Kun fayakun

Al-Huda,Tauhid | Friday, August 15th, 2008

Pertanyaan :

Bila kita teliti dengan seksama ketika membaca surat “yaasiin” pada ayat ke 82 bertemulah kita dengan kalimat “kun fayakun“, yaitu perintah Allah SWT terhadap sesuatu cukuplah dengan kalimat : “Jadilah, maka terjadilah“.

Kalau begitu duduknya perkara, maka segala sesuatu itu terjadilah dengan seketika. Tidak bermasa. Tidak bertempo. Padahal pada ayat yang lain, kalau saya tidak salah, ada pula penjelasan bahwa penciptaan alam raya itu terjadi dalam enam masa. Yang tentu mengandung pengertian bahwa penciptaan itu berproses. Bermasa. Bertempo. Hal ini pula yang dipertanyakan oleh teman-teman saya tentang duduk perkara yang sebenarnya.

Terjadinya alam raya dengan berproses, melalui rentang waktu yang panjang telah diakui oleh ilmu pengetahuan. Hal itu didapat dari pengamatan, penyelidikan dan penelitian yang teliti selama berabad-abad dengan penuh kesulitan dan penderitaan oleh para ahli ilmu pengetahuan. Kadang kala penderitaan para ahli ilmu pengetahuan itu sampai pada berkorban diri dan nyawanya, karena apa yang ditemukannya sepertinya berseberangan, (bertentangan) dengan agama.

Ada “sak” (keraguan) di dalam hati dan pikiran kami terhadap kun fayakun dan sesuatu yang berproses. Kiranya hal ini tidaklah tabu untuk dipertanyakan dan didiskusikan.

Jawaban :

Tentu saja semua hal boleh dipertanyakan dan boleh didiskusikan. Karena agama itu adalah argumentasi. Agama itu (selalu) dengan alasan. Dan alasan itu bersandarkan kepada tela’ah akal pemikiran.

Tentu saja kalau agama boleh dipertanyakan dan boleh didiskusikan, maka ilmu pengetahuan lebih boleh lagi untuk dipertanyakan dan untuk didiskusikan. Karena bukankah ilmu pengetahuan itu jelas-jelas merupakan proses pemikiran manusia berabad-abad yang meliputi ribuan ilmuwan, atau bahkan jutaan ilmuwan?.

Jangan kemudian agama boleh dipertanyakan dan boleh didiskusikan, agama dihadapkan dengan apa yang dinamakan akal pemikiran. Sementara ilmu tidak boleh dipertanyakan dan tidak boleh didiskusikan. llmu kemudian diterima sebagai suatu postulat yang final. Tentu tidak boleh demikian. Bukankah seorang ilmuan besar Albert Einstein akhirnya sampai kepada teori kenisbian (teori relativitas), bahwa semua yang ada ini adalah relatif (nisbi). Bukankah Einstein akhirnya sampai pada perlunya ilmu pengetahuan dan agama saling mendukung. “Agama tanpa ilmu lumpuh. llmu tanpa agama buta“.

Kalau terhadap seorang ilmuwan kita diminta untuk menyimak dengan baik dan merenungkan apa-apa yang dikemukakannya. Padahal ilmuan itu adalah manusia biasa, seperti kita juga. Betapa lagi dengan firman Allah SWT. Tentu kita haruslah menyimak dan merenungkannya dengan. baik. Bahkan dengan takzim. Seraya berdo’a semoga Allah SWT berkenan membukakan kepada kita hijab terhadap berbagai pengertian dan pemahaman.

Ada 6 ayat di dalam Al Gur’an firman Allah SWT tentang kun fayakun, marilah kita simak dengan seksama:

  1. Surat 2 – Al Baqarah, ayat 117 : “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya : Jadilah, lalu jadilah ia“.
  2. Surat 6 – Al An’aam, ayat 73 : “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan Nya di waktu Dia mengatakan : Jadilah, lalu terjadilah, dan ditangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui“.
  3. Surat 16 – An Nahl, ayat40 : “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya : Kun – (jadilah) – maka jadilah ia“.
  4. Surat 19 – Maryam, ayat 35 : “Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya : jadilah, maka jadilah ia“.
  5. Surat 36 – Yaasiin, ayat 82 : “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: jadilah, maka terjadilah ia“.
  6. Surat 40 – Al Mu’min, ayat 68 : “Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya : jadilah, makajadilah ia“.

Adapun mengenai penciptaan langit dan bumi dalam enam masa dijelaskan Allah SWT melalui firman-Nya : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam dj atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta Alam“. (Surat 7 – Al-A’raaf, ayat54).

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?“. (Surat 10 – Yunus, ayat 3).

Para ulama tafsir menjelaskan, bahwa dalam memahami Al Gur’an hendaklah dipahami beberapa norma, antara lain :

  1. Seluruh Al Gur’an yang 30 juz dan 114 surat itu adalah satu kesatuan. Bukan masing-masing terserak dan berdiri sendiri-sendiri.
  2. Memahami ayat Al Our’an adalah dengan mengikuti ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya. Karena ayat-ayat itu berkaitan dan saling menjelaskan dan saling memperkuat.
  3. Menafsirkan ayat Al Our’an yang paling utama adalah dengan ayat Al Our’an yang lainnya.
  4. Selagi bisa mengumpulkan makna dan pengertiannya, maka yang lebih utama adalah mengumpulkan, bukannya mentarjih (memilih).

