MIMBARJUMAT.COM – Mahasiswa sering dianggap sebagai agen perubahan dan simbol harapan bagi masa depan bangsa. Namun, penting diingat bahwa mereka tetap manusia biasa, bukan sosok sempurna dengan kekuasaan tak terbatas. Beban yang diberikan untuk menjadi agen perubahan sering tidak seimbang dengan dukungan yang diterima.
Di negara yang penuh kontradiksi, banyak hal tampaknya bisa diperoleh dengan uang, termasuk hukum yang sering berpihak pada orang kaya. Akibatnya, perjuangan tulus mahasiswa dan masyarakat luas sering kali kurang mendapatkan perhatian yang seharusnya.
Peran Mahasiswa dalam Masyarakat
Peran sebagai agen perubahan seharusnya melibatkan semua elemen masyarakat. Pemerintah seharusnya menjadi wahana aspirasi rakyat, bukan sekadar bersikap sopan santun tanpa mendengar kekhawatiran masyarakat.
Mahasiswa yang sudah menyelesaikan studi tidak bisa terlalu bergantung pada pemerintah. Banyak kebijakan lebih menguntungkan kelompok tertentu, sementara rakyat tetap menghadapi kondisi yang tidak adil. Hal ini menciptakan dilema: mahasiswa diharapkan kritis, namun juga harus menghadapi kenyataan peluang kerja yang terbatas dan persaingan yang ketat.
Pentingnya Sikap Realistis
Dalam situasi seperti ini, bersikap realistis sangat penting. Tidak ada salahnya mengambil peluang kerja yang ada, daripada diam dan hanya menjadi bagian dari kelompok yang terpengaruh kebijakan pemerintah tanpa kepastian.
Stereotip tentang Generasi Z yang dianggap kurang serius dalam bekerja juga perlu diluruskan. Meski beberapa individu mungkin sesuai gambaran itu, tidak adil menggeneralisasi seluruh generasi. Generasi Z tumbuh di era digital dengan peluang dan tantangan unik. Mereka cepat beradaptasi, menguasai teknologi, dan mampu menciptakan inovasi yang mengubah pola kerja.
Kolaborasi dan Pengembangan Diri
Mahasiswa dan sarjana muda tidak perlu merasa rendah diri meski generasi sebelumnya tidak sepenuhnya mendukung. Penting untuk terus berjuang mencapai cita-cita, menerapkan prinsip kerja yang fleksibel, dan menjalankan aktivitas bisnis secara benar dan bermoral.
Membangun jaringan hubungan yang kuat dan saling mendukung juga penting. Kolaborasi antara mahasiswa, alumni, dan profesional membuka peluang baru dan menciptakan ekosistem yang lebih baik. Pendidikan tidak berhenti setelah lulus; keterampilan dan pengetahuan harus terus dikembangkan agar relevan di dunia kerja yang selalu berubah.
Kesimpulan
Menjadi mahasiswa yang realistis bukan berarti menyerah pada impian. Justru, sikap ini membantu menghadapi tantangan dengan bijak. Dengan realistis, setiap rintangan bisa diubah menjadi peluang, dan bersama-sama kita dapat membangun masa depan lebih baik. Perubahan sejati dimulai dari diri sendiri, melalui perjuangan, inovasi, dan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Penulis: Rizki Saputro, S. Hum