Perkawinan dengan Saudara Angkat dan Sesusuan

Al-Huda,Syariat | Thursday, May 6th, 2010
saudara

saudara

Pertanyaan:

Saya bersaudara kandung empat orang. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Saya anak tertua berumur 28 tahun. sementar adik kecil, laki-laki berumur 21 tahun.

Disamping kami empat saudara kandung, ayah ibu kami mempunyai seorang anak angkat perempuan yang umurnya dua minggu lebih tua dari umur adik saya yang palihg kecil. Adik angkat itu adalah seorang perempuan.

Adik angkat tersebut sebenarnya adalah anak bibi saya, yaitu anak dari adik ibu saya sendiri. Ibunya meninggal dunia ketika adik angkat saya (yang juga saudara sepupu saya itu) masih berumur tujuh bulan. Yaitu ketika adik tersebut masih menyusu.

Karena itu, dimasa kecil adik angkat saya itu pernah disusukan oleh ibu saya. Tapi tidak lama, yaitu sekitar 10 hari, karena ternyata adik tidak cocok dengan susu ibu, sehingga jatuh sakit, dan kemudian semenjak itu adik disusukan dengan susu formula dan juga susu sapi.

Tapi kenyataannya, kira-kira ada selama 10 hari adik tersebut pernah menyusu dengan ibu, sekalipun tidak mengenyangkan, karena ternyata pada diri adik ada reaksi menolak terhadap air susu ibu, yang mengakibatkan setelah sepuluh hari adik tidak lagi disusukan oleh ibu.

Karena umurnya yang sebaya dengan adik saya yang paling kecil, mereka berdua jadinya seperti saudara kembar. Dan dahulu memang banyak orang yang selalu bertanya : “kembar ya?”.

Dan kami dengan enteng saja menjawab ringan : “Ya kembar” Sehingga kedua adik tersebut sampai sekarang mereka merasa benar-benar sebagai anak kembar. Apalagi foto-foto mereka berdua ketika kecil selalu bersamaan dan sepertinya kompak sebagaimana anak kembar saja.

Hubungan kami berlima selama ini baik-baik saja seperti layaknya kakak dengan adik. Tapi setahun terakhir ini perhatian saya dengan adik tersebut menjadi lain, yaitu perhatian seorang laki-laki kepada seorang perempuan.

Dan adik juga seperti mempunyai rasa yang sama. Kami berdua saling jatuh cinta. Dan saling mencintai. Hal tersebut akhirnya menjadi “geger” di dalam keluarga. Papa dan mama jadi blingsatan. Karena bingung bagaimana mungkin? Karena bagi papa dan mama kami adik sudah dirasakan oleh mereka berdua sebagai anak kandung saja.

Terus terang saya sendin juga jadi bingung dengan perkembangan percintaan ini. Juga adik sebenarnya sama bingungnya. Jalan yang paling mudah kami membunuh rasa cinta itu. Tapi itulah yang berat, makin kami tekan, makin tidak dapat. Bahkan cinta kami menjadi semakin kuat.

Karena itu ustadz saya mulai bertanya-tanya kepada beberapa orang yang tahu agama, ustadz di pengajian. Pada umumnya mereka memberikan keterangan bahwa adik angkat itu bukanlah mahram.

Baik bukan mahram saya, juga sebenarnya bukan mahram bagi ayah saya. Sehingga secara hukum katanya boleh anak angkat itu kawin dengan ayah saya. Juga boleh kawin dengan saya. Betulkah demikian ustadz?

Kalau begitu bagaimana sebenarnya hubungan antara anak angkat dan orang tua angkat di dalam agama Islam? Juga bagaimana hubungannya dengan saudara-saudara angkat.

Tapi ada ustadz juga yang menyatakan bahwa adik itu adalah mahram saya, bukan dikarenakan adik angkat, tapi dikarenakan sepersusuan. Karena saya menyusu dengan mama saya. Juga adik angkat pernah menyusu dengan mama saya.

Jadi kami berdua adalah saudara sepersusuan yang haram untuk menjadi suami isteri. Benarkah demikian ustadz? Sebagai saya ceritakan diawal surat pertanyaan yaitu adik pernah menyusu dengan mama selama sekitar sepuluh hari, kemudian selanjutnya disusukan dengan susu formula dan susu sapi.

Jawaban:

Atas masalah yang diajukan oleh saudara penanya terdapat dua urusan Kesatu, masalah saudara angkat Kedua masalah saudara sesusuan.

Bahwasanya bagi anak angkat dan karenanya juga saudara angkat hukumnya tetaplah bukan mahram. Artinya ayah angkat bisa kawin dengan anak angkatnya. Begitu pula ibu angkat bisa kawin dengan anak angkatnya Begitu juga halnya dengan saudara angkat.

Mereka tetaplah pihak-pihak yang bisa melangsungkan perkawinan. Baik saudara angkat itu orang lain sama sekali. Ataupun saudara angkat itu adalah saudara sepupu.

