MIMBARJUMAT.COM – Dalam masa revolusi 1945–1949, perjuangan Indonesia tidak hanya terjadi di medan perang. Di balik layar, ada strategi diplomasi yang menentukan arah sejarah. Salah satu tokoh penting dalam perjuangan ini adalah Sutan Sjahrir.
Sjahrir dikenal sebagai intelektual dan diplomat yang berperan besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia internasional.
Menghadapi Agresi Militer Belanda
Pada Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I dengan alasan memulihkan “ketertiban”. Indonesia yang masih lemah secara militer tidak mungkin hanya mengandalkan perlawanan bersenjata. Sjahrir, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri, memilih jalur diplomasi untuk memperkuat posisi Indonesia.
Ia memahami bahwa dukungan internasional sangat penting. Karena itu, pemerintah Indonesia membawa masalah ini ke forum global, termasuk ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Langkah ini terbukti strategis. Dewan Keamanan PBB kemudian membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk memediasi konflik Indonesia–Belanda.
Strategi Moderat dan Realistis
Sjahrir dikenal sebagai tokoh yang moderat. Ia menolak cara-cara ekstrem dan berusaha menunjukkan bahwa Republik Indonesia adalah negara yang rasional serta siap berdialog. Pendekatan ini penting untuk membangun simpati dunia internasional, terutama dari negara-negara Barat.
Strateginya terlihat dalam proses menuju Perjanjian Linggarjati (1946), yang mengakui Republik Indonesia secara de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatra. Meski perjanjian ini tidak sempurna dan menuai kritik di dalam negeri, langkah tersebut memperkuat posisi diplomatik Indonesia.
Ketika Belanda kembali melancarkan Agresi Militer II pada 1948, tekanan internasional semakin besar terhadap Belanda. Dukungan dunia inilah yang akhirnya membuka jalan menuju Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949.
Perjuangan Sutan Sjahrir menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan strategi politik dan diplomasi yang cermat. Ia bekerja dari balik layar, membangun citra Indonesia sebagai negara merdeka yang sah dan layak diakui dunia.
Perjuangannya membuktikan bahwa kecerdasan, ketenangan, dan kemampuan bernegosiasi bisa menjadi senjata yang sama kuatnya dengan perlawanan fisik.
Penulis: Hafiz Reyfansyah