Berdasarkan norma-norma tersebut dapatlah dikatakan bahwa dalam men-ciptakan ba’gi Allah SWT cukup dengan menyatakan “Kun fayakun” (Jadi, lalu (maka) terjadilah), baik jadinya seketika, tak bermasa dan tak bertempo. Ataupun jadinya berproses. Karena dengan berproses itu bukanlah kejadiannya lantas keluar dari kun fayakun. Melainkan tetap dalam konteks kun fayakun itu. Yaitu dalam ke Maha Penciptaan Allah SWT sendiri tanpa memerlukan bantuan dari siapapun. Karena selain dari Allah SWT adalah makhluk (ciptaan Allah SWT).

Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda No. 1134 Tahum ke-23 – 8 Agustus 2008

Related Posts with Thumbnails



Related Articles

  • No Related Post

7 Comments »

  1. Kreksi:Ada 6 ayat di dalam >Al Gur’an<..Mkasih.. Mhn 5af apabila ada slh kata.

    Comment by van — 5 February 2010 @ 12:25 am

  2. Dalam kunfayakun anda tidak perlu ragu,krn allah maha pencipta,jika allah mau menciptakan sesuatu cukup allah mengatakan kun faya kun,maka akan jadi,itulah kekuasaan allah,biar anda jgn ragu,coba simak dgn seksama ayat tersebut,jd jgn ragu n bimbang ok?

    Comment by Charles — 7 February 2010 @ 11:59 pm

  3. Allah menjadikan proses, untuk memberi pelajaran kepada kita, bahwa
    kita dalam segala sesuatu hendaknya jangan instant. Misal pingin kaya,
    kita harus dengan proses. Karena Allah maha pembimbing.
    Dan juga untuk memberi kesempatan kepada manusia, agar bisa dipelajari
    apakah apa yang ada dalam Alquran itu benar atau tidak.
    Seperti bulan terbelah dua. Itu kunfayakun, sehingga waktu astrnot niel
    amstrong dan temannya ke bulan, melihat bulan seperti ada belahan heran
    dan para ilmuwan tidak bisa mempelajarinya.

    Comment by taryono — 14 April 2011 @ 9:54 am

  4. kun fayakun, adalah satu hadiah Allah kepada manusia.
    Jadi maka jadilah: Everything is created Twice. Jadi(ciptaan) pertama adalah dialam Roh, Ciptaan pertama adalah: Imaginasi yg boleh kita hasilkan. Vision, Creative thinking. Semua ini adalah anugerah tuhan, we can imagine what we want.

    Jadi (ciptaan) kedua adalah Reality atau hasil usaha untuk mencapai imaginasi tersebut. Semua ciptaan mestilah melalui dua fasa: Jadi ( Imaginasi) maka Jadilah (alam reality). Segala ciptaan Allah melalui dua fasa: Jadi (alam Luh Mahmuz) maka Jadilah (alam reality).
    Contoh:
    Pembinaan Bangunan
    Jadi —- Imaginasi Akitek
    maka Jadilah — proses pembinaan oleh engineer.

    Menjadi kaya
    Jadi — Imaginasi kekayaan atau matlamt
    maka Jadilah — proses membina kekayaan

    Ciptaan Alam
    Jadi — ciptaan pertama di Luh mahfuz
    Maka Jadilah — ciptaan kedua melalui proses, dari Big Bang sampai wujudnya bumi yang boleh diduduki oleh manusia.

    Ini semua adalah selari dengan satu lagi prinsip kejadian ia-itu \Qada’ dan Qadar’. Setiap hasil itu mestilah sesuai dgn sunnatulah yg telah ditetapkan.Kejadian alam mestilah melalui satu proses atau fasa yg di sebuat sebagai 6 “hari”. sebab itu adalah sunnatulah.

    Ciptaan Manusia
    Ciptaan Pertama — Roh(Sudah sedia di alam roh)
    Ciptaan Kedua — Proses menjadi jasad (dilahirkan)

    Bukankah Allah mencipta sesuatu secara berpasangan.

    Bukankah doa itu ciptaan pertama.
    Usaha itu ciptaan kedua.

    Comment by midraz — 2 May 2011 @ 2:41 pm

  5. Dalam memahami bunyi kalimat “Kun Fayakuunu” (كُنْ فَيَكُوْنُ ) haruslah mengerti seluk beluk bahasa Arab.Tidak boleh sekenanya.Kalimat Fayakuunu adalah Fi’il Mudlori’( Kata Kerja masa sedang atau akan )hal ini memberi arti bahwa Fayakuunu itu mempunyai makna berproses.Coba perhatikan firman Allah ” وَلَنْ تَجدَ لِسُنَّةِ الله ِتَبْدِيْلاً “Dan tidaklah kamu temui dalam aturan Allah ( Sunnah Allah )berubah-ubah.Ini memberi arti bahwa dalam Ilmu pengetahuan itu sama hasilnya dengan Agama,maksudnya bahwa Ilmu pengetahuan itu juga datangnya dari Allah dan kepunyaan Allah juga.Jadi jikalau ada ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan agama perlu di teliti kembali,Apakah ada salah cara mempergunakan Ilmu itu ataukah salah dalam penafsirannya terhadap agama.Smoga bermanfa’at

    Comment by Arief Anggriawan — 3 May 2011 @ 11:37 am

  6. KUN FAYAKU …..
    artinya bukan jadilah maka jadi, tapi ADA LAH maka ADA.

    Comment by yadie — 14 June 2011 @ 10:25 pm

  7. apakah kun fayakun itu melalui proses atau langsung ada.

    Comment by maksud dari kun fayakun — 26 April 2012 @ 4:25 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment