MIMBARJUMAT.COM – Rekor baru harga emas prediksinya bakal meledak dengan kecenderungan menguat pada pekan depan bulan Februari.
Prediksi harga emas ini bergerak fluktuatif sehingga berpotensi mencapai Rp 3,15 juta per gram, seiring dinamika sentimen global.
Harga emas dunia pada Sabtu pagi tercatat ditutup di posisi 5.103 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia domestik berada di level Rp 3,012 juta per gram.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan secara teknikal jika harga emas menurun.
Hal ini melihat level support pertama berada di 5.045 dolar AS per troy ons dan Rp 2,95 juta per gram.
Sedangkan untuk support kedua berada di 4.953 dolar AS per troy ons dan Rp 2,9 juta per gram.
Ibrahim menjelaskan sejumlah sentimen diperkirakan mendorong penguatan harga emas yang dipengaruhi faktor geopolitik.
Faktor ini diyakini adanya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik di Timur Tengah setelah Perdana Menteri Israel menunda rapat kabinet dan melakukan komunikasi intensif dengan Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan serangan terhadap Iran.
Ia menyebut jika keberadaan dua kapal induk AS di kawasan tersebut mengindikasikan keseriusan AS.
Iran juga dilaporkan menyiapkan kekuatan militernya bilaman terjadi serangan.
Ibrahim menilai potensi konflik berkepanjangan bisa mengganggu pasokan minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak, terutama Brent dan crude oil, berisiko memicu inflasi global.
“Nah, inflasi inilah yang membuat harga emas akan kembali mengalami kenaikan,” ungkap Ibrahim.
Selain itu, kondisi politik di AS juga menjadi sentimen. Mahkamah Agung AS memutuskan dengan suara 6-3 bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki wewenang menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional untuk memberlakukan tarif perang dagang.
Ibrahim menilai jika keputusan tersebut memanaskan situasi politik domestik AS. Trump kemudian merespons dengan menurunkan tarif impor menjadi 10 persen.
Isu lain yang menjadi perhatian pasar salah satunya yakni polemik pemecatan Anggota Dewan Gubernur The Fed Lisa Cook oleh Trump, yang berpotensi kembali diuji di Mahkamah Agung.
Bank sentral AS sendiri dikenal sebagai lembaga independen sehingga dinamika tersebut dinilai dapat menambah ketidakpastian.
Kemudian sampai hari Jumat atau Sabtu pagi, kemungkinan besar resistance kedua di 5.263 dolar AS per troy ons, dan logam mulianya Rp 3,15 juta per gram,” pungkas Ibrahim dalam keterangannya.
Melihat sisi kebijakan moneter, kendati data tenaga kerja dan inflasi AS menunjukkan perbaikan, terdapat indikasi Ketua The Fed Jerome Powell berpeluang menurunkan suku bunga dua kali tahun ini.
Ibrahim menyebut Powell diperkirakan menjabat hingga Mei 2026 dan kemungkinan digantikan Kevin Warsh, yang dinilai cenderung lebih agresif menurunkan suku bunga.
Penurunan suku bunga ini memiliki potensi melemahkan dolar AS dan menjadi sentimen positif bagi harga emas.(*)
Penulis: Mishbahul Anam