MIMBARJUMAT.COM – Kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari dentuman senjata, tetapi juga dari kekuatan kata dan keyakinan. Salah satu tokoh penting di balik gelora perjuangan itu adalah Hasyim Asy’ari. Melalui mimbar dan fatwa, ia membangkitkan semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Lahir pada 1871, Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama ahli hadis dan pendidik berpengaruh. Ia mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam terkemuka. Pada 1926, ia turut mendirikan Nahdlatul Ulama, organisasi yang berkomitmen menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus merespons dinamika sosial dan politik saat itu.
Sikap Tegas di Masa Penjajahan
Sejak era kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang, sikapnya konsisten membela martabat umat dan bangsa. Pada masa Jepang, ia sempat ditahan karena menolak praktik penghormatan kepada Kaisar yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Keberaniannya menunjukkan bahwa perjuangan dapat dilakukan tanpa mengangkat senjata.
Resolusi Jihad dan Kobaran Surabaya
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, ancaman belum berakhir. Pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda kembali datang ke Surabaya. Dalam situasi genting itu, pada 22 Oktober 1945, Hasyim Asy’ari bersama para ulama mengeluarkan seruan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.
Resolusi tersebut menetapkan bahwa membela kemerdekaan hukumnya wajib bagi umat Islam di wilayah terancam. Seruan ini membakar semangat rakyat dan menjadi salah satu pemicu perlawanan besar dalam Pertempuran Surabaya.
Sebagai penghormatan atas peran ulama dan santri, pemerintah kemudian menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Perjuangan Hasyim Asy’ari membuktikan bahwa mimbar bisa menjadi pusat perlawanan. Dari pesantren dan ruang pengajian, ia menanamkan keberanian, persatuan, dan cinta tanah air. Warisannya mengajarkan bahwa kemerdekaan dijaga bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan iman dan keteguhan sikap.
Penulis: Hafiz Reyfansyah