Khutbah Wada’

Ibadah,Kisah,Mimbar Jum'at,Sosial,Syariat | Saturday, December 20th, 2008

Padang ArafahSungguh sangat menyentuh khutbah yang disampaikan Rasulullah Saw pada saat wukuf di padang Arafah dalam pelaksanaan haji wada (haji perpisahan), dan pesan yang disampaikan pun sangat kuat maknanya. Lebih kurang sekitar seratus ribu dua puluh empat atau empat puluh empat ribu orang berkumpul mengitari Rasulullah saat itu.

Rasulullah membuka khutbahnya dengan ucapan, “Wahai umat manusia, dengarkanlah apa yang akan aku katakan ini! Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“.

Apa yang kita atau anda rasakan seadainya turut berada di sana saat itu, dan anda meresapi secara mendalam kalimat yang disampaikan Rasulullah tersebut, dengan penuh yakin pastilah anda akan terdiam, dan badan anda pun akan gemetar.

Kalimat “Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“, seakan mengisyaratkan bahwa tidak lama lagi Beliau akan segera berpisah dengan umatnya. Semuanya menjadi hening, yang berhaji pada saat itu terdiam, khusyu’ mendengarkan khutbah Rasulullah Saw selanjutnya.

Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda (sebagian) kalian (atas sebagian kalian) adalah haram, sebagaimana haramnya hari (kalian berada) di sini, di bulan (kalian berada) di sini, di negeri kalian (tanah haram) ini“.

Inilah pesan pertama yang disampaikan Rasulullah Saw dalam khutbahnya. Tidak boleh mengambil hak orang lain dan tidak boleh menumpahkan darah, membunuh sesama muslim.

Kemudian Rasulullah Saw melanjutkan, “Bahwa segala bentuk perbuatan dan kebiasaan dimasa jahiliyah tidak boleh berlaku lagi. Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku di masa jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi… (Segala bentuk) riba jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi!…“.

Kiranya pesan yang pertama sangat berkait dengan pesan Rasulullah yang kedua, bahwa mengambil hak orang lain, saling bunuh dengan tujuan balas dendam merupakan kebiasaan orang-orang jahiliyah. Pada bagian yang kedua ini Rasulullah menegaskan bahwa segala hal yang dibanggakan dan dipraktikkan oleh orang-orang dimasa jahiliah (sebelum datangnya Islam), tidak boleh berlaku lagi, termasuk praktik riba, tidak boleh lagi ada.

Selanjutnya Beliau berwasiat agar berlaku baik terhadap perempuan (memperlakukan perempuan secara baik). Bahkan saking tegasnya Rasulullah Saw berkata dengan kalimat “ittaqulaah! (takutlah kalian kepada Allah) – dalam urusan perempuan. Dengan kalian menikahinya berarti kalian telah memikul amanah Allah, dan dengan menyebut nama Allah pula farajnya menjadi halal bagi kalian. Dan kepada paraperempuan hendaklah memelihara kehormatannya, jika dia berbuat zina maka tegakkan hukum atasnya. Dan
kalian (para suami) wajib menafkahinya dengan baik
“.

Berikutnya Rasulullah berkata, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu kitabullah (al-Quran)“.

Pesan berikutnya adalah,”Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada lagi nabi setelahku, tidak ada lagi umat setelah kalian (pengikut Muhammad adalah umat yangterakhir). Maka sembahlah Tuhan kalian, tunaikan sholat lima waktu, tunaikan puasa Ramadhan, tunaikan zakat untuk menyucikan jiwa kalian dengannya, dan laksanakan haji ke baitullah, dan patuhi pemimpin kalian, maka kalian akan masuk ke surga Tuhan kalian“.

Jika kita runtut satu demi satu pesan-pesan yang disampaikan Rasulullah Saw dalam khutbah wada’, apa yang dapat kita katakan jika melihat kondisi umat Islam sekarang? Potret sesama muslim yang masih suka mengambil yang bukan haknya, saling melukai, menumpahkan darah, bertikai dan bentrok fisik antar sesama muslim.

Belum lagi penganiayaan yang terjadi terhadap perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan dan eksploitasi kaum hawa hanya untuk meraup keuntungan.

Padahal di penutup khutbahnya Rasulullah bertanya, “Sesungguhnya kelak kalian akan ditanya tentang aku, maka apakah jawaban kalian?“. Dengan serempak dan suara keras orang-orang yang ada di sekeliling Beliau menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah menunaikan dan memberi nasehat“.

Termasuk kita yang hidup sekarang pun telah bersaksi seperti ribuan kaum muslimin yang berkumpul bersama Rasulullah waktu itu. Ketika kita mengucapkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), maka kesaksian kita itu meliputi kesaksian seperti orang-orang yang ikut menunaikan haji wada’ bersama Rasulullah.

Jadi, sesungguhnya kita yang hidup sekarang juga telah mengatakan, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah menunaikan dan memberi nasehat, wahaiRasulullah…“.

Rasulullah pun memastikan kesaksian ini, Beliau berkata:
Ya Allah, saksikanlah!..“,
Ya Allah, saksikanlah!…“,
Ya Allah, saksikanlah!..“.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 50 Th. XXII – 12 Desember 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles


1 Comment »

  1. Pada suatu buku aku pernah baca pesan rasulullah saat haji wada bersabda ” aku tinggalkan dua perkara yang sangat penting untuknkalian ikuti, yaitu alquran dan itrahku ( ahlul baitku ) jika kamu berpegang tegu pada keduanya kalian tidak tersesat. Aku juga belum yakin tentang kebenaran itu, tapi kalau saja betul berarti ada pihak pihak tertentu yg memanipulasi pesan tersebut, untuknkepentingan tertentu. Wahai kaum muslimin carilah kebenaran itu, dari berbagainsumber, karena speninggal rasullullah ada orang kafir ada kaum munafikin, ada orang fasik yang suka memanipulasi hadist untuk kepentingan kekuasaan. Pengaruh nafsu ingin berkuasa setelah peninggalan rasullullah menyebabkan kaum munafikin berani membantainsesama muslim, padahal nabi berpesan darah dan hartabsesama muslim itu haram. Demikian untuk generasinmuda yg kritis.

    Comment by Sukanda — 4 June 2013 @ 9:14 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment