sambil masak, dandan, dan ngurus anak


Desakralisasi Presiden

unduk | Al-Huda, Sosial | Sunday, December 21st, 2008

Presiden RIPertanyaan :

Sebagai orang politik yang berumur 73 tahun saya melihat ide penulisan “presiden yang diimpikan” adalah suatu gagasan yang bagus sekali:” brilyan”. Karena dengan gagasan tersebut merupakan langkah nyata dalam melakukan desakralisasi lembaga presiden.

Saya melihat salah satu sebab bangsa ini terpuruk dan tidak pernah dewasa adalah karena sakralisasi lembaga kepresidenan yang berlebih-lebihan. Lembaga kepresidenan tentu saja haruslah menjadi lembaga yang agung dan terhormat. tapi janganlah hal itu menjadikan presidennya, “orangnya” yang begitu sakral dan begitu menakutkan. Sehingga tak terjangkau oleh pemikiran.

Kalau kita melihat sejarahnya, kiranya hal ini bermula pada tahun 1960-an ketika bangsa ini begitu kagum dan begitu tergantung dengan Bung Karno, sehingga pada waktu itu kesannya hanya Bung Karno saja yang layak jadi presiden. Bahkan, saking kultusnya kepada Bung Karno sampai-sampai MPRS mengangkatnya sebagai “presiden seumur hidup” dan hal itu diamini oleh seluruh bangsa. Kemudian MPRS mengangkatnya lagi sebagai “pemimpin besar revolusi”, dan hal itu diamini juga oleh seluruh bangsa.

Sampai-sampai pada waktu demonstrasi tahun 1966, pada mulanya tidak ditujukan untuk melawan Bung Karno, hanyalah sekadar tuntutan “pembubaran PKI“. Sebenarnya kalau Bung Karno waktu itu membubarkan PKI, boleh dipastikan demonstrasi berhenti. Hal itu terlihat bahwa boleh dikatakan demonstrasi otomatis berhenti semenjak PKI dibubarkan pada 11 Maret 1966.

Ketika, akhirnya Bung Karno turun dari kursi presiden, bangsa Indonesia sangat gamang, rasanya seperti tidak percaya ada orang yang bisa menjabat presiden selain Bung Karno. Saya waktu itu sebagai anggota DPRD mewakili kesatuan aksi sarjana merasakan betul hal itu. Waktu itu kita hari-hari membandingkan Pak Harto dan Bung Karno, dan selalu geleng-geleng kepala melihat “naif dan salahnya” sikap dan penampilan Pak Harto. Ingat saya sampai tahun 1973 pak Harto belum begitu diterima sebagai presiden.

Tapi sayangnya, bagitu terasa Pak Harto mantap sebagai presiden dilakukan sakralisasi kembali terhadap jabatan presiden. Bahkan dalam skala yang lebih hebat, karena sengaja dtaangun dengan mempergunakan mitos Jawa yang menyatakan bahwa pak Harto menjadi presiden karena dia adalah “satrio piningit”, mendapatkan “wahyu cakraningrat” melalui Ibu Tien yang keturunan Mangkunegoro. Sehingga pak Harto dikesankan “tidak tergantikan” dan terpilih kembali….terpilih kembali…. sampai 32 tahun.

Baru ketika Ibu Tien meninggal dunia, mulai ada suara-suara pak Harto sudah kehilangan kekuatan dan segera akan jatuh, karena saluran wahyu cakraningrat ibu Tien sudah meninggal dunia. Oleh kalangan itu, jatuhnya pak Harto, bukan karena Pak Harto melakukan kesalahan, melainkan karena kehilangan wahyu cakraningrat.

Oleh karena itu, saya tidak setuju dengan “Dek Mahyudin” (saya kan lebih tua? dan saya kenal dek Mahyudin semenjak tahun 1974 kok) mencalonkan Suttan Hamengkubuwono X, karena hal itu berpotensi menghidupkan kembali “semangat kejawaan” yang 10 tahun reformasi ini sudah mulai surut.

Juga nggak sreg dengan Meutia Hatta sebagai calon wapres. Apanya yang diharapkan?. Karena dia anak “proklamator” Bung Hatta?. Apa kita tidak belajar dari Mbak Mega yang anak “proklamator Bung Karno? nyatanya tak banyak bisa berbuat ketika menjadi presiden.

Sekarang mari calon presiden dan wapresnya anak rakyat biasa saja. Wakil presiden JK sebenarnya punya kualitas dan kapasitas untuk jadi presiden. Sebagai wapres untuk menjadi presiden itu baginya kan tinggal selangkah lagi. Tentu dengan perlu perbaikan, misalnya mbok dia sedikit memperlihatkan empatinya kepada penderitaan dan kesulitan hidup rakyat. Apalagi JK kan ketua umum partai Golkar yang merupakan partai besar.

Kalau JK tidak “percaya diri” untuk tampil jadi capres, karena dia bukan orang Jawa, mbok dia kasih kesempatan tokoh Golkar lainnya untuk jadi capres, jangan kemudian ngotot calonkan SBY yang bukan orang Golkar dan ‘tetap mau nongkrongi kursi wapres. Kalau itu yang dipilih JK, pilihannya itu tidak sehat. Rakyat harus menghukumnya dengan meninggalkan Golkar yang tidak berani punya capres. Kalau begitu apa gunanya pilih Golkar?

Saya kira Agung Laksono punya kualitas dan kapasitas untuk jadi presiden. wapresnya kalau dari Golkar juga bisa Fadel Muhammad. Kalau dari luarGolkar bisa KH. Hasyim Muzadi atau Din Syamsudin.

Dari PDIP pun baiknya yang maju jadi capres ya anak rakyat biasa. Nggak perlu Mbak Mega yang anak proklamator. Kiranya Mbak Mega lapang dada. Kemudian dari partai-partai kecil kiranya bisa berkoalisi punya calon presiden, sendiri, jangan hanya sekadar menjadi calo suara untuk mendukung SBY Kalau itu terjadi saya lihat perkembangan politik Indonesia akan dewasa dan sehat.

Mengenai dek Mahyudin, saya senang sikap tahu dirinya yang jujur mengaku belum dalam tataran tokoh untuk capres, tapi pemikiran dek Mahyudin “dua tahun Indonesia makmur” adalah wawasan seorang presiden, karena itu perlu diperjuangkan untuk dilaksanakan oleh pemerintah yang akan datang.

Saya sampaikan beberapa ungkapan presideh yang diimpikan.

  1. Saya impikan presiden anak rakyat biasa, sipil, bukan tentara, bukan jenderal dan bukan pensiunan jenderal.
  2. Saya impikan presiden yang mau berjanji bahwa dia mau jadi presiden satu priode saja. (Sehingga dalam satu priode itu dia betul-betul berbakti untuk negara).
  3. Saya impikan presiden yang mau berjanji tidak membiarkan isteri dan anak-anaknya intervensi dalam urusan negara.

Jawaban :

Buletin Al Huda ini dengan sadar membicarakan dan membahas masalah ekonomi dan masalah politik, sebagai bagian dari pembinaan kehidupan beragama. Tujuannya antara lain, untuk meneguhkan bahwa Islam adalah agama untuk kehidupan di dunia dan agama untuk orang hidup. Bukan agama untuk akhirat dan bukan agama untuk orang yang sudah meninggal dunia saja. Atau untuk kesibukan menyiapkan mati saja.

Kemudian dengan sadar buletin Al Huda mengembangkan politik yang moderat dan berwawasan nasional, ekonomi yang berdasarkan akal sehat, berusaha menghindarkan umat dari sikap ekstrim dan radikal dalam beragama. Melainkan toleran (tasamuh) dan lapang dada. Islam yang rahmatan lil alamin, bukan Islam yang selalu dibayangi murka dan siksa Allah SWT.

Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda No. 1148 Tahun ke-23 - 12 Desember 2008

Related Posts with Thumbnails


Related Articles



1 Comment »

  1. wah… kenapa tulisan saya “wahyu cakraningrat” di link ya?? wong isinya bukan detil soal wahyu cakraningrat lho… lebih ke soal anak saya hehehehehe….

    Comment by bangpay — 21 December 2008 @ 7:10 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment