Trikotilomania: Gangguan Mental yang Jarang Dibicarakan, Ketika Dorongan Mencabut Rambut Sulit Dikendalikan!

MIMBARJUMAT.COM – Pernahkah Anda merasa gelisah dan tanpa sadar memainkan rambut? Mungkin sesekali hal itu wajar. Namun, bagi sebagian orang, kebiasaan ini berubah menjadi dorongan tak tertahankan untuk mencabuti rambut hingga botak.

Kondisi ini dikenal sebagai trikotilomania, sebuah gangguan mental yang jarang dibahas namun dampaknya sangat nyata bagi penderitanya. Trikotilomania bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan gangguan psikologis yang termasuk dalam kategori obsessive-compulsive disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.

Penderitanya mengalami dorongan berulang untuk mencabuti rambut dari kulit kepala, alis, bulu mata, atau area tubuh lain yang berambut. Mereka melakukannya secara sadar maupun tidak, terutama saat sedang stres, cemas, atau bahkan ketika sedang fokus mengerjakan sesuatu.

Sayangnya, setelah melakukannya, banyak penderita merasa malu, bersalah, dan frustrasi. Rasa bersalah ini justru memicu kecemasan baru, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.

Gangguan ini bisa dimulai sejak masa anak-anak atau remaja, dan jika tidak ditangani, dapat berlanjut hingga dewasa dengan dampak yang semakin kompleks.

Mengenal Trikotilomania, Bukan Sekadar Kebiasaan Buruk

Secara medis, trikotilomania ditandai dengan dorongan impulsif yang tidak tertahankan untuk mencabuti rambut. Bagi sebagian orang, tindakan ini menjadi mekanisme sementara untuk meredakan stres atau ketegangan emosional. Namun, karena dilakukan berulang, dampaknya bisa permanen.

Penderita sering kali mencabuti rambut saat merasa cemas, bosan, atau justru ketika sedang asyik dengan aktivitas tertentu seperti membaca, menonton, atau bekerja di depan komputer. Mereka mungkin tidak menyadari apa yang mereka lakukan hingga kerontokan terjadi.

Dalam beberapa kasus, penderita juga bisa menelan rambut yang dicabut, yang berisiko menyebabkan masalah pencernaan serius.

Penyebab Trikotilomania, Kombinasi Faktor Genetik dan Psikologis

Hingga saat ini, penyebab pasti trikotilomania belum sepenuhnya diketahui. Namun, para ahli meyakini bahwa gangguan ini muncul akibat kombinasi beberapa faktor:

  • Faktor genetik: Trikotilomania cenderung lebih sering terjadi pada individu yang memiliki riwayat keluarga dengan OCD atau gangguan kecemasan lainnya. Ini menunjukkan adanya komponen keturunan.
  • Ketidakseimbangan kimia otak: Neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin yaitu dua hormon pengendali suasana hati yang diduga berperan penting dalam munculnya perilaku kompulsif. Ketidakseimbangan zat kimia ini dapat memicu dorongan yang sulit dikendalikan.
  • Tekanan psikologis: Stres berat, kecemasan kronis, atau trauma emosional sering menjadi pemicu atau faktor yang memperburuk trikotilomania. Bagi sebagian penderita, mencabuti rambut menjadi pelarian sementara dari tekanan yang mereka hadapi.

Dampak yang Tak Hanya Fisik, Tapi Juga Mental

Trikotilomania bukan hanya soal rambut rontok. Dampaknya meluas ke berbagai aspek kehidupan penderitanya, baik fisik maupun mental.

  • Menurunnya kepercayaan diri
    Area botak akibat kebiasaan mencabut rambut, terutama di bagian yang terlihat seperti kepala atau alis, bisa membuat penderita merasa malu dan minder. Mereka kerap menghindari interaksi sosial atau berusaha menutupi kondisi dengan wig, syal, topi, atau riasan. Dalam jangka panjang, ini bisa memicu isolasi sosial dan depresi.
  • Masalah kesehatan kulit
    Mencabut rambut secara terus-menerus dapat melukai kulit, menyebabkan infeksi, serta merusak folikel rambut secara permanen. Jika folikel rusak, rambut mungkin tidak bisa tumbuh kembali atau pertumbuhannya sangat lambat. Luka yang tak kunjung sembuh juga berisiko menimbulkan jaringan parut.
  • Gangguan emosional
    Perasaan bersalah, malu, dan frustrasi sering menghantui penderita, terutama saat mereka merasa tidak mampu mengendalikan dorongan tersebut. Lingkaran setan stres-mencabut-bersalah-stres ini membuat kondisi semakin sulit diatasi tanpa bantuan profesional.

Langkah Mengatasi Trikotilomania agar Kualitas Hidup Membaik

Kabar baiknya, trikotilomania bisa diatasi dengan pendekatan yang tepat. Kombinasi terapi psikologis, dukungan sosial, dan kadang-kadang obat-obatan dapat membantu penderita mengelola dorongan dan menjalani hidup yang lebih tenang.

  1. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
    CBT adalah metode paling umum dan efektif untuk menangani trikotilomania. Terapi ini membantu penderita mengenali pola pikir dan situasi yang memicu perilaku mencabut rambut. Selanjutnya, mereka diajari strategi coping mechanism yang lebih sehat, seperti mengalihkan perhatian ke aktivitas lain atau menggunakan teknik relaksasi.
  2. Obat-obatan
    Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan obat antidepresan jenis SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) yang bekerja menyeimbangkan kadar serotonin di otak. Obat ini dapat membantu mengurangi dorongan kompulsif, meskipun penggunaannya harus selalu dalam pengawasan medis.
  3. Dukungan dari keluarga dan teman
    Dukungan emosional dari orang terdekat sangat berarti dalam proses pemulihan. Penderita sering merasa lebih baik ketika tahu mereka tidak sendirian. Bergabung dengan kelompok pendukung, baik secara daring maupun langsung, juga bisa menjadi tempat berbagi pengalaman dan strategi mengatasi.

Selain itu, perubahan gaya hidup seperti mengelola stres dengan olahraga, meditasi, atau hobi baru juga dapat membantu mengurangi frekuensi dorongan mencabut rambut.

Trikotilomania bukanlah aib atau sesuatu yang perlu disembunyikan. Ini adalah kondisi medis yang membutuhkan pemahaman dan penanganan tepat. Dengan dukungan yang sesuai, penderitanya bisa belajar mengelola dorongan dan hidup lebih nyaman tanpa dibayangi rasa malu.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala serupa, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Langkah kecil hari ini bisa membawa perubahan besar di masa depan.

Leave a Comment