urusan mereka.

Bagi yang terhinggapi penyakit seperti ini Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang tidak peduli, masa bodoh, cuek terhadap urusan, problema orang Islam. Maka dia bukanlah termasuk dari mereka“.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 25 Tahun XXIII – 19 Juni 2009

Related Posts with Thumbnails



Related Articles


2 Comments »

  1. Assalaamu’alaikum

    Alhamdulillah, sudah lama tidak berkunjung untuk menjalin silaturrahmi antara dua benua dengan ilmu yang bermanfaat. Harap belum terlambat untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Aidil Fitri. Iman meningkatkan ketakwaan manusia di sisi Allah swt. Dengan iman, manusia akan memelihara dirinya daripada melakukan hal maksiat dan mungkar. Tulisan di atas banyak mengingatkan kita kepada kealpaan yang dilakukan sepanjang kehidupan 24 jam yang dilalui.Salam ukhhuwwah.

    Comment by Siti Fatimah Ahmad — 3 October 2009 @ 6:16 am

  2. bagai mana cara menjaga agar iman kita tetap stabil

    Comment by miftahul ulum — 18 June 2010 @ 8:19 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment