Mendewakan Kebebasan

Mimbar Jum'at | Saturday, June 14th, 2008

Judul di atas, walaupun mungkin agak tendensius, bisa dipastikan tidak mengada-ada. Lihatlah perkembangan akhir-akhir ini, banyak orang berbicara tentang kebebasan, untuk kebebasan dan demi kebebasan. Wacana kebebasan pun semakin dipertegas dengan memberinya kata sifat ‘berekspresi’. Maka muncul pula istilah ‘kebebasan berekspresi’.

Bila kita amati akhir-akhir ini ‘kebebasan’ sering dianggap sebagai dewa yang begitu dipuja-puja secara berlebihan. Kebebasan dijadikan sebagai norma dasar (basic norms) dan ukuran sikap serta prilaku seseorang. Apa saja yang dilakukan oleh seseorang, sejauh hal tersebut didasari oleh kebebasan yang dimilikinya, maka perbuatan tersebut harus dipandang sebagai perbuatan ‘baik’. Walaupun, bila dilihat dari segi kepentingan orang lain, perbuatan tersebut melanggar hak orang lain atau pun bertentang dengan norma umum. Ciri pokok dari kebebasan seperti ini adalah individualisme, egoisme, sekularisme, bahkan atheisme.

Kebebasan seperti ini terlihat jelas pada karikatur Nabi Muhammad Saw, yang pertama kali dimuat diharian Jellen-Posten Denmark akhir tahun lalu yang mengakibatkan heboh di seluruh dunia. Kemudian, film Fitna yang dibuat oleh politikus dan sineas Belanda, Geert Wilders. Dan lahirnya berbagai aliran dan paham keagamaan yang j uga mengusung kebebasan. Termasuk di dalamnya kebebasan berbusana, apakah itu mau mengumbar aurat atau tidak yang penting bebas beekspresi.

Mengingat amat mendasar urgensi kebebasan itu, banyak orang yang marah besar ketika dikritik bagaimana cara berpakaian yang mengumbar aurat. Ketika ada usulan untuk memberantas segala macam bentuk pomografi dan pornoaksi melalui RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Mereka marah karena hal itu dianggap bertentangan dengan prinsip kebebasan dan melanggar HAM.

Dari perspektif Islam, memahami ‘kebebasan’ seperti itu dapat menimbulkan masalah yang amat serius.

  • Pertama, dengan pemahaman yang absolut tanpa batas tersebut, kebebasan itu seolah-olah mereka pahami sebagai buatan manusia (man made). Padahal, justru Allah-lah yang menciptakan dan memberikan manusia kehidupan. Kebebasan manusia adalah bagian integral (inklusif) dari ciptaan Allah. Dengan demikian, kebebasan itu semestinya harus dimanfaatkan sejalan dengan ketentuan Allah. Menyatakan kebebasan seolah-olah buatan manusia belaka dan wujud dari sikap tidak tahu diri, angkuh, dan melawan fitrah kejadian manusia sendiri.
  • Kedua, absolutisme kebebasan akan menimbulkan relativisme nilai-nilai ketuhanan dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Mengingat setiap orang memandang benar apa saja yang dia lakukan, maka egoisme setiap individu pasti akan melabrak egoisme atau kepentingan orang lain. Maka jadilah kehidupan manusia ini tidak ubahnya seperti kehidupan binatang di hutan belantara yang hanya diatur oleh hukum rimba.
  • Ketiga, absolutisme kebebasan pada gilirannya akan menyingkirkan peran agama sehingga menjadi semakin sempit. Islam akan berhenti menjadi ‘way of life‘. Kalaupun ada, maka agama hanya akan mengatur dan menjadi urusan pribadi belaka. Dengan kata lain, kebebasan absolut berujung pada sekularisme (paham yang menegaskan perlunya pemisahan antara urusan agama dengan urusan keduniaan) sebagaimana yang telah lama berkembang di masyarakat Barat.

Tidak bisa disangkal lagi kebebasan absolut dewasa ini mulai berkembang di tengah-tengah masyarakat jelas merupakan ancaman yang sangat serius bagi kita yang menjadikan Islam sebagi way of life Kita semua harus berhati-hati agar tidak terbawa oleh arus yang menyesatkan ini. Iman yang teguh dan sikap istiqamah serta mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari adalah solusi untuk terhindar dari ajaran kebebasan yang absolut. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Konsep yang diajarkan oleh Barat melalui kebebasan absolut dengan konsep kebebasan yang diajarkan Islam dengan al-Quran dan sunnahnya jelas batasan benang merahnya kebebasan absolut adalah kebebasan yang menjauhkan manusia dari konteks ketuhanan dan ibadah. Sementara kehidupan yang digariskan Islam adalah kebebasan yang membangun peradaban dengan pendekatan diri kepada Tuhan melalui ibadah dan akhlakul karimah. Itulah peradaban yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at, No. 21 Th. XXII 23 Mei 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment