MIMBARJUMAT.COM — Penyakit ain dalam Islam merujuk pada pengaruh buruk yang terjadi akibat pandangan yang disertai rasa kagum berlebihan, iri, atau dengki terhadap seseorang. Konsep ini dikenal dalam ajaran Islam dan ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalil tentang Ain
Buya Yahya menjelaskan dalam salah satu ceramahnya, yang dilansir mimbarjumat.com pada 16 Februari 2026 dari YouTube Al-Bahjah TV, bahwa Nabi Muhammad SAW menyebut ain sebagai al ‘ainu haqqun.
“Al ‘ainu haqqun, kata Baginda Nabi SAW. Ain itu benar adanya,” jelas Buya Yahya.
Sebagian ulama juga mengaitkan ain dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Qalam ayat 51, yang menyebutkan bahwa orang-orang kafir hampir “menggelincirkan” Nabi dengan pandangan mereka. Namun, mayoritas ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan kuatnya kebencian dan kedengkian, bukan secara eksplisit membahas ain.
Selain itu, dalam Surah Al-Falaq ayat 5, Allah berfirman: “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa kedengkian dapat membawa dampak buruk, sehingga umat Islam dianjurkan untuk selalu berlindung kepada Allah.
Penyebab Ain
Ain umumnya dikaitkan dengan rasa iri atau dengki (hasad), kekaguman tanpa menyebut nama Allah, atau niat buruk terhadap orang lain.
Namun, penting dipahami bahwa tidak setiap pujian atau tatapan otomatis menyebabkan ain. Islam tidak mengajarkan kecurigaan berlebihan terhadap sesama.
Cara Melindungi Diri dari Ain
Beberapa langkah yang dianjurkan dalam Islam untuk melindungi diri dari ain antara lain:
1. Membaca Surah Al-Falaq dan An-Naas (Al-Mu’awwidzatain).
2. Memperbanyak zikir dan doa perlindungan.
3. Mengucapkan “MasyaAllah” ketika melihat sesuatu yang mengagumkan.
4. Menjauhi sikap iri dan dengki terhadap orang lain.
Ain diakui dalam ajaran Islam berdasarkan hadis sahih. Namun, pemahamannya harus proporsional dan tidak berlebihan. Islam menekankan pentingnya menjaga hati dari hasad, memperkuat diri dengan doa, dan bertawakal kepada Allah.
Penulis: Hafiz Reyfansyah