Maha Menjamin Rezeki

unduk | An-Natijah,ekonomi,Sosial,Taqwa | Thursday, April 16th, 2009
pasar pagi

pasar pagi

Menurut sebuah riwayat, suatu hari Nabi Sulaiman AS ingin mengetahui bagaimana Allah SWT memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya di dunia ini. Sehingga untuk membuktikannya ia bertanya kepada seekor semut, seberapa banyak Allah SWT memberikan rezeki kepada semut dalam satu tahun. Semut menjawab bahwa ia memperoleh rezeki sebesar sekepalan tangan sang Nabi.

Mengetahui hanya sebesar itu tezeki yang diperoleh semut tersebut, rasanya sangat mudah bagi Nabi Sulaiman AS untuk memberikannya. Sehingga kemudian Nabi Sulaiman AS membuat kesepakatan dengan semut untuk mau masuk ke dalam botol yang telah diisi dengan makanan sekepalan tangan Nabi Sulaiman AS, dan semut setuju.

Maka botol pun ditutup rapat. Setahun kemudian Nabi Sulaiman AS datang kembali kepada semut, ketika ia membuka botol tersebut ternyata didapatmya semut hanya memakan sebagian saja dari makanan tersebut Nabi Sulaiman AS heran dan kemudian bertanya kenapa makanan tersebut tidak dihabiskan. Bukankah semut telah mengatakan, kalau rezekinya dalam satu tahun dapat diperoleh sebesar kepalan tangannya?

Mendengar pertanyaan itu semut menjawab dengan tenang: “Wahai Nabi yang mulia, memanglah benar apa yang hamba katakan,bahwa hamba mampu memperoleh rezeki dalam satu tahun sebesar kepalan tangan yang mulia, namun itu terjadi pada saat hamba tidak berada di dalam botol ini. Dan pada saat itu hamba sangat yakin Allah akan memberikan hamba rezeki dan Dia tidak akan melupakanku walau sadetik pun, sehingga aku yakin Allah akan menjamin rezekiku. Tetapi kini, hamba yang lemah ini terkurung dalam botolmu, apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan lupa memberiku makanan kembali setelah satu tahun? Apakah kau berani menjamin hidup dan rezekiku di tanganmu ?”

Mendengar jawaban tersebut, Nabi Sulaiman AS pun tertegun, kemudian bersujud mohon ampun kepada Allah SWT dan melepaskan semut dari kurungan botol tersebut.

Dijamin Allah

Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang sanggup menjamin keberlangsungan rezeki makhluk lainnya, hanya Allah SWT-lah yang mampu melakukan hal tersebut. Dia tahu betul apa yang dibutuhkan para makbluk-Nya, dan Dia tidak pernah menciptakan satu makhluk pun untuk hidup di dunia ini tanpa menperoleh rezeki.

Namun sangatlah disayangkan, ternyata masih ada sebagian dari kita yang tidak yakin akan rezeki dari Allah SWT. Tidak sabar dengan rezeki yang telah digariskan oleh-Nya kepadanya, sehingga tak jarang di antara mereka sengaja melakukan jalan pintas dan salah, sehingga terjerembab dalam jurang masalah dan kesesatan yang sangat dalam. Ada yang mencarinya dengan mendatangi dukun, ada yang memperolehnya dengan jalan yang tidak halal seperti korupsi, manipulasi, dan sebagainya.

Padahal, Allah SWT sama sekali tidak pemah lupa akan janji-Nya. Adalah hal yang sangat perlu kita ketahui, bahwa Allah SWT memberikan rezeki kepada setiap makhuk-Nya sesuai ukuran yang tepat, tidak kurang dan tidak lebih. Artinya, Allah telah menentukan kadar rezeki setiap hamba-Nya, sehingga tidaklah perlu bagi kita untuk saling iri dan dengki pada rezeki yang telah diperokeh saudara atau pun tetangga kita.

Rezeki merupakan misteri ilahi, artinya jangan pernah mengukur-ukur seberapa besar Allah SWT memberikan rezeki kepada kita atau pun orang lain, baik itu kapan, di mana dan bagaimana. Selain hal tersebut membuat kita congkak, juga akan menimbulkan ketidak ikhlasan dalam hati kita atas apa yang kita peroleh dari Allah SWT selama ini.

Dijemput Bukan Dicari

Rezeki harus dijemput, bukan dicari. Artinya, sebenarnya Allah SWT telah menempatkan rezeki hamba-Nya pada suatu tempat yang sebenarnya pun telah diketahui oleh hamba-Nya. Tidak perlu bingung untuk mencari kemana dan di mana Allah SWT meletakkannya, tetapi cukup hanya membuat berbagai persiapan untuk menjemput rezeki tersebut.

Kita tidak perlu khawatir, cemas, gundah gulana karena takut tidak memperoleh rezeki. Atau sebaliknya, tak perlu kita memaksakan diri untuk memperoleh rezeki sebanyak-banyaknya hingga melupakan hal-hal yang penting dalam hidup kita. Karena semua itu telah diatur oleh Allah SWT.

Yang terpenting yang harus dilakukan adalah upaya maksimal untuk memberikan yang terbaik dari seluruh yang kita miliki dan ketahui demi memperoleh rezeki tersebut (profesional). Tidak cukup hanya itu, konsistensi terhadap keyakinan yang mantap kepada Allah SWT (tawakkal), bahwa Dia pasti memberikan rezeki bagi kita adalah sangat penting demi menjaga kita dari keputusasaan, sehingga melakukan jalan pintas yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sesungguhnya Allah SWT menjamin seluruh rezeki makhluk-Nya. Mulai dari yang melata hingga manusiayang sempuma (QS. 11:6 dan QS.41:31). Masihkah kita tidak yakin pada jaminan rezeki dari Allah? Apakah kita tidak lebih baik dari seekor semut di atas dalam hal ketaqwaan dan profesionalisme? Semua tergantung dari kemampuan dan kemauan kita dalam membaca sinyal-sinyal keberadaan rezeki yang dibebankan Allah SWT.

Sumber : Lembar Risalah An-Natijah, No. 13/Thn. XIV – 27 Maret 2009

Related Posts with Thumbnails



Related Articles


6 Comments »

  1. Wahhhh… blog walking dapat pencerahan… Kereeennn… Makasih ya

    Comment by taufik asmara — 17 April 2009 @ 2:28 pm

  2. Bagus artikelnya nih, thanks dah berbagi di sini. memang rejeki harus dijemput yach, soalnya nggak ada yang nganterin ..

    Comment by Ani — 18 April 2009 @ 4:00 am

  3. Maha suci Allah dgn segala firmannya dan maha suci Allah yg senantiasa mencurahkan rejeki kpd seluruh mahluknya. Thanks sdh memberikan pencerahan di blog ini.

    Comment by Salsabillah — 29 April 2009 @ 1:39 am

  4. 1.Artikel yg menarik dan bermanfaat sbg pengingat kita.
    2.Tuhan juga sudah berjanji memberikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka kepada manusia yang beriman (QS.At-Talaq2-3)
    3.Rejeki memang harus dijemput. Menjemput rejeki harus dgn keahlian dan ilmu.
    4.Sukses mas.

    Comment by Abdul Cholik — 12 May 2009 @ 9:03 pm

  5. [...] Kedua, silaturahim. Amalan ini merupakan upaya menyambung tali persaudaraan antar sesama manusia: merajut dan memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Praktik ini dapat melapangkan rezeki dari Allah. [...]

    Pingback by Kunci Keberkahan Harta | Mimbar Jum’at — 28 October 2009 @ 9:05 pm

  6. [...] Kedua, silaturahim. Amalan ini merupakan upaya menyambung tali persaudaraan antar sesama manusia: merajut dan memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Praktik ini dapat melapangkan rezeki dari Allah. [...]

    Pingback by Kunci Keberkahan Harta | Masjid Al-Amin Korea — 30 June 2010 @ 1:09 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment