sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Musibah Pelebur Dosa

unduk | Akhlaq, Sosial, Taqwa | Thursday, September 24th, 2009
musibah gempa

musibah gempa

Dalam sebuah hadis disebutkan, kelak pada hari kiamat akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling mendapatkan nikmat dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka dengan sekali celupan. Kemudian ditanya, “Wahai anak keturunan Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah mendapatkan kenikmatan?” la menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Tuhanku.”

Lantas didatangkan seorang yang paling menderita di dunia dari penduduk surga, lalu ia dicelupkan ke dalam surga sekali celupan. Lantas ditanya, “Wahai anak keturunan Adam, pernahkah kamu melihat penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan?”

la pun menjawab, “Tidak demi Allah, wahai Tuhanku. Tidak pernah aku mengalami penderitaan dan tidak pernah melihat kesengsaraan.” (HR Muslim).

Secara kasat mata, ada segolongan manusia yang menderita secara fisik karena baru saja ditimpa bencana serta kehilangan harta benda yang dimiliki. Tapi, bagi manusia beriman, cobaan fisik seperti itu tak membuatnya sakit berkepanjangan.

Musibah yang menimpa tidak menjadikannya berputus asa dari karunia-Nya. Ujian yang diterima justru dijawab dengan tetap beribadah kepada-Nya, bahkan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan sikap tawakal dan sabar, insya Allah, dia tak akan merasakan sakitnya musibah ketika hidup di dunia, karena Allah SWT menggantinya dengan kenikmatan tiada tara. Sebagai balasan atas keimanannya kepada Yang Maha kuasa, dia akan tetap dapat bertahan di tengah cobaan hidup yang bertubi-tubi.

Kadar iman dan takwa mendorongnya untuk mengatakan kepada Sang Pencipta, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156).

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan, orang-orang beriman ketika tertimpa musibah dan cobaan, akan berusaha mengobati sendiri. Caranya, pertama, menyadari sepenuhnya dunia adalah tempatnya ujian, petaka, dan musibah.

Kedua, melihat sekelilingnya bahwa masih banyak musibah lain yang jauh lebih besar dari musibah yang menimpa orang lain. Ketiga, menyerahkan kepada Allah SWT seraya mengharap pahala atas musibah yang menimpanya, serta meminta ganti yang lebih baik hanya kepada-Nya.

Keempat, meyakini bahwa cobaan dan musibah sebagai pelebur dari dosa-dosanya yang telah lalu. Rasululah SAW bersabda, “Senantiasa cobaan menimpa laki-laki dan perempuan yang beriman pada tubuhnya, harta, dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Penulis : Nurjannah Suharjo

Related Posts with Thumbnails


Related Articles



4 Comments »

  1. wah top deh postingnya, makasih ya mas kunjungannya kemaren, tapi kok g dipasang sih mas gadged followersnya, pasang ya mas, ntar aku ngikut, tapi mas juga jadi followers say, biar bisa ngasih comment tiap ada posting baru..
    thanks

    Comment by jeparablogger — 27 September 2009 @ 5:58 pm

  2. Subhanallah,, ampuni dosa2ku ya Allah T.T

    Comment by Edda — 27 September 2009 @ 6:48 pm

  3. [...] Musibah Pelebur Dosa (September 24th, 2009) [...]

    Pingback by Jangan Bersedih | Mimbar Jum’at — 8 October 2009 @ 9:45 pm

  4. [...] seperti gempa memang pasti menimbulkan penderitaan. Namun demikian, bagi seorang Muslim, di balik musibah sesungguhnya ada keutamaan, tentu jika musibah itu disikapi dengan kesabaran. Keutamaan yang [...]

    Pingback by Mewaspadai Datangnya Musibah Lain | Mimbar Jum’at — 16 October 2009 @ 9:07 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment