MIMBARJUMAT.COM – Satu Ramadhan 2026 bertepatan dengan Gerhana Matahari Cincin, yang terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026. Fenomena ini terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, tetapi tidak menutupi sepenuhnya Matahari. Permukaan matahari yang tidak tertutup tersebut akan mengambil bentuk lingkaran seperti cincin. Di media sosial Instagram, ada cerita yang menyebutkan bahwa fenomena astronomi tersebut mungkin membuat lebih sulit untuk menemukan tanggal 1 Ramadhan 1447 Hijriah karena tidak dapat melihat hilal.
Seperti yang diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) dijadwalkan untuk mengamati hilal atau rukyat di 37 lokasi di seluruh Indonesia Selasa ini. Tahun Baru Islam 1447 Hijriah Dirayakan dengan cara yang berbeda, menurut artikel Kompas.id. Awal Ramadhan 1447 H diumumkan oleh sidang isbat berdasarkan hasil pengamatan dan data hisab. Apakah fenomena Gerhana Matahari Cincin membuat pengamatan hilal lebih sulit di Indonesia?
BRIN: Melihat gerhana Matahari Cincin tidak sulit.
Thomas Djamaluddin, seorang profesor Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa BRIN, mengatakan saat ditanyai bahwa fenomena Gerhana Matahari Cincin yang terjadi pada Selasa ini tidak memengaruhi ketampakan hilal. “Tidak, Gerhana Matahari Cincin hanya tanda Bulan sudah mendahului Matahari di bidang ekliptika atau bidang orbit Bumi.” Dia menambahkan bahwa jika hilal dapat dilihat, itu harus memenuhi kriteria tertentu, seperti jarak Indonesia saat ini mengikuti pedoman dan ketentuan dari Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Ketentuan terbaru MABIMS menetapkan bahwa tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat adalah awal bulan Ramadhan.
. Gerhana bukan penentu awal bulan
Thomas, bagaimanapun, memperkirakan bahwa penetapan awal Ramadhan tahun ini akan berbeda-beda tergantung pada kelompok masyarakat. Ini karena posisi hilal berbeda di Indonesia dan di seluruh dunia. “Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadhan 1447 H. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan antara ‘hilal lokal’ dan ‘hilal global’.”
Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan biasanya dilakukan melalui kombinasi metode hisab dan rukyat. Menurut Abu Rokhmad, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, penetapan yang dibuat pada 1 Ramadhan 2026, pemerintah memutuskan untuk menggunakan solusi al-jam’u wa at-taufiq, atau jalan tengah, untuk mengompromikan kedua metode yang sering menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat. Pemerintah secara aktif menggabungkan metode hisab dan rukyat dalam menentukan posisi hilal awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.
Abu menyatakan bahwa sidang Isbat telah berubah menjadi tempat diskusi ilmiah dan persetujuan untuk penentuan awal bulan. Dia menunjukkan bahwa teknik hisab bergantung pada perhitungan matematis-astronomis. Namun, metode rukyat bergantung pada pengamatan visual di berbagai lokasi.