Mengenal Asal-Usul Zodiak: Dari Rasi Bintang hingga Ramalan Masa Kini

MIMBARJUMAT.COM — Zodiak sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu. Sistem ini bukan sekadar ramalan mingguan di media sosial, melainkan warisan peradaban kuno yang berakar pada pengamatan langit secara serius. Untuk memahami asal-usulnya, kita perlu menelusuri sejarah hingga ke wilayah Mesopotamia kuno.

Awal Mula di Babilonia

Konsep zodiak pertama kali berkembang di peradaban Babilonia sekitar abad ke-5 sebelum Masehi. Bangsa Babilonia adalah pengamat langit yang teliti. Mereka memperhatikan bahwa Matahari, Bulan, dan planet-planet bergerak di jalur yang sama di langit. Jalur ini kini dikenal sebagai ekliptika.

Untuk mempermudah pengamatan, jalur tersebut dibagi menjadi 12 bagian yang sama besar. Setiap bagian dikaitkan dengan rasi bintang tertentu. Pembagian inilah yang menjadi dasar 12 tanda zodiak yang kita kenal sekarang, seperti Aries, Taurus, hingga Pisces.

Angka 12 dipilih bukan tanpa alasan. Bangsa Babilonia menggunakan sistem bilangan berbasis 60, dan angka 12 mudah dibagi dalam sistem tersebut. Selain itu, dalam satu tahun terdapat sekitar 12 siklus bulan.

Perkembangan di Yunani Kuno

Sistem ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh bangsa Yunani. Istilah “zodiak” berasal dari bahasa Yunani zōdiakos kyklos, yang berarti “lingkaran hewan”, karena banyak rasi yang dilambangkan dengan makhluk hidup.

Tokoh penting dalam penyebaran astrologi adalah Claudius Ptolemy, seorang astronom dan matematikawan abad ke-2 Masehi. Melalui karyanya, Tetrabiblos, ia menyusun sistem astrologi yang lebih terstruktur dan berpengaruh besar terhadap tradisi astrologi Barat hingga kini.

Pada masa itu, astronomi dan astrologi belum terpisah. Pengamatan langit dilakukan bukan hanya untuk memahami pergerakan benda langit, tetapi juga untuk menafsirkan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Mengapa Tetap 12 Zodiak?

Secara astronomi modern, sebenarnya terdapat 13 rasi bintang yang dilalui Matahari, termasuk Ophiuchus. Namun sistem zodiak klasik tetap menggunakan 12 tanda agar sesuai dengan pembagian kalender dan tradisi yang telah mapan sejak ribuan tahun lalu.

Selain itu, akibat pergeseran sumbu Bumi (precession), posisi rasi bintang saat ini tidak lagi sama persis dengan pembagian zodiak kuno. Meski begitu, astrologi Barat tetap menggunakan sistem pembagian tradisional yang disebut zodiak tropis.

Astrologi dan Ilmu Pengetahuan

Di era modern, astronomi berkembang menjadi ilmu sains yang berbasis observasi dan perhitungan matematis. Sementara itu, astrologi dianggap sebagai sistem kepercayaan atau simbolik, bukan cabang ilmu ilmiah.

Meski demikian, zodiak tetap populer di berbagai budaya. Banyak orang menggunakannya sebagai sarana refleksi diri, hiburan, atau bagian dari tradisi budaya.

Penulis: Hafiz Reyfansyah

Leave a Comment