MIMBARJUMAT.COM – Kisah Menara Babel dikenal luas dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Cerita ini mengisahkan bagaimana manusia membangun sebuah menara tinggi hingga ke langit, kemudian bahasa mereka dikacaukan oleh Tuhan sehingga mereka tercerai-berai. Pertanyaannya, apakah kisah serupa disebutkan dalam Islam dan Al-Qur’an?
Kisah Menara Babel dalam Alkitab
Dalam Kitab Kejadian (Genesis 11:1–9), diceritakan bahwa setelah peristiwa Air Bah pada masa Nabi Nuh, seluruh manusia berbicara dengan satu bahasa yang sama. Mereka kemudian membangun sebuah kota dan menara di tanah Sinear (diidentifikasi sebagai wilayah Babilonia).
Tujuan pembangunan menara ini adalah agar manusia menjadi terkenal dan tidak tercerai-berai. Namun, Tuhan mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak lagi saling memahami. Akibatnya, proyek pembangunan berhenti, dan manusia tersebar ke berbagai penjuru bumi. Peristiwa ini diyakini sebagai asal-usul keberagaman bahasa.
Apakah Kisah Ini Ada dalam Al-Qur’an?
Secara langsung, Al-Qur’an tidak menyebut kisah Menara Babel seperti dalam Alkitab. Tidak ada ayat yang menceritakan sekelompok manusia membangun menara lalu bahasa mereka dikacaukan.
Namun, ada beberapa ayat yang menyinggung pembangunan bangunan tinggi, meski dalam konteks berbeda. Misalnya, kisah Firaun yang memerintahkan Haman untuk membangun bangunan tinggi agar ia bisa melihat Tuhan Nabi Musa.
• QS. Al-Qashash ayat 38 menyebutkan Firaun berkata kepada Haman agar dibuatkan bangunan tinggi.
• QS. Ghafir ayat 36–37 memuat cerita serupa.
Dalam kasus ini, Firaun menunjukkan kesombongan dan menantang ajaran Nabi Musa. Meski sama-sama menyebut bangunan tinggi, mayoritas ulama menjelaskan bahwa kisah ini berbeda dengan Menara Babel: tokoh, lokasi, dan konteksnya tidak sama.
Bagaimana Islam Menjelaskan Perbedaan Bahasa?
Dalam Al-Qur’an, perbedaan bahasa tidak dijelaskan sebagai hukuman, melainkan sebagai tanda kebesaran Allah.
QS. Ar-Rum ayat 22 menyebutkan bahwa perbedaan bahasa dan warna kulit manusia termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah.
Artinya, dalam perspektif Islam, keberagaman bahasa merupakan bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah), bukan akibat dari satu peristiwa tertentu seperti dalam kisah Babel versi Alkitab.
Perspektif Sejarah
Secara historis, kota Babilonia memang pernah ada dan memiliki bangunan bertingkat bernama ziggurat. Beberapa peneliti mengaitkan kisah Menara Babel dengan ziggurat besar di Babilonia. Namun, tidak ada bukti arkeologis yang menunjukkan peristiwa “pengacauan bahasa” secara literal.
Dalam Islam sendiri, kisah Menara Babel tidak menjadi bagian dari narasi utama sejarah para nabi sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an.
Jadi, benarkah kisah Menara Babel ada dalam Islam? Jawabannya: tidak secara eksplisit. Al-Qur’an tidak menceritakan kisah tersebut seperti dalam Alkitab. Yang ada hanyalah kisah Firaun membangun bangunan tinggi, tetapi dengan konteks dan makna yang berbeda.
Penulis: Hafiz Reyfansyah