Inovasi Alfamart: Dari Minimarket Jadi Tempat Hiburan

MIMBARJUMAT.COM – Adanya bioskop mini di Alfamart menunjukkan bahwa minimarket tidak lagi hanya tempat membeli barang lalu pulang, tetapi juga dapat menjadi tempat singgah.

Ini adalah informasi yang menarik bagi mereka yang ingin menonton film tanpa harus pergi ke bioskop besar yang biasanya terletak di pusat perbelanjaan. Kini, jejaring ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, juga dikenal sebagai Alfamart, bekerja sama dengan Layar Digi untuk meluncurkan bioskop mini di gerai mereka.

Program ini menandai kemajuan baru dalam memberikan pengalaman menonton film yang efisien, kontemporer, dan terjangkau. Bioskop mini ini dijanjikan untuk memberikan kualitas audio visual terbaik meskipun kapasitasnya lebih sedikit daripada bioskop konvensional.

Solihin, Corporate Affairs Alfamart, menyatakan bahwa kerja sama ini didasarkan pada pembagian peran. Alfamart Agricola di Gading Serpong, Tangerang Selatan, akan menjadi lokasi awal.

“Benar. Gini, namanya kan kerja sama ya. Kerja sama, ada yang menyediakan ini ada yang menyediakan itu ya. Jadi Alfamart dalam hal ini lebih mempunyai tempat ya. Nah sedangkan pengelolaannya oleh Layar Digi, seperti itu,” ucap Solihin

Jenis konten apa yang akan disediakan belum diputuskan karena proyek ini masih bersifat uji coba, kata Solihin. Dia mengatakan bahwa jenis konten ini akan disesuaikan dengan respons pasar pada akhirnya.

Sampai saat ini, kami ingin menunggu hasilnya, karena kami mungkin belum mengetahui tanggapan masyarakat terhadap hal itu. Kapasitasnya pasti terbatas karena namanya mini, ya. “Selain itu, disesuaikan dengan segmen kami memiliki gerai ya,” kata Solihin.

Jadi, pertama-tama, coba lihat seberapa antusiasnya. Dia juga menyatakan, “Nah kalau memang itu antusias, tentunya kami akan terus mengembangkan dalam jumlah yang lebih dari satu [gerai] tadi seperti itu.”

Solihin mengatakan bahwa ide dasar dari bioskop mini ini adalah untuk menyasar orang-orang di sekitar toko Alfamart, bukan orang-orang dari luar kota atau dari jarak jauh.

Ini menunjukkan pernyataan Solihin bahwa Alfamart adalah toko komunitas dengan sebagian besar pembeli berasal dari daerah sekitarnya.

Sebagai toko atau ritel komunitas, kami sadar lingkungan. Rata-rata pelanggan kami sadar lingkungan. Dia menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk menarik pelanggan jauh dari toko.

Dalam hal model bisnis, Solihin mengatakan penjualan tiket akan menghasilkan pendapatan awal. Namun, respons pasar akan menentukan apakah iklan dan promosi produk dapat dilakukan atau tidak.

Selain itu, ia menghindari kemungkinan berkompetisi secara langsung dengan bioskop konvensional. Solihin kemudian menekankan pentingnya pelayanan dan efisiensi di tengah persaingan belanja online.

Enggak, segmennya berbeda. Mereka berbeda. Menurutnya, “Seperti yang saya katakan tadi, toko kami adalah toko komunitas.”

“Siapa yang mendapat manfaat dari usaha ini?” yang dapat menyediakan layanan yang lebih baik dan lebih efisien. Singkatnya, “Yang besar belum tentu mengalahkan yang kecil, tapi yang cepat pasti meninggalkan yang lambat.”

Gebrakan Baru Alfamart?

Yongky Susilo, Managing Director of Commercial Real Estate and Shopping Center Studies (CRSC), menganggap langkah yang diambil Alfamart dalam bisnisnya sebagai inovasi baru.

Yongky berpendapat bahwa tindakan Alfamart untuk mendirikan bioskop mini adalah langkah baru, bukan bagian dari bisnis utamanya—yaitu di pasar swalayan.

“Ini setahu saya unit bisnis baru, diversifikasi bisnis. Memakai brand Alfamart. Jadi tidak ada hubungannya dengan grocery. Ekosistem bisnis, yang saling melengkapi,” kata Yongky

Dengan demikian, dapat meningkatkan keterikatan pelanggan dengan merek, yang disebut diversifikasi. Yongky mengatakan bahwa dengan adanya bioskop mini, penggunaan merek Alfamart tidak akan merusak reputasinya atau posisinya sebagai minimarket. Karena target pelanggan tetap sama dengan merek Alfamart yang sudah kuat, bisnis inti tetap aman.

“Target konsumen sama kelas menengah. Brand equity Alfamart tinggi. Kalau tengah jalan (bioskop mini) enggak jalan, enggak akan hurt grocery, loyalitas masih tinggi,” ucap dia.

Sebaliknya, dia menyatakan bahwa peningkatan pengunjung atau belanja di Alfamart tidak secara otomatis terjadi karena bioskop mini berdiri sendiri sebagai bisnis terpisah dari operasi sehari-hari minimarket.

Selain itu, Yongky menyatakan bahwa dia belum melihat efek langsung dari adanya bioskop mini terhadap peningkatan jumlah orang yang berbelanja. Ini karena orang yang datang ke bioskop belum tentu membeli barang di toko tersebut.

Oleh karena itu, Yongky berpendapat bahwa Alfamart harus bekerja sama dengan perusahaan lain untuk membuat hubungan antara hiburan dan belanja. Contoh kerja sama termasuk diskon khusus, promosi produk saat menonton, atau iklan yang menargetkan pengunjung bioskop.

“Saya enggak melihat itu. Separate (terpisah) bisnis. (Maka dari itu) Butuh kreativitas, collab (kerjasama) program sambungkan entertainment dengan grocery,” jelasnya.

Dia menyatakan bahwa, sehubungan dengan risiko, bisnis bioskop mini memiliki tingkat risiko yang relatif kecil karena idenya masih dalam tahap awal dan sifatnya uji coba. Dia menjelaskan bahwa ekosistem diciptakan untuk memenuhi kebutuhan orang yang tinggal di dalamnya. Dengan kata lain, bioskop mini dianggap sebagai bagian dari ekosistem bisnis Alfamart yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan daripada menggantikan bisnis utama.

Akibatnya, dia menyatakan bahwa bentuk minimarket tidak akan berubah.

“Alfamart tetap punya format standar, enggak akan berubah karena ada cinema. Akan di cari lokasi-lokasi yang memang bisa dibuat cinema, enggak akan cut minimarketnya, aman,” tegas Yongky.

Strategi Hadapi Gempuran Ritel Online

Sementara itu, Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), menganggap integrasi hiburan sebagai keniscayaan.

Dia mengatakan bahwa ritel modern harus menawarkan pengalaman dan gaya hidup atau gaya hidup jika mereka ingin bertahan dan berkembang.

“Ya kalau buat saya sekarang ritel itu tidak bisa hanya jualan barang. Justru bahkan termasuk mall, lifestyle yang bisa menyelamatkan ke depan itu adalah lifestyle,” kata Budihardjo

Menurut Budihardjo, keunggulan utama belanja secara langsung dibandingkan dengan belanja online adalah pengalaman langsung yang tidak dapat dibandingkan dengan layar ponsel. Ini karena belanja online hanya berfokus pada transaksi dan tidak memiliki suasana, interaksi sosial, atau aktivitas tambahan.

“Jadi kalau di online kan enggak ada itu. Bosan di rumah cuma lihat TV. Bosan, dia ke mal, di mal dia bisa refresh, makan enak, langsung bisa nonton bioskop,” ucapnya.

Oleh karena itu, Budihardjo berpendapat bahwa konsep ritel berbasis gaya hidup dapat diterapkan dalam skala yang lebih kecil, seperti minimarket atau convenience store.

Oleh karena itu, minimarket menjadi tempat singgah alih-alih hanya membeli barang lalu pulang.

“Harusnya sih bisa ya, convenience store kan sudah ada kayak kopi, makanan, minuman yang mana orang nongkrong sudah disiapin meja kursi jadi kayak restoran. Ya ke depannya mungkin bisa jadi kayak tempat nongkrong kecil ya, untuk enggak usah ke mal, (jadi bisa) langsung dekat rumah gitu,” ucap Budihardjo.

Pelengkap di Tengah Tekanan Daya Beli

Alfamart dan Layar Digi berkolaborasi untuk membangun bioskop mini di gerai minimarket, yang dianggap sebagai inovasi menarik di industri ritel. Nur Komaria, seorang peneliti dari Center of Digital Economy (INDEF), mengatakan bahwa pendekatan micro cinema dapat meningkatkan pilihan hiburan masyarakat.

“Ini konsep yang menarik dengan pendekatan micro cinema menambah bauran hiburan masyarakat. Cabang Alfamart yang lebih dari 20.120 gerai dan sangat dekat dengan masyarakat menjadi kekuatan utama inovasi,” ujar Ria.

Menurutnya, ide microcinema sebenarnya bukan hal baru; ia mengacu pada bioskop di pusat perbelanjaan yang memiliki kursi yang lebih kecil dan intim.

“Konsep micro cinema ini bukan konsep baru karena sudah ada beberapa bioskop Cinepolis dengan opsi kursi yang lebih minimalis dan intimate. Perbedaannya, lokasi di mal yang memerlukan parkir progresif dan menuntut mobilitas yang lebih jauh. Sementara itu, bioskop Alfamart dibuka digerai dengan harga sangat terjangkau dan lokasi dekat,” jelasnya.

Ria juga menemukan bahwa kedekatan lokasi dengan pelanggan sangat penting. Ia juga menyatakan bahwa pola konsumsi masyarakat telah berubah sejak pandemi COVID-19. Ini termasuk preferensi untuk layanan yang lebih dekat dan mudah diakses.

“Seperti halnya banyak kopi keliling dari jenama terkenal karena melihat peluang semakin dekatnya dengan konsumen,” katanya.

Dia melihat kemungkinan bahwa masyarakat akan memiliki pilihan hiburan yang lebih murah dengan bekerja sama dengan Layar Digi, tetapi dia menekankan pentingnya perbedaan.

“Dengan adanya Layar Digi, masyarakat luas semakin diuntungkan. Perlu diingat bahwa akan menilai bagaimana perbedaan dan nilai tambah yang ditawarkan Alfamart selain dari lokasi strategis, harga, dan meratanya micro cinema. Bisa dengan opsi genre filmnya, film lokal, atau internasional, popularitas pemainnya, dan pengalaman yang dihadirkan,” jelas Ria.

Ria menganggap bioskop mini ini mungkin lebih dilihat sebagai pelengkap daripada kebutuhan utama di tengah tekanan harga.

“Dengan menurunnya daya beli, saya rasa ini bisa jadi pelengkap hiburan masyarakat karena kompetisi hiburan ini tidak hanya bioskop besar,” katanya.

Leave a Comment