skinbea.com/21/ – Tak hanya dengan Banten, ternyata antara Cirebon dan Lampung pun ada pertalian saudara yang erat. Bagi masyarakat Lampung, Cirebon dianggap sebagai saudara tua.
Yang mengungkap fakta tersebut adalah mantan Gubernur Lampung, Drs Sjahroedin ZP SH. Hal tersebut seperti yang ditulis sastrawan Lampung, Isbedy Stiawan ZS.
Dalam tulisannya yang berjudul “Persaudaraan Cirebon – Banten – Lampung sudah berlangsung 450 Tahun” itu mengulas kunjungan Sjahroedin ZP ke Cirebon dan Banten pada tahun 2007 lalu.
Purnawirawan Jenderal Polisi melakukan kunjungan tersebut mewakili Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL). Di antaranya berkunjung ke Keraton Kanoman dan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Selain itu, juga mengunjungi Kesultanan Banten dan Desa Cikoneng Banten.
Ketika itu berkunjung ke Keraton Kanoman, Gubernur Lampung diterima oleh Pangeran Mohammad Emiruddin. Pada pertemuan itulah, Sjahroedin mengungkapkan kedekatan antara Lampung dan Cirebon.
Dia mengatakan jika Cirebon adalah saudara tertua bagi Lampung. Oleh karena itu, ikatan persaudaraan tersebut harus lebih ditingkatkan lagi pada masa-masa sekarang hingga mendatang.
“Artinya, jika Cirebon ‘diserang’ maka Cirebon berada di depan dan Lampung di belakang. Begitu sebaliknya, jika Lampung diserang, Cirebon di belakang dan Lampung berada di depan,” ujar Sjahroedin, ketika itu seperti yang ditulis Isbedi Stiawan.
Apa dasarnya? Menurut Sjahroedin, ketika Sultan Syarif Hidayatullah melakukan penyebaran Islam di Banten, sempat singgah di Lampung. Ketika di Bumi Lada tersebut, Sunan Gunung Jati menikahi muli (perempuan) Lampung bernama Ratu Sinar Alam.
Setelah menikah, ungkap mantan petinggi Polri ini, sultan kembali ke Banten. Kemudian membawa masyarakar Lampung dari 40 pekon (desa) untuk membantu penyebaran agama dan melawan penjajah.
Dikatakannya, warga Lampung yang selamat mencapai Banten kemudian berjuang habis-habisan membantu sultan. Karena kegigihan orang Lampung, yang masih hidup kemudian dihadiahi sepertiga Banten.
Wilayah Banten yang dijadikan hadiah untuk warga Lampung tersebut bernama Cikoneng. Hingga sekarang, di wilayah itu masih kental dengan bahasa dan budaya Lampung.
Surat wasiat Sultan Gunung Jati, menurut M Furqon, orang Lampung beberapa generasi dari Cikoneng Banten, sekarang berada di Belanda.
“Saat kini, orang Banten asal Lampung hanya menempati 4 desa di kawasan Anyer Banten, yaitu Cikoneng, Tegal, Bojong, dan Duhur,” jelas Sjahroedin ZP.
Oleh karena itu, merujuk Sultan Syarif Hidayatullah, Gubernur Lampung ketika itu menyimpulkan antara Lampung dan Cirebon sesungguhnya bersaudara.
Karenanya, kunjungan ke Cirebon dan Banten tersebut, ibarat pepatah: ingin mempersatukan kembali balung pisah (tulang yang berserakan, persaudaraan yang terpisah jarak). Atau, hendak mengikat tali yang sempat putus.
“Hubungan kekerabatan ini, sebaiknya tak hanya adat atau budaya yang kembali diikat. Melainkan dalam hal lain, misalnya pembangunan, kalau mungkin dapat bekerja sama,” kata Sjachroedin.