Riya di Zaman Digital: Ketika Amal Dipertontonkan

MIMBARJUMAT.COM – Riya adalah melakukan amal kebaikan dengan tujuan ingin dilihat, dipuji, atau diakui manusia. Dalam Islam, riya termasuk penyakit hati yang berbahaya karena dapat merusak pahala amal.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bahwa riya bukan perkara ringan. Ia disebut sebagai syirik kecil karena dalam amal tersebut terdapat niat selain Allah.

Media Sosial dan Ujian Keikhlasan

Di era media sosial, batas antara berbagi kebaikan dan mencari pujian menjadi semakin tipis. Seseorang dapat dengan mudah mengunggah sedekah yang ia lakukan, ibadah yang sedang dijalankan, atau aktivitas dakwah dan kebaikan sosial.

Pada dasarnya, semua itu boleh dan bahkan bisa menginspirasi orang lain. Namun pertanyaan terpenting adalah: untuk siapa amal itu dilakukan?

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 4–6, “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.”

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan demi dilihat manusia akan kehilangan nilainya di sisi Allah.

Apakah Semua Unggahan Amal Itu Riya?

Tidak selalu. Para ulama menjelaskan bahwa amal yang ditampakkan dapat bernilai ibadah jika niatnya untuk memberi contoh dan mengajak kepada kebaikan.

Namun, amal dapat berubah menjadi riya jika tujuan utamanya adalah mencari pengakuan dan pujian. Kuncinya terletak pada niat di dalam hati.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa nilai amal tidak ditentukan oleh jumlah “like”, komentar, atau pujian, melainkan oleh niat yang tersembunyi dalam hati.

Tanda-Tanda Riya di Media Sosial

Beberapa hal yang perlu diwaspadai antara lain merasa kecewa ketika tidak mendapat respons, lebih bersemangat beramal saat direkam atau dipublikasikan, serta sengaja menonjolkan diri dalam kebaikan. Jika hati terasa gelisah ketika tidak dilihat atau diapresiasi, mungkin ada niat yang perlu diluruskan kembali.

Penutup

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Yang menentukan nilainya adalah niat penggunanya. Di era digital, ujian keikhlasan justru menjadi lebih halus dan tersembunyi.

Riya tidak selalu tampak dari luar, tetapi bisa tumbuh perlahan di dalam hati. Karena itu, menjaga niat hari ini sering kali lebih menantang daripada menjaga amal itu sendiri.

Penulis: Hafiz Reyfansyah

Leave a Comment