Keadaan Umat Islam di Eropa

Al-Huda | Sunday, April 20th, 2008

PERTANYAAN :

Demo terhadap film “fitna” buatan anggota parlemen Belanda Geert Wil-ders masih berlangsung diseluruh ne-geri Islam. Dari berita koran dan TV kita saksikan demo itu terjadi di Pakistan, di India, di Mesir, di Maroko, mungkin juga di negara-negara yang lain lagi, yang tidak disiarkan oleh koran dan TV.

Menarik perhatian kami atas ula-san buletin Al Huda yang menyatakan bahwa pembuatan film itu dilakukan oleh seorang fundamental kristen atau seorang fundamentalis atheis. Hal itu mengesankan bahwa Al Huda berpen-dapat bahwa masalah film itu adalah tanggung jawab seorang individu, atau sekelompok individu yang fundamentalis, bukannya merupakan tanggung jawab dari bangsa Belanda dan peme-rintahan Belanda. Suatu pendapatyang tampaknya berlainan, karena dari demo-demo yang kita saksikan di TV terlihat sekali bahwa demo itu ditujukan kepada bangsa Belanda dan pemerin-tah Belanda. Menurut kami pemerintah
Belanda dan pemerintah-pemerintah lain dari negara-negara Eropa, seperti Deni mark ada dibelakang layar dari film “fitna” tersebut. Dan dari kartun-kartun yang mengolok-olok Rasulullah SAW.

Atau memang buletin Al Huda tidak tergolong fundamentalis Islam?. Bukan-kah kaum fundamentalis harus dihadapi oleh kaum fundamentalis pula?

Kita harus tegas dan tidak boleh ragu dalam hal tersebut. Karena kita memang berhadapan dengan pemerintah-pemerintah itu. Bukankah dahulu mereka adalah penjajah kita, dan sekarang tetap berusaha menjajah kita dalam ekonomi dan kebudayaan?. (Atau sebenarnya memang masih menjajah kita?).

Sikap ragu seperti itu, hanyalah melihatkan kelemahan kita. Sehingga kita selalujadi bulan-bulanan permainan dan olok-olok mereka.

JAWABAN :

Ketegasan dan juga kemarahan saudara penanya kami pahami. Karena setiap insan muslim yang melihat film “fitna” itu tentulah merasa marah dan geram, serta sakit hati, dan kalau bisa ingin memberikan balasan yang setimpal.

Seperti juga Kami utarakan di buletin Al Huda minggu lalu bahwa kami juga marah, kecewa dan sedih. (juga sakit hati).

Tapi…., bagaimana cara menunjuk-kan kemarahan itu?. Tentu saja caranya bisa berbeda-beda.

Mari kita coba selami masalahnya dari sisi lain!

Apa sih maksud pembuatan film itu?.

Tentu yang pertama terlintas adalah untuk menista dan meghina agama Islam!

Namun,…ada sisi yang lain lagi!. Yai-tu usaha untuk membangkitkan kebenci-an kepada umat Islam dinegeri Belanda oleh warga negara Belanda yang bukan Islam. Artinya tujuan pembuatan film itu mempunyai tujuan untuk mempersulit dan menjepit umat Islam Belanda.

Terlihatlah disini betapa tidak tepatnya menyalahkan pembuatan film itu kepada seluruh bangsa Belanda, karena di dalam bangsa Belanda itu ada umat Islam Belanda, yang sekarang merupakan agama ketiga terbesar di Belanda. Bahkan ada kecenderungan akan menjadi agama kedua terbesar di Belanda, menggeser agama katholik.

Bagi orang Belanda, antara protestan dan katholik itu merupakan perbeda-an agama. Lain halnya di Indonesia protestan dan katholik semuanya disebut kristen.

Dalam 40 tahun terakhir ini agama yang berkembang pesat di Belanda dan di negara-negara Eropa lainnya adalah agama Islam. Sementara protestan dan katholik menurun, karena banyak peng-ikutnya menjadi atheis dan tidak peduli kepada agamanya. Itulah sebabnya ada qereia diiual dan dibeli oleh umat Islam setempat, kemudian dijadikan masjid.

Hal itu terjadi sebagai konsekwensi dari negara sekuler. Oleh karena itu seka-lipun ada pihakyang sinisdengan rumu-san negara Indonesia yang Pancasila sebagai bukan negara sekuler dan bukan negara teokrasi, hendaknya memahami hal ini dengan teliti. Karena rumusan Indonesia sebagai bukan negara sekuler itu merupakan benteng pertahanan bagi tegaknya agama. Kalau Indonesia men-jadi negara sekuler, salah satu konsek-wensinya adalah berkembangnya paham atheis (tidak beragama dan tidak ber-tuhan). Bukan komunis.

Antara atheis dan komunis jangan terlalu dicampur adukkan. Seorang komunis sudah pasti atheis. Seorang atheis belum tentu komunis. Sebab komunis itu adalah suatu ideologi mengenai bangun kemasyarakatan yang populernya dise-but masyarakat sama rata dan sama rasa (masyarakat tanpa klas) dibawah pimpinan diktatur proletariat.

Kita selama ini selalu beranggapan bahwa Belanda dan negara-negara Eropa lainnya adalah bangsa kristen dan negeri kristen. Padahal semenjak “renaisan” (abad 14 M) perlahan-lahan bangsa-bangsa Eropa lebih terpengaruh oleh filsafat Yunani ketimbang ajaran agama kristen.

Filsafat Yunani itu, yang diperkuat oleh cabangnya “positifisme” perlahan-lahan telah menggusur peranan agama kristen dalam kehidupan kemasyarakatan bangsa-bangsa Eropa. Kendatipun ada para ilmuwan mereka yang mencoba menegakkan suatu teori tentang “etika protestanisme” yang menjadi tulang punggung kemajuan Eropa.

Namun, siapa yang mengamati dengan cermat dan mendalam tentang bangun masyarakat Eropa hari ini akan tampak dengan jelas bahwa peradaban Eropa hari ini lebih banyak didukung oleh semangat filsafat Yunani ketimbang ajaran agama kristen (baik katholik, maupun protestan).

Bila ada pemahaman kita tentang bangun susunan masyarakat Eropa itu, akan terlihatlah bahwa dakwah agama Islam mempunyai potensi untuk diterima oleh bangsa-bangsa Eropa yang sekuler itu, karena konsepsi ketuhanan dan konsepsi ibadah agama Islam lebih bisa diterima oleh filsafat. Hanya sayangnya kondisi umat Islam diseluruh dunia sekarang ini ketinggalan dalam hal ihwal ekonomi dan ilmu pengetahuan. Sehingga peradaban Islam sekarang ini berada dalam keadaan yang lemah dan tidak kuat.

Ya… itulah masalah utama umat Islam, peradaban umatnya saat ini bukanlah peradaban unggul.

Kembali kepada filim “fitna”, film itu hanyalah merupakan keberangan, kebencian dan putus asa kaum fundamentals kristen dan atheis setempat.

Kita hams menghadapi hal ini dengan cerdas dan berusaha memberikan bantuan kepada umat Islam Eropa untuk lebih gigih dan kukuh dalam menegakkan dakwah islamiyah.

Ya,… kita umat Islam Indonesia hendaklah berfikir untuk memberikan bantuan kepada umat Islam Eropa. Bukan sebaliknya minta bantuan.

Sumber : Al-Huda No. 1117 Tahun ke-23 11 April 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment