Niat Sholat Tarawih dan Sholat Witir Lengkap Beserta Artinya!

MIMBARJUMAT.COM – Umat Islam selalu mengantisipasi bulan Ramadan sebagai kesempatan yang luar biasa untuk meningkatkan ibadah mereka dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada malam-malam Ramadan adalah sholat Tarawih dan Witir, yang dilakukan setelah sholat Isya hingga menjelang waktu Subuh.

Sholat Tarawih dan Witir Memiliki Keutamaan yang Besar

Di bulan Ramadan, sholat Tarawih, yang juga disebut Qiyamul Lail, memiliki keutamaan yang luar biasa. Seperti yang dijelaskan dalam hadis berikut, “Barang siapa ibadah (Tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau”, menunjukkan bahwa ibadah Tarawih dapat menjadi sarana pengampunan dosa bagi mereka yang melakukannya dengan iman tulus dan mengharapkan pahala dari Allah SWT.

Melakukan Tarawih secara berjamaah hingga selesai, termasuk sholat Witir, dapat mendatangkan pahala yang sebanding dengan melakukan sholat semalam penuh. Ibadah ini juga meningkatkan kedekatan spiritual, meningkatkan tingkat ketakwaan, dan menumbuhkan ukhuwah dan kebersamaan di antara umat Islam.

Waktu Pelaksanaan dan Jumlah Rakaat

Sholat Tarawih dimulai setelah sholat Isya dan sunnah ba’diyah Isya, dan dapat dilakukan hingga menjelang Subuh. Sholat Witir menutup rangkaian ibadah malam.

Terdapat fleksibilitas dan perbedaan praktik sejak awal Islam dalam hal jumlah rakaat. Sholat Tarawih biasanya dilakukan sebanyak 8 rakaat atau 20 rakaat, lalu ditutup dengan sholat Witir. Sholat Witir sendiri dilakukan dalam jumlah berbeda, misalnya 1, 3, atau 5 rakaat, dengan yang paling umum adalah 3 rakaat.

Di Indonesia, ada banyak perdebatan tentang berapa banyak rakaat Tarawih yang dilakukan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah biasanya menetapkan 11 rakaat (8 Tarawih dan 3 Witir) berdasarkan hadis riwayat Aisyah RA. Sementara itu, Nahdlatul Ulama biasanya melakukan 23 rakaat (20 Tarawih dan 3 Witir), merujuk pada tindakan sahabat selama pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Kedua praktik ini berasal dari ijtihad yang dibenarkan dalam kitab fikih Islam, dan umat diminta untuk menghormati satu sama lain. Sholat Tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat Witir juga dilakukan di Masjidil Haram Makkah dan Masjid An-Nabawi Madinah.

Instruksi tentang Niat dan Tata Cara Sholat

Sholat Tarawih dan Witir dapat dilakukan secara berjamaah di masjid maupun sendiri di rumah dengan cara yang sama seperti sholat sunnah dua rakaat lainnya: takbiratul ihram, membaca Al-Fatihah, surah pendek, rukuk, sujud, tasyahhud, dan salam.

Niat Sholat Tarawih

  • Niat Sholat Tarawih Sendiri (Munfarid):
    أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
    Ushalli sunnatat tarawihi rak’ataini lillahi ta’ala.
    Artinya: “Saya niat shalat sunnah tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
  • Niat Sholat Tarawih Berjamaah sebagai Makmum:
    أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
    Ushalli sunnatat tarawihi rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala.
    Artinya: “Saya niat shalat sunnah tarawih dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”
  • Niat Sholat Tarawih Berjamaah sebagai Imam:
    أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
    Ushalli sunnatat tarawihi rak’ataini imaman lillahi ta’ala.
    Artinya: “Saya niat shalat sunnah tarawih dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Sholat Witir

  • Niat Sholat Witir 3 Rakaat (Sendiri):
    أُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى
    Ushallî sunnatal witri tsalâtha rak’ātin lillāhi ta’ālā.
    Artinya: “Aku berniat sholat sunnah Witir tiga rakaat karena Allah Ta’ala.”
  • Niat Sholat Witir 3 Rakaat (Berjamaah sebagai Makmum):
    أُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
    Ushalli sunnatal witri tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaan ma’muuman lillahi ta’aala.
    Artinya: “Saya niat sholat sunnah witir tiga rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

Doa Setelah Sholat Tarawih (Doa Kamilin)

Setelah selesai melaksanakan sholat Tarawih, umat Islam di Indonesia umumnya membaca Doa Kamilin. Doa ini merupakan untaian permohonan agar seorang hamba mencapai kesempurnaan iman.

Berikut bacaan Doa Kamilin:

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allahummaj’alna bil imani kamilin. Wa lil faraidli mu’addin. Wa lish-shlati hafidhîn. Wa liz-zakati fa’ilin. Wa lima ‘indaka thalibin. Wa li’afwika rajin. Wa bil huda mutamassikin. Wa ‘anil laghwi mu’ridlin. Wa fid dunya zahidin. Wa fil akhirati raghibin. Wa bil qada’i radlin. Wa lin na’ma’i syakirin. Wa ‘alal bala’i shabirin. Wa tahta liwa’i Muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam yaumal qiyamati sa’irina wa ilal haudli waridin. Wa ilal jannati dakhilin. Wa minan nari najin. Wa ‘ala sariril karamati qa’idin. Wa min hurin ‘inin mutazawwijin. Wa min sundusin wa istabraqin wa dibajin mutalabbisin. Wa min tha’amil jannati akilin. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syaribin. Birahmatika ya arhamar rahimin.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang menunaikan kewajiban-kewajiban (fardhu), yang memelihara sholat, yang menunaikan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang teguh pada petunjuk, yang berpaling dari perbuatan sia-sia, yang zuhud di dunia, yang mencintai akhirat, yang ridha dengan ketetapan (takdir), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas cobaan, yang berjalan di bawah panji Nabi Muhammad SAW pada hari kiamat, yang masuk ke telaga (Nabi Muhammad), yang masuk surga, yang selamat dari neraka, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah dengan bidadari, yang mengenakan sutra, brokat, dan kain sutra tebal, yang memakan makanan surga, yang meminum susu dan madu yang murni, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang.”

Wirid dan Doa Penutup Sholat Witir

Setelah sholat Witir, dianjurkan untuk membaca wirid dan doa penutup. Beberapa bacaan yang umum adalah istighfar, syahadat, dan permohonan ampunan. Salah satu doa yang bisa dibaca adalah:

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.

Allahumma inna Nas’aluka Ridhaka wal Jannah wa Na’udzhubika min Sakhotika wannaar.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridhoan-Mu dan surga, dan kami berlindung dari murka-Mu dan siksa neraka.”

Selain itu, juga bisa membaca doa seperti yang diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW membaca: “Allahumma inī a’ūdzu bi ridhāka min sakhathika, wa bi mu’āfātika min ‘uqūbatika. Wa a’ūdzu bika minka, lā uhshī tsanā’an alayka anta kamā atsnayta ‘alā nafsika.” Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”

Dengan memahami dan mengamalkan doa serta tata cara sholat Tarawih dan Witir ini, diharapkan umat Islam dapat meraih keberkahan dan ampunan di bulan Ramadan, serta memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Leave a Comment