Belajar Ikhlas: Berat di Awal, Tenang di Akhir

MIMBARJUMAT.COM – Ikhlas berarti memurnikan niat hanya karena Allah, tanpa mengharapkan pujian, balasan, atau pengakuan dari manusia.

Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti bersih atau murni. Dalam Islam, ikhlas adalah inti dari setiap amal.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 2–3:

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang bersih (dari syirik).”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan ibadah dan kebaikan hanyalah untuk Allah, bukan untuk penilaian manusia.

Dalam ayat lain, Surah Al-Bayyinah ayat 5, Allah berfirman:

“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…”

Ini menunjukkan bahwa ikhlas bukan tambahan, tetapi inti dari perintah agama itu sendiri.

Adapun dalam hadis, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dasar utama dalam Islam bahwa nilai suatu perbuatan terletak pada niat di dalam hati.

Mengapa Ikhlas Itu Berat?

Karena manusia secara alami ingin dihargai. Ketika usaha tidak diakui, ketika kebaikan tidak dibalas, hati bisa merasa kecewa.

Di sinilah ujian keikhlasan muncul. Ikhlas menuntut kita melepaskan ego dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.

Orang yang ikhlas tidak mudah hancur oleh komentar manusia. Ia tidak terlalu tinggi saat dipuji dan tidak terlalu jatuh saat dicela.

Hatinya stabil, karena sandarannya bukan manusia, melainkan Allah yang Maha Melihat dan Maha Membalas setiap kebaikan.

Penutup

Ikhlas memang berat karena ia melawan keinginan hati untuk diakui. Tetapi ketika niat sudah lurus dan hanya tertuju kepada Allah, ada ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh pujian manusia.

Penulis: Hafiz Reyfansyah

Leave a Comment