MIMBARJUMAT.COM – Pada saat datangnya bulan Ramadan, wacana mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal kembali mengemuka sebagai topik hangat yang diperbincangkan. Gagasan ini mengusulkan agar umat Islam di berbagai penjuru dunia dapat menggunakan satu sistem penanggalan standar yang didasarkan pada perhitungan astronomis yang presisi, bukan lagi mengandalkan metode hisab-wuquf rukyatul hilal yang kerap menghasilkan perbedaan antarnegara.
Apa Itu Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)?
Kalender Hijriah Global Tunggal merupakan sebuah sistem penanggalan dalam Islam yang berpegang pada prinsip bahwa seluruh dunia hanya memiliki satu tanggal yang sama dalam satu hari. Prinsip fundamental yang menjadi landasannya adalah Kesatuan Matlak, yaitu memandang seluruh permukaan bumi sebagai satu kesatuan hukum.
Konsekuensinya, apabila syarat-syarat masuknya bulan baru telah terpenuhi di suatu kawasan di muka bumi, misalnya di Amerika atau Afrika, maka seluruh Muslim di dunia secara otomatis dianggap telah memasuki tanggal 1 pada bulan yang sama.
Mengapa Muhammadiyah Beralih ke KHGT?
Keputusan Muhammadiyah untuk mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal tentu didasari oleh pertimbangan yang matang. Melalui keputusan yang diambil dalam forum Muktamar, organisasi ini berpandangan bahwa umat Islam sudah saatnya memiliki sistem penanggalan yang menawarkan kepastian (certainty) dan memiliki cakupan yang mendunia. Beberapa argumentasi utama yang melatarbelakanginya antara lain:
Kepastian Waktu: Keberadaan KHGT memungkinkan jadwal ibadah seperti puasa dan Hari Raya Idulfitri dapat diprediksi hingga puluhan tahun ke depan dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Keadilan Global: Sistem ini menghilangkan kebingungan yang kerap dialami umat Muslim yang bermukim di wilayah-wilayah yang secara visual sulit untuk melakukan pengamatan hilal.
Penyatuan Umat: Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret untuk mewujudkan kalender Islam internasional yang terpadu, serupa dengan fungsi yang dijalankan Kalender Masehi dalam urusan-urusan sipil dunia.
Dampak pada Ramadan 2026
Pada tahun 2026 ini, implementasi pemikiran mengenai KHGT menjadi faktor yang menjelaskan mengapa Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan jatuh satu hari lebih cepat dibandingkan dengan penetapan dari pemerintah. Secara astronomis global, kriteria kemunculan hilal telah terpenuhi di wilayah benua Amerika pada tanggal 17 Februari.
Berdasarkan prinsip Kesatuan Matlak dalam KHGT, maka tanggal 18 Februari sudah harus dinyatakan sebagai 1 Ramadan untuk seluruh umat Islam di dunia. Di sisi lain, Pemerintah Indonesia masih berpegang pada kriteria MABIMS yang mengharuskan hilal dapat diamati secara fisik di wilayah Indonesia dengan standar ketinggian minimal 3 derajat.
Kalender Hijriah Global Tunggal yang digagas oleh Muhammadiyah merepresentasikan sebuah langkah maju dan progresif dalam menjawab tantangan perkembangan zaman.
Meskipun pada praktiknya saat ini masih dijumpai perbedaan dengan kriteria yang digunakan oleh pemerintah, KHGT menawarkan sebuah visi jangka panjang yang menjanjikan tentang keteraturan dan kesatuan waktu dalam menjalankan ibadah bagi umat Islam di seluruh pelosok dunia.