Sejarah Imlek di Indonesia: Dari Larangan hingga Perayaan Meriah

MIMBARJUMAT.COM — Siapa sangka, Tahun Baru Imlek yang kini dirayakan meriah di berbagai penjuru Indonesia, pernah mengalami masa pembatasan yang cukup panjang. Tradisi yang identik dengan warna merah, lampion, dan barongsai ini sempat nyaris menghilang dari ruang publik.

Imlek telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Perayaan ini dibawa oleh komunitas Tionghoa yang datang dan menetap, sekaligus membawa budaya, adat, serta nilai-nilai tradisi leluhur mereka.

Namun, pada tahun 1967, pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan yang membatasi perayaan budaya Tionghoa di ruang publik. Sejak saat itu, Imlek hanya boleh dirayakan secara tertutup, seperti di rumah atau tempat ibadah. Berbagai simbol budaya, penggunaan bahasa, hingga perayaan tradisional tidak lagi leluasa ditampilkan.

Kebijakan tersebut berdampak besar pada kehidupan sosial masyarakat Tionghoa. Banyak generasi muda yang tumbuh tanpa kesempatan merayakan atau mengenal tradisi keluarga mereka secara terbuka. Perayaan yang seharusnya menjadi momen kebersamaan berubah menjadi sesuatu yang dilakukan secara diam-diam.

Titik balik terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, mencabut larangan terhadap ekspresi budaya Tionghoa. Keputusan ini membuka jalan bagi masyarakat untuk kembali mengekspresikan identitas dan tradisi mereka dengan bebas.

Tiga tahun kemudian, pada 2003, pemerintah secara resmi menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Kebijakan ini menjadi penanda penting lahirnya era baru penerimaan dan penghargaan terhadap keberagaman budaya di Indonesia.

Sejak saat itu, suasana Imlek kembali hidup di ruang publik. Festival Cap Go Meh digelar terbuka, atraksi barongsai tampil di pusat perbelanjaan, dan lampion merah menghiasi jalan-jalan kota.

Kini, Imlek tidak lagi dipandang sebagai perayaan milik satu kelompok saja. Ia telah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional yang dirayakan bersama.

Sejarah ini mengingatkan kita bahwa kebebasan merayakan tradisi adalah tanda tumbuhnya penghargaan terhadap perbedaan. Kemeriahan Imlek hari ini menyimpan kisah panjang tentang perjuangan identitas dan penerimaan, sekaligus menjadi simbol bahwa harmoni tercipta ketika keberagaman diberi ruang untuk hidup berdampingan.

Penulis: Muhammad Yasir Rizqi

Leave a Comment