Tentang surat Yaasiin

Al-Huda | Saturday, March 1st, 2008

PERTANYAAN :

Lihat saja, umat Islam ini dimana-mana baca surat Yaasiin terus. Ada o-rang sakit baca surat Yaasiin. Ada orang meninggal baca surat Yaasiin. Di kuburan baca surat Yaasiin. Ada syuku-ran baca surat Yaasiin.

Di banyak tempat ada majelis ya-sinan. Di RW saya saja ada lima majelis yasinan. Tidak di masjid atau mushola, justru di rumah-rumah bergiliran. Memang majelis yasinan kaum ibu. Tak jarang juga dihadiri bapak-bapak.

Sampai-sampai kita diskusikan apa kemunduran umat Islam ini karena baca surat Yaasiin melulu. Seakan-akan Islam itu hanyalah baca Yaasiin.Sampai-sampai saya itu kefikiran ada apa deng-an surat Yaasiin ini?.

Yang herannya, ada beberapa te-man saya tidak bisa baca Al Qur’an, surat Yaasiin hapal di luar kepala (mak-sudnya hapal di dalam kepala). Ya itulah lazimnya disebut masyarakat kalau ada hapalan yang ngelotok biasanya disebut hapal luar kepala. Kalo difikir lebih dalam, mana ada sih hapalan di luar kepala. Menghapalnya pakai apa gitu?. Kalau menghapalnya pakai ingatan, “pakai otak” ya namanya hapalan dalam kepala. Belum lagi kalau kendurian, atau baca do’a (yang sering disebut istighosah), se-lalu saja ada bacaan surat Yaasiin.

Serunya ada ustadz yang mengatakan surat Yaasiin itu hanyalah untuk di-bacakan ketika seseorang sakit keras menjelang ajalnya. Waktu sakratul maut saja. Kalau sudah meninggal dunia tidak perlu dibacakan surat Yaasiin lagi. Lalu kalau demiktan, saat kita menunggu jena-zah semalaman sebelum dikuburkan apa yang dibaca?. Ustadz itu diam saja. Mana yang lebih baik menunggu jenazah deng-an ngomong ngalor ngidul, ataukah deng-an khusuk membaca surat Yaasiin?.

Belum lama ini, ketika ada seorang tua meninggal dunia di RT saya anaknya mengumpulkan yang bisa baca Al Qur’an, kemudian baca Al Qur’an semalaman. Sampai subuh dapat 8 juz. Hanya saja dimulai dengan membaca yasinan sama-sama. Ditutup juga dengan baca yasinan sama-sama.

Wah, gumam saya, ini pengalaman baru rek!. Seumur-umur baru kali ini nungguin jenazah baca Al Qur’an, tidak sekadar baca surat Yaasiin. Apakah hal itu boleh?.
Baca surat Yaasiin itu kesan saya enakdan sahdu. Kalau udah baca surat Yaasiin rasanya dekat ama Allah SWT. Rasanya selalu mau jadi orang bener gitu. Tidak mau jadi orang yang seleweng-seleweng. Sayangnya di dalam hidup sehari-hari kita sering menghadapi kenya-taan bahwa hidup itu perlu seleweng-seleweng, atau terpaksa seleweng-seleweng. Kalau tidak seleweng-seleweng, ya ketinggalan kereta rek!. Abis yang lainnya seleweng-seleweng semua.

Mangkanya difikiran saya, perlu kejelasan ada apa sih dengan surat Yaasiin itu?. Kenapa harus dibaca terus menerus untuk berbagai kondisi dan situasi. Apa itu memang ada perintah agamanya?.

JAWABAN :

Membaca surat Yaasiin diberba-gai tempat dan kesempatan dan dalam berbagai keadaan itu bersangkutan dengan dua hal, yaitu do’a dan dzikir (zikir).

Do’a adalah : “memohon sesuatu kepada Allah SWT”. Seperti berdo’a agar terhindar dari bencana dan malapetaka. Do’a agar selamat dalam perjalanan pulang perginya (seharus-nya pergi pulangnya). Do’a agar sukses dalam karir. Doa agar mendapat rezeki yang banyak dan halal. Dan berbagai bentuk permohonan lagi, seperti do’a minta dimatikan dalam keadaan iman dan husnul khotimah. Doa agar mendapat isteri yang sholeha, atau suami yang soleh.

Berdo’a itu salah satu bentuk ibadah dalam agama Islam. Firman-Nya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaKu…“. (Surat 2/AI Baqarah, ayat 186).

Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman: “…Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina“. (Surat 40/AI Mu’min, ayat 60).

Dzikir adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ucapan, dengan gerakan tubuh dan dengan kekhusukan hati sebagaimana yang diajarkan oleh agama. Dzikir itu ada berbagai macam bentuknya, seperti membaca Al Qur’an seluruhnya (30 juz). Membaca surat-surat tertentu dan ayat-ayat tertentu dari Al Qur’an. Membaca tahlil (laa ilaa ha illaallah), takbir (Allahu Akbar), tasbih (subhaanallah) dan tahmid (alhamdulillah). Juga membaca istighfar (memohon ampun) “astagh firullah” (astar firullah).
Kemudian disusun sejumlah dzikir dan sejumlah do’a dalam suatu kesatuan. Itulah yang disebut “aurad“. merajinkan membaca aurad tersebut disebut mengerjakan “wirid“. Itulah yang dikenal masyarakat sebagai “wiridan” atau “tahlilan“.

Jadi dimaksudkan dengan wiridan dan tahlilan itu adalah bersatunya dzikir dan do’a. Adapun susunan wiridan dan tahlilan itu ada berbagai macam susunannya. Ada yang pendek yang kira-kira hanya memerlukan waktu satu jam. Ada juga yang setengah panjang, yang memerlukan waktu dua jam. Dan ada pula yang panjang, memerlukan waktu sampai lima jam. Yang dikenal masyarakat adalah yang pendek, yang biasanya selesai diamalkan dalam tempo satu jam.

Menyelenggarakan do’a dan dzikir itu adalah baik sekali dalam “menghidupkan agama” dan “menghidupkan iman” dalam diri setiap orang. Ada baiknya pula bila dalam setiap wiridan dan tahlilan itu ada ustadz yang menerangkan tentang ushuludin (pokok-pokok agama) dan pengertian yang hakiki tentang do’a dan dzikir.

Membaca surat Yaasiin adalah berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW, bagitu juga membaca surat-surat tertentu lainnya seperti membaca surat Kahfi, surat Al Fatihah, surat Al Ikhlas, surat Al Falaq, surat An Naas dan surat-surat lainnya. Juga membaca ayat-ayat tertentu seperti ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al Baqarah dan ayat-ayat lainya.

Adapun surat Yaasiin memang ada hadis Rasulullah SAW yang disuruh dibacakan ketika seseorang sedang sakratul maut (menjelang meninggal dunia), tapi juga untuk dijadikan amalan/wiridan pada waktu-waltu tertentu, misalnya pada malam Jum’at. Tidak terlarang dibaca pada saat yang lain, misalnya ketika menjaga (menunggu) jenazah. Juga boleh baca Al Qur’an seluruhnya.

Sumber : Al-Huda No. 1110 Tahun ke-23 22 Februari 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment