skinbea.com/21/ – Tren yang berkembang belakangan ini yakni awakening, dimensi kesadaran, channeling, manifestasi hingga clearing energi, kerap dikaitkan dengan aspek spiritual.
Namun, terkadang tren tersebut tidak sesuai dengan prinsip agama. Sebab, spiritualitas bukan hanya mengenai pengalaman mistis atau kemampuan supranatural.
Spiritualitas mesti dimaknai dengan upaya sungguh-sungguh membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Imam Al Ghazali menyatakan bahwa iblis bisa menipu orang beriman lewat rasa bangga, kesan spiritual hingga pujian.
Oleh karena itu mari mendalami apa yang dimaksud spiritualitas semua agar tidak tertipu dan terjebak pada aspek ego.
Spiritualitas Semu, Apa Itu?
Spiritualitas semu adalah keyakinan yang tidak didasari pada esensi atau tujuan spiritual sesungguhnya. Melainkan sebatas ego yang bersifat dangkal, tidak tulus, dan berpotensi menyesatkan.
Biro Psikologi Pendekatan Tokoh Islam (PPTI Indonesia) memberikan penjelasan bahwa yang membedakan spiritualitas sesungguhnya terletak pada ajaran esoteris dari tradisi agama yang otentik.
Kemudian didasari para guru spiritual yang benar. Sehingga seseorang dapat menemukan jati diri dengan komitmen mendekatkan diri kepada tuhan dan membersihkan jiwa.
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” QS Al Ankabut (29):69.
Tipu Daya Iblis
Dalam Asnaful Maghrurin karya Imam Al Ghazali dijelaskan bahwa iblis sangat pandai menipu manusia.
Bahkan mereka yang tampak saleh, dermawan, ilmuwan, ahli ibadah hingga pelaku spiritual.
Ciri tipu daya iblis muncul ketika seseorang merasa beberapa hal ini;
- Merasa berbangga diri dan haus pujian
- Mengejar materi lewat jalan spiritual
- Mengaku-ngaku sebagai titisan Ilahi atau wali
- Menyepelekan syariat
- Terjebak dalam pengalaman mistis yang menipu
Berikut adalah contoh perilaku spiritualitas semu;
1. Ritual tanpa akhlak; Ibadah tampak sempurna, tetapi perilaku tetap buruk.
2. Narsisis spiritual; Merasa paling suci dan istimewa, haus validasi atau pengakuan, manipulatif dan kurang empati.
3. Kenetangan instan; Menutupi luka batin dengan spiritualitas bukan berani menghadapi diri sendiri.
4. Mengejar sensasi; Tergoda dengan pencerahan yang instan, keajaiban atau praktik yang menyimpang.
5. Penampilan rohani palsu; Mengutip ayat atau simbol agama demi citra rohani tanpa benar-benar memahami dan tulis.
Sejatinya Pencerahan tak pernah instan
Pencegahan spiritual tidak terjadi seketika dan dimensinya tak terbatas.
Rasullah SAW bersabda; “Allah memiliki 70.000 hijab cahaya dan kegelapan. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya Wajah-Nya akan membakar siapa pun yang memandang-Nya.”
Dalam Islam, ilmu yang membahas mengenai spiritualitas disebut dengan Tasawuf. Semakin murni spiritual seseorang, semakin nyata ahlaknya dan semakin dekat ia meneladani Nabu Muhammad SAW.
Tasawuf mengajarkan hal sebagai berikut;
- Zikir dan kontemplasi yang konsisten
- Berpegang teguh kepada syariat
- Menghias diri dengan sifat mulia seperti tulis, rendah hati, ridha, kasih sayang, seimbang.
- Belajar dari guru yang memiliki otoritas.
- Meneladani kisah dan nasihat orang saleh.
Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa spiritualitas sejati bukan tentang sensasi. Tetapi tentang ketulusan hati.
Nah itulah penjelasan mengenai spiritualitas semu yang membuat kita patut untuk waspada.