Firman Allah SWT: “Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu. Yang demikian itu adalah perkatan dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar ” (Surat 33 / Al-Ahzab, ayat 5).

Dalam ayat 6-nya Allah SWT selanjutnya berfirman : “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah …

Jadi jelas sekali di dalam agama Islam tidak ada adopsi (pengangkatan anak) sehingga menjadi sama dengan anak kandung. Anak angkat dalam agama Islam adalah hanya sesuatu perbuatan baik memelihara anak orang lain dengan nafkah dan pemeliharaan yang baik.

Konsekwensinya anak angkat tidak mendapat bagian waris. Oleh karena itu apabila orang tua angkat hendak memberikan harta kepada anak angkatnya, hendaklah dalam bentuk hadiah, atau hibah, atau wasiat.

Adapun terhadap saudara sesusuan adalah haram untuk dikawini. Hadis Rasulullah SAW menyatakan : “Sesungguhnya Allah mengharamkan oleh sebab menyusu, seperti apa yang diharamkan oleh sebab hubungan nasab“. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Dimaksudkan dengan saudara sesusu apabila dua orang pernah menyusu (menetek) dengan perempuan yang sama. Saudara penanya jelas menyusu dengan ibunya, dan adik angkat saudara penanya pernah pula menyusu dengan ibunya, sehingga antara saudara penanya dengan adik angkatnya itu adalah saudara sesusuan.

Dimaksudkan dengan penyusuan adalah penyusuan yang dilakukan oleh anak yang berumur dibawah dua tahun, dan menyusunya (meneteknya) sedikitnya lima kali penyusuan (lima kali penetekan).

Karena adik angkat itu pernah ditetekkan (disusukan) oleh ibu sampai sepuluh hari yang diperkirakan lebih dari lima kali penyusuan, maka adik angkat saudara penanya itu adalah saudara sesusuan, dan oleh karenanya haram untuk dikawin.

Oleh karena itu, maksud saudara untuk bersuami isteri dengan adik angkat itu adalah haram dan terlarang hukumnya.

Related Posts with Thumbnails



Related Articles


8 Comments »

  1. apa hukum anak angkat perempuan di susui ibu angkatnya
    dengan ayah angkatnya dr segi aurat dan wuduk sebagainya

    Comment by nurina — 12 November 2010 @ 2:53 am

  2. saya punyai ahli keluarga yg islam dan yg tidak islam jadi dlm hal penuntutan harta bapa say a masih tidak selesai selama puluhan tahun..saudara yg tidak islam tidak mahu kami yg islam menuntut harta tresebut seccara islamik…takut tiada bahagian mereka…lalu abang saya sendiri tidak lagi mahu menyelesaikannya..apahukum abang saya yg tua itu msaih senang hidup sedangkan kami yg lain perlu penyelesai pembahagian harta pusaka itu..demi sebelum kami mati??.

    Comment by nurina — 12 November 2010 @ 3:00 am

  3. saya wanita 23 thn
    jika ibu saya punya saudara perempuan (tante..)

    lalu saudara perempuan ibu saya tersebut mempunyai anak laki2 (sepupu laki2…)

    apakah haram/ halal hukum nya jika kami menikah??

    Comment by izha — 8 September 2011 @ 6:23 pm

  4. @izha: secara islam, halal menikah dengan sepupu laki-laki, selama tidak sesusuan. Namun demikian, hal tersebut tidak dianjurkan secara ilmu genetika, karena hubungannya terlalu dekat.

    Comment by unduk — 9 September 2011 @ 9:22 am

  5. Maaf… setahu saya, dr cerita d atas, tidak apa2 menikahi gadis tsb.. Krn yg sesusuan itu adik dia n cwe tsb, bkn dia… Yakni, dia bkn sdra sesusuan cwe tsb.

    Comment by Fi — 24 December 2011 @ 4:36 am

  6. @Fi: coba dicermati lagi, kalau adiknya sesusuan dengan cwe tersebut, tentu saja ia juga sesusuan dengan cwe tersebut. Karena ia dan adiknya bisa dipastikan menyusu dari ibu yang sama. Demikian juga cwe tersebut.

    Comment by unduk — 27 December 2011 @ 6:30 pm

  7. Cerita diatas yaitu mencintai sepupu sendiri artinya masih terlalu dekat dalam hubungan keluarga. Apalagi sudah terjadi saudara sepersusuan, jika menikah maka jelaslah haram.
    Mendingan belajarlah mencintai wanita lain yang bukan sedarah Bung demi buah hati anda di masa datang. Menikah dengan tetangga (orang lain) malah diperbolehkan.

    Comment by Yopi — 24 March 2013 @ 2:54 am

  8. klo tidak sampai 5 kali tapi di bawah 2 tahun itu bagaimana….

    Comment by sahabat — 8 September 2013 @ 4:31 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment