Tebarkan Salam

Akhlaq,Ibadah,Mimbar Jum'at,Sosial | Tuesday, November 11th, 2008

SalamSetiap orang menginginkan kenyamanan dan kedamaian penuh rasa kasih sayang dan keramahan di rumah, menginginkan lingkungan tempat tinggalnya dan tempat bekerjanya dapat memberikan rasa nyaman dan damai kepada dirinya.

Rasulullah Saw pernah memberikan sebuah tips kepada kita untuk memenuhi keinginan kita akan rasa nyaman dan damai penuh kasih sayang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Beliau berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian sehingga kalian saling mengasihi dan mencintai, apakah kalian mau aku tunjukkan kepada sebuah amalan yang apabila kalian amalkan, kalian akan saling mengasihi dan mencintai?, terbarkanlah salam diantara kamu“. (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah Saw di atas menginformasikan kepada kita bahwa untuk masuk surga syaratnya haruslah beriman, dan itu merupakan hal yang pasti dan wajib, karena bagaimana mungkin seseorang akan masuk surga kalau dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir di mana di sana ada surga dan neraka.

Namun Rasulullah Saw melanjutkan bahwa salah satu indikator seorang yang beriman adalah ia gemar mengasihi dan mencintai, bahkan terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya sekalipun. Lantas Rasulullah Saw menawarkan tips yang mudah dan simpel namun pengaruhnya luar biasa untuk menciptakan suasana saling mengasihi dan mencintai, apakah itu?, gemarlah menebar salam diantara sesama.

Ketika Rasulullah Saw mengatakan afsyussalaama bainakum (tebarkanlah salam diantara kamu), kata salaam dapat dimaknai dalam dua konteks yang berbeda, namun tetap dalam esensinya yang sama. Konteks yang pertama, tebarkanlah salam dalam maknanya saling mengucapkan salam “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu”. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw, ketika ada seseorang yang bertanya kepada Beliau:

“Berislam yang bagaimanakah yang baik wahai Rasulullah Saw? “. Rasulullah Saw menjawab, “Berislam yang baik adalah (gemar) memberi makan orang lain (yang kelaparan, apakah karena sebab ia tertimpa musibah dan bencana, atau faktor usia sehingga tidak bisa mencari nafkah, atau orang-orang cacat) dan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. (HR. Bukhari dan Muslim).

Salam dalam Islam berbeda dengan ucapan “Selamat pagi”, “Selamat siang”, “Selamat malam”. Salam dalam Islam mengandung makna yang sangat dalam. Salam dalam Islam mengandung do’a, seorang muslim yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepada muslim yang lain, berarti ia mendo’akannya, “Semoga keselamatan, kesejahteraan, rahmat, berkah dan ampunan dari Allah tetap bagimu”. Demikian sebaliknya muslim yang menjawab pun mendo’akannya.

Saking dianjurkannya mengucapkan salam dalam Islam untuk terciptanya suasana damai dan kondusif, setiap salam yang kita disampaikan akan diganjar 10 sampai 40 nilai kebaikan. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Daud dan Turmudzi:

suatu hari seseorang datang ingin menemui Rasulullah Saw, kemudian orang itu mengucapkan “Assalamamu ‘alaikum” Rasul menjawab salamnya dan berkata, “Sepuluh”. Kemudian datang lagi seseorang dan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Rasul menjawab salamnya dan berkata “Dua puluh”. Selanjutnya datang lagi seseorang mengucapkan, “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu”. Rasul menjawab salamnya dan berkata tiga puluh. Kemudian seseorang mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu wa maghfiratuhu”. Rasul menjawab salamnya dan berkata empat puluh. Masing-masing mereka ada yang mendapat 10 kebaikan sampai 40, semakin panjang salamnya, semakin banyak pula kebaikan yang didapatnya.

Di dalam Islam, menjawab salam hukumnya wajib, dan jika seseorang datang ke suatu majelis dan mengucapkan salam, maka hukum menjawab salamnya adalah fardhu kifayah, jika ada seseorang yang menjawab salam tersebut, maka terlepas semua yang ada di majelis itu dari dosa, tapi, jika tidak ada seorang pun yang menjawab, maka semua yang ada di majelis itu akan berdosa.

Konteks yang kedua, tebarkanlah salam dalam maknanya saling menebar rasa damai, nyaman di antara kalian. Dalam konteks ini mari kita simak hadits Rasulullah Saw yang artinya, “Seorang muslim yang paling baik adalah muslim yang mampu membuat orang lain terselamat dari (bahaya) lisan dan tangannya“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kata orang lidah tak bertulang, meski tak bertulang tapi lidah mampu menciptakan kedamaian dan sebaliknya bisa menimbulkan kekacauan dan kekisruhan. Bagaimana lidah seorang muslim yang tidak baik memfitnah orang, menceritakan aib orang, memaki orang sampai kepada merayu dan menggoda orang. Akibat lisan rumah tangga orang bisa berantakan, sebuah organisasi bisa terpecah belah, sebuah negara bisa terjadi perang saudara.

Uraian di atas mengingatkan kita bahwa seorang muslim bukan saja pandai dan rajin beribadah, namun dia pun harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai ibadah tersebut untuk melahirkan kenyamanan, ketentraman dan kedamaian.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 44 Th. XXII – 31 Oktober 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment