MIMBARJUMAT.COM – Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga diri dari segala hal yang dapat membatalkannya. Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami apa saja yang bisa membuat puasa menjadi tidak sah agar ibadah tetap diterima dan bernilai pahala.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Puasa dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Agar tidak keliru, berikut delapan hal yang dapat membatalkan puasa.
1. Makan dan Minum dengan Sengaja
Mengonsumsi makanan atau minuman secara sadar pada siang hari Ramadhan membatalkan puasa. Puasa harus disempurnakan hingga waktu berbuka.
2. Muntah dengan Sengaja
Jika seseorang sengaja memuntahkan isi perutnya, puasanya batal. Namun jika muntah terjadi tanpa disengaja, puasa tetap sah.
3. Haid dan Nifas
Perempuan yang mengalami haid atau nifas tidak boleh berpuasa. Jika darah keluar saat sedang berpuasa, maka puasanya batal dan wajib diganti di hari lain.
4. Mengeluarkan Mani dengan Sengaja
Mengeluarkan mani secara sengaja, seperti melalui masturbasi, membatalkan puasa. Adapun mimpi basah tidak membatalkan karena terjadi tanpa kesadaran.
5. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari
Hubungan suami istri pada siang hari Ramadhan membatalkan puasa dan mewajibkan kafarat, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 187.
6. Merokok
Sebagian besar ulama berpendapat merokok membatalkan puasa karena asap yang masuk ke tubuh dilakukan dengan sengaja.
7. Murtad
Keluar dari agama Islam membatalkan puasa, karena iman merupakan syarat sah ibadah.
8. Hilang Akal
Orang yang kehilangan akal tidak lagi memenuhi syarat sah puasa. Dalam kondisi tersebut, ia tidak terbebani kewajiban.
Memahami hal-hal yang membatalkan puasa membantu kita menjaga ibadah tetap sah dan bernilai di sisi Allah. Semoga Ramadhan yang dijalani membawa kita semakin dekat kepada ketakwaan.
Penulis: Rizki Saputro