MIMBARJUMAT.COM — Tahun Baru Imlek merupakan salah satu tradisi tertua di dunia yang masih dirayakan hingga kini. Lebih dari sekadar pergantian tahun dalam kalender lunar, Imlek menjadi momen spiritual dan budaya untuk menata harapan akan keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran.
Di berbagai negara, termasuk Indonesia, masyarakat Tionghoa menyambut perayaan Imlek dengan penuh sukacita. Sejarahnya yang telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun menjadikan perayaan ini sebagai warisan budaya yang terus hidup dan berkembang lintas generasi.
Akar Imlek berasal dari tradisi agraris Tiongkok kuno. Pada masa itu, musim menentukan keberhasilan panen dan kelangsungan hidup. Pergantian tahun dipandang sebagai momen sakral yang menandai berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi, awal masa tanam baru.
Karena itu, Imlek juga dikenal sebagai Festival Musim Semi. Awalnya, perayaan ini diisi ritual penghormatan kepada dewa dan leluhur untuk memohon perlindungan serta kelimpahan hasil panen.
Sejak Dinasti Shang (1600–1046 SM), masyarakat menggunakan kalender lunar untuk menentukan waktu bercocok tanam dan pelaksanaan ritual. Kalender ini kemudian disempurnakan pada masa Dinasti Han (206 SM–220 M) dan ditetapkan sebagai sistem resmi pemerintahan. Penetapan tersebut memperkuat posisi Imlek dalam kehidupan sosial dan kenegaraan.
Karena mengikuti siklus bulan, tanggal Imlek dalam kalender Masehi selalu berubah. Biasanya jatuh antara 21 Januari hingga 20 Februari.
Imlek juga diperkaya legenda, salah satunya kisah makhluk buas bernama Nian yang muncul setiap pergantian tahun. Masyarakat dipercaya mengusirnya dengan warna merah, cahaya terang, dan suara keras.
Dari cerita inilah lahir tradisi lampion merah dan petasan. Warna merah pun identik dengan Imlek sebagai lambang keberuntungan dan kebahagiaan.
Perayaan berlangsung sekitar 15 hari. Dimulai saat bulan baru dan ditutup dengan Festival Lampion. Istilah “Imlek” sendiri berasal dari dialek Hokkien, yaitu “im” berarti bulan dan “lek” berarti kalender.
Di Indonesia, Imlek telah hadir sejak kedatangan komunitas Tionghoa. Tradisi ini sempat dibatasi pada masa Orde Baru.
Kemudian kembali diakui secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 yang menetapkannya sebagai hari libur nasional.
Bukan hanya sekadar perayaan, Imlek memuat nilai pembaruan dan kebersamaan. Tradisi makan malam keluarga, pemberian angpau, sembahyang leluhur, serta saling berkunjung mempererat hubungan antargenerasi dan memperkuat solidaritas sosial.
Perjalanan panjang Imlek menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat bertahan melewati perubahan zaman dan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Penulis: Ikhsan Tiaz Setiawan