Demonstrasi Mahasiswa
Pertanyaan :
Sebagai seorang ibu saya sangat cemas dengan demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Saya lihat di TV betapa demontrasi mahasiswa itu sangat anarkis. Baik di Jakarta, atau di Makasar, atau di Surabaya, juga di Solo dan di Yogyakarta yang terkenal lemah lembut itu mahasiswa demonstrasi dengan keras dan berujung anarkis.
Saya tidak dapat megerti apa perlunya mahasiswa melakukan demonstrasi itu, karena mahasiswa tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa dan negara. Tugas mahasiswa menurut hemat saya adalah kuliah dan belajar, serta segera menyelesaikan kuliahnya. Karena bagi saya yang menjadi cita-cita anak cepat selesai kuliah, kemudian bekerja membantu meringankan beban orang tua. Bukannya melakukan demonstrasi yang akhir-akhirnya membuat kuliahnya menjadi terlambat selesainya. Padahal biaya kuliah sekarang ini sangat mahal. Hanyalah karena cita-cita agar anak bersekolah sampai menyelesaikan perguruan tinggi sajalah yang membuat kami para orang tua berusaha sekuat tenaga agar anak bisa kuliah.
Apalagi ketika anak ditahan, saya mengalami kerepotan mengurusnya. Selain repot juga gelisah melihat polisi yang tidak berperasaan, yang memukul dan tidak memberikan makanan yang sepatutnya. Tidak terbayangkan oleh saya betapa berat beban yang dipikul oleh seorang ibu lainnya yang anaknya meninggal dunia karena demonstrasi. Tak dapat saya membayangkan pilunya hati sang ibu. Saya saja yang mengurus anak yang di tahan sangat merasakan beban yang berat dan kecemasan. Dalam 5 hari saja, berat badan saya turun 3 kilo gram. padahal saya bukanlah orang yang gemuk.
Jawaban :
Kegelisahan dan kecemasan ibu terha-dap aktivitas anaknya yang menjadi aktivis mahasiswa adalah bisa dipahami dan sangat manusiawi. Ibu yang khawatir terhadap nasib anaknya adalah ibu yang sejati.
Namun, pada sisi lain ibu hendaknya besar hati dan berbangga karena anaknya menjadi aktivis mahasiswa. Menurut pengamatan, mahasiswa yang aktivis itu tidak banyak, yaitu hanya sekitar 5% dari keseluruhan mahasiswa. Sementara yang 95% lagi adalah mahasiswa yang tidak peduli terhadap keadaan masyarakat, tidak peduli terhadap keadaan bangsa dan tidak peduli terhadap keadaan negara. Pada mahasiswa seperti anak ibu itulah hari depan bangsa ini digantungkan dimasa depan. Karena mahasiswa hari ini adalah pemimpin di masa depan. Dan mahasiswa yang menjadi pemimpin di masa depan itu adalah mahasiswa yang menjadi aktivis di masa kuliahnya.
Di masa Rasulullah SAW ada seorang ibu yang mempunyai tiga orang anak. Ketika Rasululiah SAW mengeluarkan seruan perjuangan seruan jihad, ibu tersebut dengan ikhlas melepaskan anak-nya pergi ke medan perang. Ketika gugur anaknya yang pertama dan yang kedua ibu itu tersenyum bangga, karena anak-nya gugur sebagai pejuang di jalan Allah SWT. Tapi, ketika anaknya yang ketiga gugur pula ibu itu menangis tersedu-sedu, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepadanya mengapa dia menangis begitu menghibahkan. Jawab ibu itu : “Ya Rasulullah, saya menangis, karena tidak ada lagi anakku yang akan aku perintahkan untuk mendampingi engkau dalam perjuangan di jalari Allah!“.
Banyak pemimpin yang ingin sekali anaknya menjadi aktivis dan pemimpin mahasiswa, tapi anaknya tidak mau. Anaknya hanya menjadi mahasiswa biasa yang tidak tertarik kepada perjuangan. Ibu sebaliknya, tanpa memberikan peng-arahan dan motivasi anaknya tumbuh sendiri sebagai aktivis. Sungguh ibu sebenarnya sangat beruntung.
Bahwa menjadi aktivis kadang kala terlambat selesai kuliah adalah suatu yang jamak. Bung Hatta karena memimpin “Perhimpunan Indonesia” (Pl) bahkan dengan sadar/dengan terencana meng-undurkan penyelesaian kuliahnya selama tiga tahun. Oleh karena tindakannya itu bea siswa kepadanya dicabut. Bagi Bung Hatta hal itu adalah konsekwensi dari keputusannya untuk berkhidmad kepada perjuangan bangsanya. Bahkan ketika dia mahasiswa itu, Bung Hatta di tahan dan di adili di pengadilan negeri Belanda. Bung Hatta melawan penjajahan Belanda di negeri penjajah bangsanya di Belanda. Terhadap tindakannya itu pemerintah Belanda tentu saja geram sekali. Karena niat pemerintah Belanda membuka kesempatan kuliah kepada “pribumi” agar Belanda mendapat sokongan dari orang-orang terpelajar bangsa Indo-nesia. Hasilnya, justru sebaliknya. Sebagian dari pribumi yang terpelajar itu justru menentang kolonialisme/penjajahan dan menjadi pejuang kemerdekaan.
Indonesia beruntung sekali mempunyai Bung Hatta dan kawan-kawannya anggota Perhimpunan Indonesia, yang karena perjuangan mereka Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Entah apa jadinya, kalau seluruh mahasisvva pribumi waktu itu hanya berfikir untuk menjadi pegawai Belanda. Mungkin sampai hari ini kita masih menjadi bangsa yang terjajah.
Hanya saja perjuangan mahasiswa itu tidak hanya dalam bentuk demonstrasi. Masih banyak bentuk perjuangan yang lainnya, misalnya dengan publikasi menerbitkan gagasan-gagasan. Dengan melakukan kongres, dan seminar-seminar. Dengan melakukan front perjuangan bersama seluruh mahasiswa Indonesia. Dengan melakukan “mogok kuliah”. Semuanya itu bisa dilakukan mahasiswa satu per satu, atau secara bersamaan, sesuai dengan kondisi dan keperluan.
Belajar dari Bung Hatta dan kawan-kawannya, yang paling mendesak dilakukan oleh para mahasiswa adalah merumuskan apa permasalahan yang dihadapi oleh bangsa saat ini?. Bung Hatta dan generasinya merumuskan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh mereka adalah penjajahan. Jawaban dari permasalahan itu adalah kemerdekaan. Dan oieh karena itu mereka berjuang untuk kemerdekaan bangsanya.
Apa masalah bangsa saat ini? Kalau sudah ketemu masalahnya, kemudian bagaimana menjawab masalah tersebut? Kiranya masalah terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah kemiskinan. Bukan sekadar kenaikan harga BBM. Untuk itu apa jawabannya? Disinilah kiranya mahasiswa perlu berfikir.
Jawabannya kira-kira adalah kemakmuran dan kesejahteraan. Maka mahasiswa hari ini hendaknya terpanggil untuk menjadi “pejuang kemakmuran”. Bagaimana mewujudkan kemakmuarn itu? Tentu saja mahasiswa perlu berfikir keras dan bekerja keras. Berfikir keras dan bekerja keras itu adalah tugas utama atas diri para pemimpin. Baik pemimpin mahasiswa, maupun pemimpin bangsa. Semoga para pemimpin mengetahui tugasnya itu.
Sumber : Buletin Dakwah Al-Huda No. 1133 Tahun ke 23 – 1 Agustus 2008
Related Articles
No Comments »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

