Superbank IPO: Seberapa Aman Bank Digital yang Fokus UMKM Ini?

skinbea.com/21/ – Transformasi dunia perbankan digital di Indonesia terus bergerak cepat dan Superbank menjadi salah satu pemain yang kini mencuri perhatian. Bank yang sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Fama International ini resmi berganti identitas menjadi PT Super Bank Indonesia pada 2023, menandai langkah serius menuju layanan keuangan digital yang lebih inklusif.

Dengan satu kantor pusat dan dua kantor cabang yang berada di Jakarta dan Bandung, Superbank memfokuskan layanannya pada segmen UMKM dan ritel. Melalui pendekatan digital, bank ini menawarkan solusi pengelolaan keuangan serta akses pinjaman yang diklaim lebih sederhana, transparan dan fleksibel kebutuhan yang semakin relevan di tengah dinamika ekonomi digital.

Pertanyaan yang kerap muncul dari masyarakat adalah “apakah Superbank aman?”. Dari sisi regulasi, Superbank berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia serta terdaftar sebagai peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Artinya, dana nasabah tetap berada dalam kerangka perlindungan yang sama seperti bank-bank lain di Indonesia.

Kepercayaan pasar terhadap Superbank juga tercermin dari langkah korporasi terbarunya. Bank berkode saham SUPA ini tengah melangsungkan penawaran umum perdana (IPO) dengan target dana segar mencapai Rp 2,79 triliun.

Sebanyak 4,4 miliar saham setara 13% dari modal ditempatkan dilepas ke publik dengan harga penawaran Rp 635 per saham. Proses IPO dijadwalkan berlangsung hingga 15 Desember 2025, dengan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025.

Dari sisi valuasi, SUPA dinilai cukup kompetitif di antara bank digital lainnya. Price to Book Value (PBV) Superbank berada di level 2,64 kali, lebih rendah dibandingkan Bank Jago (ARTO) dan Allo Bank Indonesia (BBHI) yang masing-masing memiliki PBV 3,3 kali dan 4,3 kali. Meski demikian, valuasi SUPA masih berada di atas Bank Neo Commerce (BBYB) yang memiliki PBV sekitar 1,5 kali.

Jika melihat kekuatan aset, Superbank menempati posisi ketiga di jajaran bank digital dengan total aset mencapai Rp 17,7 triliun. Posisi teratas masih dipegang ARTO dengan aset Rp 34,5 triliun, disusul BBYB sebesar Rp 18,4 triliun. Menariknya, SUPA berhasil melampaui BBHI yang memiliki aset Rp 16,6 triliun.

Dalam lanskap industri bank digital per Juni 2025, Superbank juga menunjukkan daya saing yang solid. Dengan total penyaluran kredit sebesar Rp 8,3 triliun, SUPA menguasai 9,4% pangsa pasar dan berada di posisi ketiga.

Seabank memimpin dengan pangsa 29,3% dan kredit Rp 26 triliun, sementara ARTO berada di posisi kedua dengan pangsa 24,1% dan kredit Rp 21,4 triliun. SUPA unggul tipis dibandingkan BBYB dan BBHI yang berada di bawahnya.

Sejak bertransformasi menjadi bank digital, kinerja Superbank menunjukkan tren positif. Jumlah nasabah telah menembus angka 4 juta, dan pada kuartal pertama 2025, SUPA mencatatkan laba bersih kuartalan pertamanya sebuah tonggak penting menuju keberlanjutan bisnis. Tak hanya itu, manajemen juga menetapkan kebijakan dividen yang cukup agresif, dengan alokasi hingga 85% dari laba bersih.

Dengan pengawasan regulator, kinerja yang bertumbuh, serta strategi bisnis yang fokus pada kebutuhan UMKM dan ritel, Superbank mencoba menempatkan diri sebagai bank digital yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aman.

IPO yang tengah berlangsung menjadi ujian kepercayaan publik berikutnya, apakah pasar melihat Superbank sebagai pilihan yang layak dan berkelanjutan di tengah persaingan ketat perbankan digital Indonesia.

Leave a Comment