MIMBARJUMAT.COM – Pernahkah kamu membayangkan, suatu hari nanti, seluruh umat Islam di dunia merayakan Idul Fitri di hari yang sama? Bukan lagi perbedaan antara Indonesia, Arab Saudi, atau Australia.
Bukan lagi teka-teki setiap menjelang Ramadan, “Besok puasa atau lusa?” Inilah yang diperjuangkan oleh Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
KHGT adalah versi terbaru dari upaya panjang umat Islam menyatukan penanggalan. Prinsipnya sederhana tapi ambisius: satu hari, satu tanggal di seluruh muka bumi.
Artinya, tanggal 1 Syawal 1448 H nanti, misalnya, akan jatuh pada hari yang sama, baik di Mekah, Jakarta, New York, maupun Selandia Baru. Bayangkan betapa indahnya kebersamaan itu.
Kenapa Kita Butuh Kalender Global?
Selama ini, umat Islam menggunakan kalender lokal yang berbeda-beda. Akibatnya, terjadi perbedaan penetapan awal bulan. Ambil contoh 1 Syawal 1548 H (2124 M). Menurut KHGT, jatuh pada Jumat, 17 Maret 2124.
Tapi menurut kalender Kemenag, jatuh sehari kemudian. Sementara Muhammadiyah dan kalender Ummul Qura sepakat dengan KHGT, tapi Arab Saudi sendiri masih tergantung hasil rukyat.
Perbedaan ini bukan sekadar masalah administratif. Lebih dari itu, menyentuh ibadah. Puasa sunah Arafah, misalnya, sering tidak bertepatan dengan wukuf di Arafah karena perbedaan sistem penanggalan.
Padahal, Al-Quran surat Al-Mu’minun ayat 52 menegaskan, “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu.” Lalu, mengapa sistem manajemen waktunya berbeda-beda?
Parameter Istanbul 2016, Kesepakatan 60 Negara
Perjalanan menuju kalender global bukan perkara mudah. Butuh musyawarah panjang. Puncaknya, pada Kongres Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul, Turki, 28-30 Mei 2016. Ulama syariah dan astronom dari hampir 60 negara sepakat pada tiga parameter utama:
- Satu matlak global: Seluruh muka bumi dianggap satu kawasan, tidak terpecah jadi matlak lokal.
- Imkanur rukyat 5+8: Bulan baru dimulai jika ada kemungkinan hilal terlihat dengan ketinggian 5 derajat dan elongasi 8 derajat di suatu tempat sebelum pukul 00:00 UTC.
- Pengecualian untuk Amerika: Jika kriteria itu terjadi setelah pukul 00:00 UTC, bulan baru tetap dimulai dengan syarat mencapai daratan Amerika dan ijtimak di timur terjadi sebelum fajar.
Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, memilih mengadopsi parameter Istanbul ini. Alasannya kuat: legitimasi besar karena kesepakatan internasional. Membuat kriteria sendiri akan sulit mendapat pengakuan global.
Muhammadiyah dan Pilihan Strategis
Dalam Muktamar Ke-47 tahun 2015 di Makassar, Muhammadiyah telah menyatakan dukungan pada penyatuan kalender global. Keputusan ini ditegaskan kembali dalam Muktamar ke-48. Mereka menyusun KHGT 100 tahun ke depan (1444-1543 H).
Ada yang bertanya, kenapa tidak satukan dulu kalender dalam negeri, baru kemudian ke global? Pendekatan bertahap seperti ini justru dianggap kurang produktif. Mengubah sistem yang sudah mapan di tingkat lokal akan lebih sulit nantinya.
Alternatif yang lebih logis adalah langsung menerima kalender global. Dengan begitu, kita meraih dua keuntungan sekaligus: bersatu secara internal di Indonesia, dan sekaligus berkontribusi mengajak Muslim dunia mengikuti sistem yang sama. Ini adalah sumbangsih nyata Indonesia untuk peradaban Islam global.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Tentu saja, jalan menuju KHGT tidak mulus. Perbedaan tradisi, metode hisab dan rukyat, serta otoritas keagamaan di tiap negara jadi tantangan. Namun, semangat persatuan harus terus digaungkan.
Sosialisasi intensif perlu dilakukan. Masyarakat perlu literasi tentang konsep, arti penting, dan perlunya kalender global. Bukan untuk menghapus tradisi, tapi untuk mewujudkan visi besar: satu umat, satu kalender, satu hari raya.
KHGT adalah mimpi besar yang sedang diusahakan menjadi nyata. Mungkin tidak hari ini, mungkin tidak tahun depan. Tapi dengan niat kuat dan kerja sama semua pihak, satu abad mendatang, anak cucu kita bisa merayakan Idul Fitri bersama-sama, tanpa kebingungan menentukan tanggal. Itulah warisan terindah yang bisa kita tinggalkan.