Tan Malaka: Hidup dalam Bayang-Bayang Demi Kemerdekaan

MIMBARJUMAT.COM – Tan Malaka adalah sosok revolusioner yang hidup penuh pengorbanan dan pelarian. Selama lebih dari dua dekade, ia menempuh jalan berbahaya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya lewat aksi bersenjata, tetapi juga gagasan dan jaringan internasional. Kehidupannya yang berpindah-pindah dan penuh penyamaran menunjukkan konsistensi luar biasa demi cita-cita kemerdekaan.

Aktivisme dan Pengasingan

Lahir di Sumatera Barat pada 1897 dengan nama Ibrahim Datuk Tan Malaka, ia mulai aktif dalam gerakan kiri menentang kolonialisme Belanda pada awal 1920-an.

Karena aktivitas politiknya, Tan Malaka ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada 1922. Pengasingan itu tidak menghentikan perjuangannya. Ia justru bergerak ke berbagai negara, termasuk Jerman, Rusia, Tiongkok, Filipina, dan kawasan Asia Tenggara, untuk menyebarkan gagasan anti-kolonial dan membangun dukungan internasional.

Nama Tan Malaka masuk daftar pengawasan aparat kolonial, dan selama hampir dua puluh tahun ia hidup berpindah-pindah dengan identitas samaran untuk menghindari penangkapan.

Gagasan tentang Kemerdekaan

Selain aktivis lapangan, Tan Malaka adalah pemikir yang visioner. Pada 1925, ia menulis buku Naar de Republiek Indonesia atau “Menuju Republik Indonesia”. Dalam karya ini, ia sudah merancang gagasan republik jauh sebelum Proklamasi 1945.

Ia menekankan kemerdekaan total tanpa kompromi yang melemahkan kedaulatan bangsa. Pendekatannya yang tegas dan berbeda dengan strategi diplomasi tokoh lain sering membuat posisinya kontroversial dalam politik nasional. Namun hal itu justru menegaskan konsistensinya terhadap prinsip perjuangan.

Kembali ke Indonesia dan Akhir Hidup

Setelah Proklamasi 1945, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan membentuk Persatuan Perjuangan, menuntut kemerdekaan 100 persen tanpa perundingan dengan Belanda.

Di tengah kompleksitas revolusi dan ketegangan politik, ia ditangkap dan pada 1949 dieksekusi di Jawa Timur. Peristiwa ini menjadi salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah revolusi Indonesia. Pada 1963, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional sebagai pengakuan atas kontribusinya.

Warisan dan Makna Perjuangan

Hidup Tan Malaka yang keras, penuh pengasingan dan pelarian panjang, menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari berbagai arus perjuangan.

Ia membuktikan bahwa perjuangan ideologis, meski dilakukan dalam bayang-bayang dan jauh dari sorotan, memiliki peran penting dalam membentuk bangsa yang merdeka.

Penulis: Hafiz Reyfansyah

Leave a Comment