skinbea.com/21/ – Kabupaten Garut semakin mudah dijangkau berkat jaringan kereta api yang selatan Jawa.
Pada Jumat, 26 September 2025, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengumumkan rencana revitalisasi besar-besaran untuk Stasiun Garut dan Stasiun Cibatu, dua stasiun utama yang menjadi tulang punggung transportasi di wilayah ini.
Di tengah lonjakan wisatawan pasca-pandemi, stasiun-stasiun ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tapi juga ikon sejarah.
Stasiun Garut, yang terletak di pusat kota Garut tepat di Jalan Asia Afrika, adalah salah satu stasiun tertua di Jawa Barat.
Dibangun pada tahun 1897 oleh Belanda sebagai bagian dari jalur kereta api Bandung – Garut, stasiun ini awalnya dirancang untuk mengangkut hasil pertanian seperti teh dan kopi dari perkebunan sekitar.
Arsitekturnya yang bergaya kolonial dengan atap genteng merah dan dinding bata ekspos masih terlihat kokoh hingga kini, meski telah mengalami renovasi berkali-kali.
Setiap hari, ribuan penumpang naik-turun di sini, terutama rute commuter line dari Bandung yang hanya memakan waktu sekitar satu jam.
Menurut Kepala Stasiun Garut, Budi Santoso, “Stasiun ini bukan hanya tempat transit, tapi juga pusat kegiatan sosial. Di masa lalu, petani membawa hasil panennya ke sini, dan sekarang, wisatawan datang untuk menikmati dodol dan pegunungan Cangkuang.”
Tidak jauh dari sana, Stasiun Cibatu menjadi ‘jantung’ transportasi Garut yang lebih besar.
Terletak di Kecamatan Cibatu, sekitar 10 kilometer dari pusat kota, stasiun ini dibuka pada 1885 dan merupakan salah satu stasiun tersibuk di jalur lintas selatan Jawa Barat.
Cibatu sering disebut sebagai “Gerbang Garut” karena menjadi titik singgah utama kereta api jarak jauh seperti Argo Parahyangan menuju Yogyakarta atau kereta lokal ke Tasikmalaya.
Fasilitasnya lebih modern dibandingkan Stasiun Garut, dengan peron yang luas, toilet bersih, dan bahkan area parkir untuk bus wisata.
Pada 2024 lalu, jumlah penumpang di Stasiun Cibatu mencapai 1,5 juta orang, naik 25% dari tahun sebelumnya, berkat integrasi dengan transportasi online seperti Gojek dan Grab yang kini beroperasi di halaman stasiun.
Sejarah stasiun di Garut tak lepas dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat masa pendudukan Jepang pada 1942-1945, jalur kereta ini digunakan untuk mengangkut pasukan dan barang logistik, sementara warga Garut sering memanfaatkannya untuk pergerakan bawah tanah.
Pasca-kemerdekaan, stasiun-stasiun ini menjadi simbol pembangunan nasional, dengan elektrifikasi jalur yang dimulai pada 2010-an.
Kini, di era digital, KAI sedang mengimplementasikan sistem tiket online dan aplikasi KAI Access yang memudahkan pembelian tiket dari ponsel.
Revitalisasi yang diumumkan baru-baru ini mencakup penambahan fasilitas ramah disabilitas, Wi-Fi gratis, dan bahkan kafe kecil yang menjajakan makanan khas Garut.
Peran stasiun di Garut semakin krusial di tengah pertumbuhan ekonomi daerah. Garut, dengan potensi wisata alam seperti Situ Cangkuang dan Kampung Dodol Sukaregang, mengandalkan kereta api untuk mendatangkan 40% wisatawan dari luar Jawa Barat.
Namun, tantangan masih ada, seperti kemacetan di akses jalan menuju stasiun dan keterbatasan jadwal kereta malam hari. Pemerintah Kabupaten Garut merespons dengan program “Garut Kereta Api” yang mengintegrasikan stasiun dengan shuttle bus gratis ke destinasi wisata.
Selain itu, ada rencana pembangunan stasiun baru di pinggiran kota untuk mendukung proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang akan berdampak positif pada Garut.
Bagi traveler, stasiun di Garut menawarkan pengalaman autentik. Bayangkan turun dari kereta di Stasiun Garut saat senja, di mana aroma teh hijau dari perkebunan terdekat menyambut Anda, atau menunggu kereta di Cibatu sambil menikmati pemandangan sawah hijau.
Dengan revitalisasi ini, stasiun-stasiun tersebut diharapkan menjadi lebih dari sekadar titik transit—mereka akan menjadi jembatan yang menghubungkan wisatawan dengan keindahan Garut yang tersembunyi.
Jika Anda berencana berkunjung, pesan tiket sekarang juga, karena Garut siap menyambut dengan kereta yang nyaman dan cerita yang tak terlupakan.