MIMBARJUMAT.COM – Masyarakat Nusantara dari Sabang hingga Merauke menyambut datangnya Ramadhan 1447 Hijriah dengan menggelar tradisi Munggahan, sebuah ungkapan rasa syukur dan kebersamaan yang khas.
Tradisi yang berakar kuat dalam budaya Sunda dan Jawa ini kini semakin meluas, diadopsi oleh berbagai komunitas muslim lokal sebagai wujud pelestarian nilai-nilai Islam dalam bingkai kearifan lokal.
Berdasarkan perhitungan kalender, Munggahan umumnya berlangsung pada tanggal 16 hingga 17 Februari 2026, yakni satu atau dua hari sebelum awal Ramadhan yang diperkirakan jatuh pada 18–19 Februari 2026 sesuai dengan penetapan PP Muhammadiyah maupun pemerintah.
Di berbagai daerah, jutaan keluarga larut dalam suasana kebersamaan dengan menggelar jamuan makan besar yang dikenal sebagai “punggahan” atau “botram”, diikuti kegiatan membersihkan tempat tinggal, berziarah ke makam leluhur, serta saling bermaaf-maafan.
Semua rangkaian ini mengandung makna mendalam sebagai simbol “unggah” atau peningkatan derajat spiritual menuju bulan penuh berkah.
Secara filosofis, Munggahan bukanlah sekadar ajang kuliner semata, melainkan mengandung pesan peningkatan kualitas keimanan. Istilah “munggah” yang berasal dari bahasa Sunda dan Jawa berarti naik, menggambarkan harapan agar setiap muslim dapat menggapai tingkatan ibadah yang lebih baik selama menjalankan puasa Ramadhan. Berbagai kegiatan khas yang mewarnai tradisi ini antara lain:
- Makan Bersama (Botram/Liwetan)
Kebersamaan keluarga, tetangga, dan kerabat terjalin erat melalui hidangan khas seperti nasi liwet, ikan asin, lalapan, sambal, tahu-tempe goreng, dan aneka lauk lainnya yang disantap di atas alas daun atau tikar. Aktivitas ini merepresentasikan rasa syukur dan keakraban sosial.
- Saling Memaafkan
Munggahan menjadi momentum penting untuk saling meminta dan memberi maaf antaranggota keluarga, tetangga, maupun sahabat. Hal ini mencerminkan upaya membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antarmanusia sebelum memasuki bulan suci.
- Doa Bersama
Rangkaian acara selalu diiringi doa kolektif agar ibadah puasa selama Ramadhan berjalan lancar, penuh berkah, serta memohon keselamatan, kesehatan, dan ampunan dari Allah SWT.
- Ziarah Kubur
Sebagian keluarga menyempatkan diri mengunjungi makam orang tua atau leluhur sebagai bentuk refleksi spiritual dan pengingat akan kehidupan setelah mati, sehingga menambah dimensi religius dalam menyambut Ramadhan.
- Membersihkan Rumah dan Tempat Ibadah
Di sejumlah wilayah, tradisi Munggahan juga diisi dengan kegiatan membersihkan tempat tinggal serta masjid atau mushola. Hal ini dimaknai sebagai simbol pembersihan lahir dan batin demi menyongsong datangnya bulan mulia.
Dari sudut pandang tekstual, istilah Munggahan memang tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis. Namun, setiap unsur kegiatan yang menyertainya memiliki landasan dalam ajaran Islam. Misalnya, praktik ziarah kubur yang menjadi bagian dari tradisi ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah).” (HR. Hakim)
Kegiatan membersihkan lingkungan dan makam juga seiring dengan ajaran Islam tentang pentingnya menjaga kebersihan. Lingkungan yang bersih akan memudahkan masyarakat berziarah dan mengambil pelajaran tentang kehidupan akhirat. Adapun tradisi makan bersama sarat akan nilai berbagi dan mempererat tali silaturahmi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturahmi, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan sejahtera.” (HR. At-Tirmidzi)
Menurut sejumlah pandangan, tradisi Munggahan dapat dikategorikan sebagai sikap adaptive-complement, yakni penerimaan terhadap praktik budaya lokal selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai fundamental Islam. Dengan demikian, tradisi ini tetap terpelihara sekaligus memperkaya khazanah keislaman Nusantara.