skinbea.com/21/ – Tradisi di Majalengka apa saja? Pertanyaan tersebut banyak diungkapkan oleh warga yang ingin berkunjung ke Kota Angin.
Selain mencari tempat dengan pemandangan indah untuk wisata, atraksi budaya hingga tradisi juga menjadi daya tarik lainnya.
Kabupaten Majalengka selain dengan pesona alamnya yang menawan, terdapat warisan adat istiadat yang masih di jalankan hingga saat ini.
Tradisi yang diturunkan dari leluhur kini masih menjadi sebuah tanggung jawab masyarakat untuk terus melestarikan sebagai wujud kepedulian akan nilai kebudayaan yang harus tetap ada.
Meskipun sudah zaman modern, tidak menjadikanya sebuah alasan untuk tidak melanjutkan warisan budaya dari orang terdahulu.
Di Kabupaten Majalengka mempunyai banyak tradisi, namun sekian berkembangnya zaman tradisi semakin memudar, akan tetapi ada setidaknya 4 tradisi yang masih di jalankan hingga sekarang guna menghormati warisan budaya.
Lalu tradisi apa saja yang masih di jalankan di kabupaten Majalengka? Jika anda penasaran simak terus artikel berikut untuk mengetahui informasi mengenai 4 tradisi Majalengka yang masih di lestarikan hingga sekarang:
1. Mapag Sri atau Munjungan
Mapag Sri atau Munjungan adalah sederhana tetapi dilaksanakan dengan meriah oleh para petani. Digelar saat menyambut musim panen tiba. Acara utamanya yaitu dilaksanakan mulai dari pagi hari.
Seluruh petani berkumpul di kantor desa kemudian semuanya berjalan secara serentak menuju area persawahan. setelah tiba di sawah, sesepuh desa akan melakukan pemotongan tanaman padi dan akan dilanjutkan oleh kepala desa.
Guna menambah kemerahan acara Mapag sri biasanya setelah acara utama akan disusul dengan acara-acara lainnya seperti hiburan hingga makan-makan satu kampung.
Secara bahasa mapag sri mempunyai makna yaitu mapag berarti menjemput dan sri berarti padi. Secara umum makna dari Mapag sri adalah para petani memnjemput musim panen.
Acara ini bertujuan menunjukan bentuk syukur para petani kepada tuhan yang maha esa atas berkahnya terhadap tanah yang subur sehingga tumbuh padi-padi yang akan menjadi bahan pangan manusia. Dan harapan atau doa atas keberhasilan untuk musim panen kedepan.
2. Mapag Tamba
Mapag Tamba memiliki tujuan yang sedikit mirip dengan mapag sri atau munjungan, namun mapag tamba dilakukan ketika musim tanaman baru.
Tradisi Mapag Tambah masih dijalankan hingga saat ini dan tak sedikit warga ikut berpatisipasi untuk memeriahkan acara tersebut, terutama di Desa Pilang sari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.
Acaranya di mulai pagi hari tepatnya pada pukul 08.00 WIB seluruh warga harus tepat waktu hadir berkumpul di kantor desa, kemudian seluruh warga berjalan kaki secara serentak untuk mengelilingi setiap pelosok desa setempat hingga pukul 11.00 WIB.
3. Mandi mulud di sumur keramat
Di Majalengka terdapat sebuah sumur tua yang dianggap keramat oleh masyarakat, kepercayaan tersebut sudah di wariskan turun temurun dan masih dipercayai hingga sekarang.
Berada di Desa Pilangsari, dikenal dengan sumur tertua yang pernah dibangun di Majalengka. Konon katannya sumur tersebut sudah berdiri puluhan tahun bahkan sebelum dibangunnya desa mereka.
Tepat di akhir bulan rabiul awal (bulan hijriyah) atau bulan Mulud (bulan jawa) di lakukan aktivitas mandi sumur keramat tersebut.
Mandi di sumur keramat diyakini oleh warga sebuah bentuk penyucian jiwa dan raga guna menyambut bulan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
4. Guar Bumi atau Sedekah Bumi
Tradisi yang masih dilestari di kabupaten Majalengka yang terakhir adalah Guar bumi atau disebut juga dengan sedekah bumi. Tradisi ini kelanjutan dari tradisi mapag tamba, dengan tujuan yang sama yaitu menyambut musim tanam.
Namun yang membedakan dengan mapag tamba yaitu pelaksanaan tradisinya yang di lakukan oleh 7 orang saja yang dianggap mumpuni.
Ketujuh orang tersebut akan melakukan ritual untuk memohon kepada Allah SWT agar selalu diberi kemudahan dan kelancaran serta tidak adanya hambatan yang menghalangi awal penanaman hingga musim panen.
Selain itu harapan atau permohonan kepada yang maha kuasa agar di berikan hasil panen yang melimpah.
Sudah kewajiban masyarakat untuk terus melestarikan tradisi yang sudah di wariskan oleh leluhur terdahulu, meskipun dizaman modern ini kebudayaan sering dianggap kuno dan bukan zamannya lagi untuk percaya hal demikian.
Namun setiap acara yang digelar memiliki nilai tersendiri yaitu penghormatan, kelestarian budaya, kekompakan, dan kebersamaan. (Rizki ainun Ni’mah)