empati

Akhlaq,Mau'izah Hasanah,Refleksi,Sosial | Monday, April 13th, 2009

contrengMemasuki minggu tenang pasca berakhirnya masa kampanye, melakukan perjalanan di sepanjang jalan rasanya amatlah nyaman. poster-poster caleg yang kalau dirasakan amat minim estetika grafisnya dan juga pilihan kata yang disajikan bersamanya, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai sampah visual daripada sebuah poster yang menyampaikan sebuah pesan. Dan poster-poster itu sungguh telah menyiksa tanpa ampun sensor penglihatan kita, yang sebenarnya sudah sangat lelah saat di jalanan, karena sensor penglihatan kita bekerja sangat-sangat aktif mengolah ribuan informasi agar kita bisa selamat dalam perjalanan.

Terasa nyaman memang, setelah poster-poster dan spanduk-spanduk kampanye itu hilang dari pandangan. Pandangan jadi terasa lebih lapang dan bersih. Justru karena telah terasa lapang itulah, saya malah jadi ingat kepada kisah Abu Nawas yang pernah saya baca. Tersebutlah seseorang, dalam kisah itu, yang meminta nasehat kepada Abu Nawas. Orang itu mengeluh kepada beliau soal rumahnya yang menurutnya begitu sumpek dan sempit.

Bahkan orang gila pun mungkin akan menyangka sinting kepada Abu Nawas, karena nasehatnya kepada orang yang berkeluh kesah itu. Abu Nawas meminta orang tersebut untuk membeli kambing dan memintanya untuk mengajak serta kambing itu tinggal serumah dengan yang bersangkutan. Awalnya orang itu nurut saja. Akan tetapi pada hari ketiga, orang itu mulai memprotes saran ‘gila’ dari Abu Nawas.

“Rumahku tambah kacau semenjak ada seekor kambing yang tidur serumah denganku.”. demikian katanya kepada Abu.
“Oh, begitu. Berarti mulai hari ini, belilah kambing satu ekor lagi dan ajak dia untuk tinggal serumah denganmu.”, demikian jawab sang Abu.

Meski merasa aneh dan sedikit mendongkol, orang itu menurut saja permintaan Abu Nawas.
Dan di akhir cerita, orang itu justru malah berterimakasih kepada Abu Nawas.

Kenapa bisa?

Kira-kira setelah tampak orang itu mulai terbiasa dengan kekacauan, Abu Nawas mulai meminta kepadanya untuk melepas kambing-kambing yang telah tinggal serumah dengannya itu. Satu persatu. Dan setiap satu kambing yang dilepas, orang itu merasakan satu kelegaan yang luar biasa. Hingga seluruh kambing akhirnya telah dilepas, dan kelegaan serta kelapangan luar biasa meliputi seluruh rongga hati orang itu! Padahal luas rumahnya tidaklah bertambah satu senti pun!

Dan soal kambing dan spanduk, tentu saja keduanya berkaitan. Karena sebagaimana kambing-kambing itu, bebasnya jalanan dari spanduk-spanduk dan poster-poster caleg memberikan kelegaan luar biasa!

Meski lega, tapi saya kok merasa ada terbersit satu kerinduan yang aneh. Perasaan itu mirip seperti perasaan saya kepada keponakan saya yang mulai tambah aktif dan mulai melakukan ‘pembangkangan’. Rasanya memang lega sih, saat keponakan saya itu pulang kembali ke rumahnya dan mendapati ruangan di rumah saya mulai sedikit tertata. Akan tetapi ada satu perasaan sepi yang tiba-tiba memagut! Suara riang keponakan saya yang berteriak-teriak dan sambil mengobrak abrik barang-barang di rumah memang terasa menjengkelkan pada saat itu. Namun begitu suasana mulai aman dan terkendali, suara keriangan dan kebengalan yang hilang kok terasa begitu membikin rindu!

Spanduk-spanduk dan poster-poster caleg yang norak itu…
Entah kenapa kok bisa bikin rindu juga ya? Melihat wajah-wajah yang dibikin murah senyum dan seramah mungkin agar tampak pantas difoto, rasanya kok muncul juga sedikit perasaan tak tega para caleg itu. Bukankah mereka telah membelanjakan uang sedemikian banyak untuk membikin semua itu dan untuk mendongkrak popularitasnya? Dan dari uang yang telah mereka belanjakan itu, tentunya -kalau mau jujur- memberikan manfaat juga kepada beberapa orang. Tentu saja tak hanya itu, tampaknya mereka pun mesti siap-siap juga mendapat pengalaman traumatis seandainya segala upaya yang telah mereka keluarkan itu tidak membuahkan hasil. Bahkan secara amat demonstratif dan sedikit vulgar, beberapa rumah sakit jiwa telah membuka bangsal khusus yang didedikasikan buat para caleg yang gagal itu!

Jadi, seandainya kita mau sedikit saja berempati kepada para caleg itu…
Saya mungkin akan menggunakan hak pilih saya.

Akan tetapi kalau saya bersedia memberikan sedikit ruang di hati untuk berempati…
Akankah para caleg itu akan berempati juga kepada para rakyat yang telah menyerahkan amanah bulat-bulat kepada mereka?

Semoga saja PEMILU memberikan manfaat seluasnya!

(jogja, 8 april 09. kurang lebih 10 jam menjelang pembukaan TPS-TPS di tempatku!)

Related Posts with Thumbnails



Related Articles


No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment