MIMBARJUMAT.COM – B.J. Habibie dikenal sebagai ilmuwan dan teknokrat yang berperan besar dalam pengembangan teknologi dirgantara Indonesia. Lahir di Parepare pada 25 Juni 1936, Habibie menunjukkan minat kuat pada ilmu teknik sejak muda.
Pendidikan dan Karier di Jerman
Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan di Jerman Barat, tepatnya di RWTH Aachen University. Di sana ia menekuni bidang konstruksi pesawat dan teori keretakan material yang berkontribusi pada peningkatan standar keselamatan struktur pesawat.
Setelah menyelesaikan pendidikan, ia bekerja di industri pesawat terbang Jerman. Kariernya berkembang pesat dan namanya dikenal di kalangan insinyur penerbangan Eropa.
Pada 1970-an, ia memutuskan kembali ke Indonesia untuk membantu membangun industri strategis nasional. Keputusan itu menjadi titik balik penting dalam sejarah teknologi Indonesia.
Membangun Industri Pesawat Nasional
Sekembalinya ke tanah air, Habibie memimpin pengembangan industri dirgantara melalui Industri Pesawat Terbang Nusantara yang kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, Indonesia mengembangkan berbagai jenis pesawat. Salah satu yang paling dikenal adalah N-250, pesawat turboprop regional yang pertama kali terbang pada 1995. Penerbangan itu menjadi simbol kemampuan teknologi anak bangsa.
Habibie meyakini bahwa penguasaan teknologi adalah kunci kemandirian. Menurutnya, negara berkembang harus berani melangkah ke industri berteknologi tinggi agar tidak terus bergantung pada pihak luar.
Tantangan dan Penghentian Proyek
Krisis ekonomi 1997–1998 memberi dampak besar pada industri strategis nasional. Proyek N-250 ikut terdampak dan akhirnya dihentikan akibat tekanan ekonomi serta kebijakan restrukturisasi.
Meski proyek tersebut berhenti, fondasi industri dirgantara yang dibangun tetap bertahan. Infrastruktur, sumber daya manusia, dan pengalaman teknis menjadi modal penting bagi pengembangan penerbangan Indonesia di masa berikutnya.
Warisan Pemikiran dan Dedikasi
Perjalanan B.J. Habibie menunjukkan bahwa kemajuan bangsa bisa ditempuh melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia tidak hanya membangun pesawat, tetapi juga membangun kepercayaan diri nasional.
Dedikasinya menjadikan ia dikenang bukan sekadar sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia, melainkan sebagai tokoh yang menanamkan visi kemandirian teknologi bagi Indonesia.
Penulis: Hafiz Reyfansyah